Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Bukannya Membimbing, Askab PSSI Trenggalek Justru Ambil Alih Akun SSB

Zaki Jazai • Sabtu, 27 Juni 2026 | 12:03 WIB
Pemilik Srimp army football academy saat memberikan pernyataan
Pemilik Srimp army football academy saat memberikan pernyataan

 

WATULIMO, Radar Trenggalek – Polemik pengelolaan data pemain dalam aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) kian memanas. Pasalnya, Shrimp Army Football Academy mempertanyakan dalih Assosiasi Kabupaten (Askab) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Trenggalek yang mengambil alih akun klub dengan alasan ketidaksiapan pengurus Sekolah Sepak Bola (SSB) dalam mengelola sistem digital tersebut.

Pemilik Shrimp Army Football Academy, Anjar Priadi Putra, mengaku heran dengan pernyataan Askab yang menyebut langkah pengambilalihan akun dilakukan karena sebagian pengurus SSB dinilai belum mampu mengoperasikan aplikasi SIAP secara mandiri.

“Saya sudah mencermati pernyataan mereka. Askab berdalih mengambil alih akun karena menganggap pengurus SSB belum siap. Pertanyaannya, bukankah tugas mereka justru membimbing, bukan mengambil alih?” tegas Anjar.

Menurutnya, alasan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat. Pasalnya, Shrimp Army justru telah diakui sebagai salah satu klub yang mampu mengelola aplikasi SIAP secara mandiri sejak awal.

“Kalau kami dianggap mampu, kenapa akun kami tetap diambil alih? Kalau dianggap tidak mampu, apa indikatornya? Tidak pernah ada evaluasi, tidak ada pendampingan, bahkan sosialisasi pun baru dilakukan belakangan,” ujarnya.

Anjar menegaskan, persoalan ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan menyangkut kewenangan dan etika dalam pengelolaan administrasi klub. Ia menilai Askab seharusnya hadir sebagai pembina yang memberikan edukasi, bukan justru mengambil alih kontrol akun klub.

Lebih jauh, ia menyoroti bahwa tindakan tersebut berdampak serius terhadap data pemain. Sejumlah pemain disebut hilang dari database klub tanpa persetujuan manajemen.

“Ada perubahan data pemain tanpa izin. Status keanggotaan dicabut begitu saja tanpa pemberitahuan. Ini bukan hal sepele karena menyangkut masa depan pemain dan kepercayaan orang tua,” tegasnya.

Anjar juga menyinggung minimnya komunikasi dari pihak Askab. Tidak pernah ada forum audiensi atau pendampingan sebelum kebijakan pengambilalihan akun dilakukan.

“Kalau memang tujuannya membantu, harusnya ada pembinaan. Bukan langsung mengambil alih. Ini yang kami sayangkan,” katanya.

Meski secara pribadi telah menerima permohonan maaf dari Admin Askab, Anjar menegaskan persoalan organisasi belum selesai. Ia meminta ada kejelasan dan perbaikan sistem agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami ingin pembinaan sepak bola di Trenggalek berjalan sehat. Askab harus kembali pada fungsi utamanya sebagai pembina, bukan justru masuk terlalu jauh ke ranah internal klub,” pungkasnya.(Jaz) 

Editor : Zaki Jazai
#data #pemain #pssi #tanpa