TRENGGALEK NJENGGELEK - Sirkuit Assen di Belanda bukan sekadar lintasan balap biasa. Iwan Banaran dalam analisisnya menyebut sirkuit legendaris ini sebagai Cathedral of Speed yang menuntut kombinasi handling mumpuni dan stabilitas sasis yang sempurna. Dengan panjang lintasan 4,54 km dan lebar aspal 14 meter, Assen menjadi medan tempur yang sangat spesifik dan menantang bagi para pembalap Moto3, termasuk wakil Indonesia, Feda Ega Pratama.
IWB menyoroti bahwa Assen memiliki karakteristik fast corner yang sangat dominan. Tidak seperti sirkuit lain yang mengandalkan pengereman keras (hard braking), Assen lebih menuntut keberanian pembalap untuk mempertahankan kecepatan di tikungan. "Pembalap yang mampu mempertahankan kecepatan pada setiap jengkal fast corner akan menguasai sirkuit ini," jelas IWB.
Analisis Kekuatan Honda di Assen Meskipun secara historis motor Honda memiliki potensi bagus di Assen, data free practice menunjukkan hasil yang kontras. Tim Honda seperti GRID Racing yang diperkuat oleh Joel Kelso dan Pini justru menunjukkan performa superior dibandingkan Feda Ega Pratama. Kecepatan puncak (top speed) mereka mampu menyentuh angka 217,3 km/jam, jauh meninggalkan Feda yang berada di jajaran belakang.
IWB menekankan bahwa kesulitan utama Feda terletak pada sektor kedua dan ketiga. Sektor yang menuntut kelincahan motor untuk berpindah arah secara cepat menjadi titik lemah Feda hari ini. "Feda kehilangan feeling di sektor tersebut, sementara pembalap Honda lain justru bisa melaju kencang," kata IWB. Ia berharap tim mekanik segera menemukan setelan yang tepat agar Feda bisa kembali kompetitif.
Bagi IWB, balapan di Assen adalah tentang ketahanan mental. Dengan durasi balapan 20 putaran untuk kelas Moto3, setiap kesalahan kecil pada tikungan bisa berakibat fatal. Analisis mendalam IWB ini menjadi panduan penting bagi penggemar untuk memahami bahwa balapan tidak hanya soal siapa yang paling kencang, melainkan siapa yang mampu beradaptasi dengan karakter teknis sirkuit yang berubah-ubah.
Editor : Dinar Ananda Putri