TRENGGALEK NJENGGELEK - Regulasi baru FIM resmi diberlakukan mulai musim balap 2026 guna meningkatkan standar keselamatan para pembalap. Pengamat MotoGP senior, Lucy Wiryono, menyoroti dua poin krusial dalam aturan tersebut yang dipastikan akan mengubah strategi tim di lapangan. Pertama, mengenai penanganan motor yang mengalami stall atau mati mesin saat mengalami crash di tengah lintasan, dan kedua adalah penerapan sistem 9R untuk pengecekan medis pembalap.
Menurut Lucy, aturan pertama mewajibkan pembalap atau kru untuk membawa motor yang mati di tengah lintasan ke luar barrier sirkuit sebelum mencoba melakukan restart. "Aturan ini bertujuan menjamin keselamatan pembalap dan marshal yang bertugas. Memang ada pro dan kontra dari para pembalap, seperti Jorge Martin yang menilai ini akan merepotkan saat wet race, namun keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama," ujar Lucy.
Sistem 9R dan Standar Medis Poin kedua yang tak kalah penting adalah sistem 9R. Selama ini, banyak penggemar mempertanyakan keputusan medis yang menyatakan seorang pembalap fit to race setelah kecelakaan hebat. Dengan adanya 9R, terdapat semacam checklist ketat yang harus dipenuhi oleh tim medis sebelum seorang pembalap diizinkan kembali memacu motornya. Jika sembilan indikator keselamatan tersebut tidak terpenuhi, maka pembalap dilarang melanjutkan balapan.
Lucy menilai langkah FIM ini sangat krusial, mengingat MotoGP adalah olahraga berisiko tinggi. "Ini bukan hanya berlaku di MotoGP, tapi juga di WSBK dan seri lain di bawah FIM. Tujuannya jelas: untuk memberikan batasan yang objektif mengenai kapan pembalap boleh kembali berkompetisi," jelas Lucy. Meskipun kebijakan ini akan sangat menguji manajemen tim, Lucy meyakini bahwa langkah tegas FIM ini adalah bentuk nyata upaya federasi untuk menekan angka cedera serius di lintasan.
Baca Juga: Feda Ega Pratama Diserang Netizen Gara-gara Selebrasi, Lucy Wiryono Beri Pembelaan Keras
Editor : Dinar Ananda Putri