TRENGGALEK NJENGGELEK - Hasil kurang memuaskan ditunjukkan oleh pembalap muda Indonesia, Feda Ega Pratama, pada sesi free practice Moto3 di Sirkuit Assen, Belanda. Dalam analisis mendalam yang disampaikan oleh pengamat otomotif Iwan Banaran melalui kanal YouTube-nya, Feda harus puas berada di posisi ke-23. Catatan waktu ini membuat banyak penggemar balap tanah air cemas. Namun, IWB—sapaan akrab Iwan Banaran—meminta publik untuk tidak terburu-buru menghakimi sang pembalap asal Gunung Kidul tersebut.
Menurut IWB, Feda bukanlah tipe pembalap yang langsung tampil agresif sejak sesi awal. Karakteristik "Sunday Rider" yang melekat pada dirinya justru menunjukkan bahwa ia adalah seorang pembelajar yang membutuhkan waktu untuk memahami setiap jengkal lintasan. "Feda adalah pembalap cerdas yang mempelajari sirkuit. Kita tidak boleh grusa-grusu menyimpulkan potensinya hanya dari hasil Jumat," tegas IWB dalam analisisnya.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Terpuruk di FP1 Moto3 Belanda, Benarkah Masih Menyimpan Kecepatan Aslinya?
Tantangan Teknis di Sirkuit Assen Sirkuit Assen dikenal sebagai Cathedral of Speed dengan karakteristik lintasan yang sangat mengandalkan fast corner. Dengan total 18 tikungan—12 ke kanan dan 6 ke kiri—beban pada ban sisi kanan sangat besar. Hal ini menciptakan tantangan teknis bagi tim Honda Asia untuk meracik setup yang presisi pada motor NSF 250 RW milik Feda.
IWB menyoroti bahwa pada sektor kedua sirkuit, di mana tikungan bersifat mengalir (flowing), Feda justru mengalami stagnasi. Berdasarkan data sektor, Feda kesulitan mendapatkan feeling yang pas saat masuk maupun keluar tikungan. Padahal, rekan setimnya, Zen Mitani, mampu menembus posisi 20 besar. Ketimpangan data ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi tim teknis untuk segera melakukan evaluasi sebelum babak kualifikasi.
Baca Juga: Isu Investigasi FIM atas Insiden Veda Ega Pratama Terbantahkan, Begini Fakta Sebenarnya
Meski hasil hari pertama sangat berat, IWB tetap optimistis. Ia mengingatkan sejarah Feda di ajang RBRC 2024 yang mampu finis di posisi keempat. Pengalaman tersebut menjadi modal mental bagi Feda untuk melakukan perlawanan di hari balapan. Bagi IWB, Feda adalah petarung sejati yang seringkali membuat kejutan ketika banyak orang mulai meragukan performanya di lintasan balap.
Baca Juga: Isu Investigasi FIM atas Insiden Veda Ega Pratama Terbantahkan, Begini Fakta Sebenarnya
Editor : Dinar Ananda Putri