JAKARTA, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Veda Ega Pratama menjadi salah satu pembalap yang paling banyak diperbincangkan usai balapan Moto3. Pembalap muda Indonesia tersebut berhasil bangkit dari posisi start ke-20 hingga finis di urutan kedelapan, sebuah hasil yang menarik perhatian pengamat balap motor.
Penampilan Veda Ega Pratama dinilai semakin impresif karena harus memulai balapan dari barisan belakang. Dalam transkrip video yang beredar di YouTube, posisi start tersebut disebut terjadi akibat kendala manajemen waktu tim saat sesi kualifikasi sehingga Veda gagal mencatatkan flying lap terbaik.
Sementara itu, rivalnya asal Malaysia, Hakim Danish, memulai balapan dari posisi yang lebih menguntungkan. Namun, hasil akhir menunjukkan perbedaan perjalanan kedua pembalap sepanjang race. Veda Ega Pratama mampu finis di posisi kedelapan, sedangkan Hakim Danish menutup balapan di urutan ketujuh.
Bangkit dari Posisi Belakang
Memulai balapan dari P20 bukan perkara mudah di kelas Moto3 yang dikenal memiliki persaingan sangat rapat. Pembalap yang berada di belakang harus menghadapi risiko terjebak insiden pada tikungan pertama sekaligus bekerja ekstra untuk menyalip rival satu per satu.
Meski demikian, Veda mampu memperbaiki posisinya secara konsisten sepanjang balapan. Dalam narasi video disebutkan bahwa pembalap Honda Team Asia tersebut berhasil melewati 12 pembalap hingga mengakhiri lomba di posisi kedelapan.
Video tersebut juga menyoroti teknik pengereman atau late braking yang disebut menjadi salah satu keunggulan Veda. Dengan karakter motor Honda yang dinilai kalah dalam kecepatan puncak dibanding motor KTM di lintasan lurus, kemampuan memanfaatkan area pengereman disebut menjadi modal penting untuk melakukan overtaking.
Hakim Danish Sempat Memimpin Balapan
Berbeda dengan Veda, Hakim Danish justru mengawali balapan dari posisi yang lebih kompetitif. Bahkan, pembalap Malaysia tersebut sempat memimpin jalannya balapan pada lap keempat.
Situasi tersebut membuka peluang besar bagi Danish untuk bersaing memperebutkan podium. Namun, memasuki pertengahan hingga akhir balapan, posisinya mulai merosot.
Dalam narasi video, kondisi itu dikaitkan dengan strategi balapan dan kemampuan menjaga ritme ketika mendapat tekanan dari pembalap lain. Akibatnya, Danish kehilangan sejumlah posisi hingga akhirnya finis di urutan ketujuh.
Meski demikian, tidak terdapat data resmi dalam transkrip yang menjelaskan penyebab pasti penurunan performa tersebut sehingga bagian tersebut merupakan analisis yang berkembang dalam video.
Perbandingan Kedua Pembalap Jadi Sorotan
Perbedaan hasil kedua pembalap Asia tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan berbagai pengamat balap sebagaimana disebutkan dalam video.
Narasi video menyebut bahwa Veda dinilai mampu memanfaatkan situasi sulit menjadi keuntungan melalui konsistensi dan efisiensi saat menyalip lawan. Sementara Hakim Danish disebut belum mampu mempertahankan posisi terdepan hingga garis finis.
Video juga mengemukakan pendapat bahwa kemampuan membaca racing line, menjaga ritme balapan, serta melakukan overtaking menjadi salah satu kekuatan Veda sepanjang balapan.
Namun, penilaian tersebut merupakan opini yang disampaikan dalam video dan belum didukung pernyataan resmi dari penyelenggara maupun tim peserta.
Potensi Veda Ega Pratama di Moto3
Di bagian akhir, video menilai Veda Ega Pratama memiliki potensi untuk bersaing lebih kompetitif apabila memperoleh paket motor dan tim yang mampu mendukung performanya sejak awal balapan.
Pendapat tersebut didasarkan pada kemampuan Veda memperbaiki posisi meski harus memulai dari barisan belakang. Sejumlah analisis dalam video menyebut pembalap Indonesia itu memiliki konsistensi, efisiensi saat melakukan overtake, dan kemampuan menjaga performa hingga akhir lomba.
Terlepas dari berbagai opini yang berkembang, hasil Moto3 kali ini menunjukkan pentingnya kombinasi antara kecepatan, strategi, pengelolaan ban, serta ketenangan menghadapi tekanan selama balapan. Veda Ega Pratama berhasil memaksimalkan peluang yang dimiliki, sementara Hakim Danish tetap mengamankan finis di posisi ketujuh setelah sempat memimpin jalannya race.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari