JAKARTA, TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Veda Ega Pratama mengawali rangkaian Moto3 Belanda 2026 dengan hasil yang jauh dari harapan. Pada sesi Free Practice (FP1) di Sirkuit Assen, pembalap muda Indonesia itu hanya mampu menempati posisi ke-23, memunculkan pertanyaan apakah performanya benar-benar menurun atau justru masih menyimpan potensi untuk sesi berikutnya.
Hasil tersebut langsung menjadi sorotan pecinta balap Tanah Air. Tak sedikit yang menduga Veda Ega Pratama sengaja belum menunjukkan kemampuan terbaiknya pada hari pertama. Dugaan itu muncul karena pembalap asal Gunungkidul tersebut dikenal sebagai rider yang lebih fokus mengumpulkan data sebelum tampil maksimal saat balapan utama.
Meski tercecer di papan bawah, peluang Veda Ega Pratama belum sepenuhnya tertutup. Karakter pembalap binaan Honda Team Asia itu selama ini dikenal adaptif dan kerap mengalami peningkatan signifikan menjelang sesi kualifikasi hingga race day.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Jadi Sorotan usai Moto3 Brno 2026, Performa Hakim Danish Ikut Dibahas
Assen Bukan Sirkuit Asing bagi Veda
Jika melihat catatan musim sebelumnya, Assen sebenarnya bukan lintasan yang asing bagi Veda. Saat masih tampil di Red Bull Rookies Cup 2024 menggunakan motor KTM, ia mampu finis di posisi keempat pada balapan pertama dan peringkat ketujuh pada race kedua.
Rekam jejak tersebut menjadi modal penting karena Veda sudah memahami karakter sirkuit legendaris yang dijuluki "Cathedral of Speed" itu. Namun, tantangan kali ini berbeda karena ia mengendarai Honda NSF250RW yang memiliki karakter mesin dan pengaturan berbeda dibanding motor KTM yang digunakan sebelumnya.
Adaptasi terhadap motor menjadi faktor penting yang diyakini memengaruhi performanya pada sesi latihan bebas.
Data FP1 Menunjukkan Veda Kesulitan di Semua Sektor
Berdasarkan catatan waktu setiap sektor, Veda mengalami kesulitan hampir di seluruh bagian lintasan.
Pada sektor pertama (T1), ia hanya menempati urutan ke-22 tercepat. Kondisi serupa berlanjut di sektor kedua yang justru menjadi titik terlemahnya dengan catatan waktu berada di posisi ke-25.
Padahal, sektor kedua Assen dikenal sebagai rangkaian tikungan cepat yang secara karakteristik dinilai cukup cocok untuk motor Honda.
Situasi belum banyak berubah di sektor ketiga maupun keempat. Veda hanya mampu berada di peringkat ke-18 dan ke-19, menunjukkan belum menemukan kombinasi setup dan feeling terbaik sepanjang sesi latihan.
Top Speed Masih Jadi PR Honda Team Asia
Selain catatan sektor, kecepatan puncak juga menjadi perhatian.
Motor Honda yang digunakan tim-tim lain sebenarnya tampil kompetitif. Beberapa pembalap Honda bahkan mendominasi posisi teratas baik dari sisi lap time maupun top speed.
Namun kondisi berbeda dialami Veda. Kecepatan maksimumnya hanya berada di kisaran 213 km/jam, menjadikannya salah satu pembalap Honda dengan top speed paling rendah pada sesi tersebut.
Fakta ini mengindikasikan masih ada pekerjaan rumah bagi Honda Team Asia untuk menemukan setting motor yang lebih sesuai dengan gaya balap Veda.
Meski demikian, selisih waktu antar pembalap sebenarnya sangat rapat. Jarak posisi pertama hingga peringkat ke-17 masih berada dalam rentang kurang dari satu detik sehingga peluang memperbaiki posisi masih terbuka lebar.
Karakter Veda Selalu Bangkit Saat Balapan
Performa kurang maksimal pada hari pertama bukan hal baru bagi Veda Ega Pratama.
Selama beberapa seri musim ini, pembalap berusia muda tersebut kerap mengalami kesulitan pada sesi latihan bebas. Namun saat memasuki kualifikasi hingga balapan utama, kecepatannya meningkat drastis.
Karakter itulah yang membuat banyak pengamat menyebut Veda sebagai "Sunday Rider", yakni pembalap yang mampu tampil jauh lebih kompetitif saat race berlangsung dibanding sesi latihan.
Karena itu, hasil FP1 belum bisa dijadikan tolok ukur kekuatan sebenarnya.
Moto3 Resmi Berubah Mulai 2028
Di sisi lain, Dorna juga mengumumkan perubahan besar untuk kelas Moto3 mulai musim 2028.
Motor bermesin 250 cc satu silinder akan digantikan oleh motor berbasis Yamaha YZF-R7 dua silinder. Mesin produksi massal tersebut akan dimodifikasi menggunakan komponen balap, termasuk sasis, elektronik, swingarm, hingga material magnesium agar bobotnya tetap ringan.
Keputusan itu diambil karena biaya pengembangan motor Moto3 saat ini dinilai terlalu tinggi serta pertarungan slipstream yang semakin sering memicu insiden di lintasan.
Sementara itu, fokus Veda kini tetap tertuju pada upaya memperbaiki performa di Assen. Dengan karakter adaptif yang dimilikinya, peluang untuk bangkit pada sesi kualifikasi maupun balapan utama masih sangat terbuka dan layak dinantikan oleh para penggemar balap Indonesia.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari