TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Piala Dunia 2014 bukan sekadar turnamen sepak bola biasa. Ajang yang digelar di Brasil itu menjadi panggung lahirnya era baru sekaligus berakhirnya dominasi sejumlah kekuatan besar dunia. Mulai dari tragedi Brasil, kegagalan Lionel Messi meraih trofi, hingga keberhasilan Jerman menampilkan sepak bola modern yang efisien.
Sejak kick-off di Brasil, Piala Dunia 2014 sudah dipenuhi ekspektasi tinggi. Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Neymar Junior, hingga Spanyol sebagai juara bertahan datang dengan status favorit. Namun, jalannya kompetisi justru menghadirkan kejutan yang mengubah sejarah sepak bola dunia.
Turnamen ini memperlihatkan bahwa Piala Dunia 2014 bukan lagi soal kecemerlangan satu pemain. Taktik, organisasi permainan, dan kekuatan kolektif menjadi faktor utama yang menentukan siapa layak menjadi juara.
Spanyol Runtuh, Tim Kuda Hitam Bermunculan
Kejutan pertama terjadi pada fase grup. Spanyol yang sebelumnya menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012 secara beruntun justru tumbang secara mengejutkan.
Belanda menghancurkan La Furia Roja dengan skor telak 5-1 dalam laga pembuka grup. Kekalahan itu menjadi awal kehancuran sang juara bertahan sebelum akhirnya kembali takluk 0-2 dari Chile dan tersingkir bahkan sebelum fase grup berakhir.
Di sisi lain, sejumlah tim nonunggulan mulai mencuri perhatian. Kolombia tampil sempurna dipimpin James Rodriguez yang menjadi bintang baru dengan koleksi gol spektakuler. Costa Rica juga menciptakan sensasi dengan menjuarai grup yang dihuni Italia, Inggris, dan Uruguay.
Sementara Belgia mulai memperlihatkan kualitas generasi emasnya, sedangkan Argentina, Prancis, Belanda, Brasil, dan Jerman tetap melangkah menuju fase gugur.
Neymar Bersinar, Brasil Kehilangan Harapan
Sebagai tuan rumah, Brasil membuka turnamen dengan kemenangan 3-1 atas Kroasia berkat dua gol Neymar. Mereka kemudian bermain imbang melawan Meksiko sebelum menutup fase grup dengan kemenangan 4-1 atas Kamerun.
Namun perjalanan Brasil tidak pernah benar-benar mudah. Mereka harus melewati adu penalti dramatis saat menghadapi Chile di babak 16 besar.
Di perempat final, Brasil mengalahkan Kolombia 2-1. Akan tetapi, kemenangan itu harus dibayar mahal setelah Neymar mengalami cedera serius akibat benturan keras dengan Juan Zuniga.
Cedera tersebut membuat sang bintang dipastikan absen hingga akhir turnamen dan mengubah peta persaingan menuju gelar juara.
Messi Dekat dengan Mimpi, Jerman Terus Melaju
Argentina memang tidak tampil dominan sepanjang turnamen. Namun Lionel Messi berkali-kali menjadi penyelamat Albiceleste melalui gol maupun assist penting.
Argentina menyingkirkan Swiss lewat gol Angel Di Maria pada babak tambahan waktu, kemudian mengalahkan Belgia di perempat final sebelum menang adu penalti atas Belanda di semifinal.
Di sisi lain, Jerman tampil sebagai tim paling komplet. Thomas Muller, Toni Kroos, Mesut Ozil, Manuel Neuer, Philipp Lahm hingga Miroslav Klose membentuk skuad yang sangat solid.
Klose bahkan mencetak gol ke-16 di Piala Dunia sekaligus memecahkan rekor Ronaldo Nazario sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen saat itu.
Baca Juga: Era Baru Sponsor MotoGP 2027, Red Bull Dikabarkan Bakal Merapat ke Ducati Lenovo
Tragedi Brasil 7-1 yang Mengubah Sejarah
Momen paling dikenang dalam Piala Dunia 2014 terjadi di semifinal.
Tanpa Neymar dan Thiago Silva, Brasil benar-benar kehilangan keseimbangan. Jerman menghancurkan tuan rumah dengan skor mencengangkan 7-1.
Dalam enam menit yang tak terlupakan, Brasil kebobolan empat gol secara beruntun hingga skor berubah menjadi 5-0 bahkan sebelum pertandingan memasuki menit ke-30.
Kemenangan telak itu menjadi salah satu hasil paling mengejutkan dalam sejarah Piala Dunia sekaligus meninggalkan luka mendalam bagi publik Brasil.
Banyak pihak menilai laga tersebut menjadi simbol berakhirnya filosofi Jogo Bonito yang selama puluhan tahun melekat pada sepak bola Brasil.
Gol Mario Gotze Antar Jerman Juara Dunia
Final mempertemukan Jerman melawan Argentina.
Pertandingan berlangsung ketat. Argentina memperoleh sejumlah peluang emas melalui Gonzalo Higuain dan Lionel Messi, tetapi gagal dikonversi menjadi gol.
Saat laga memasuki babak tambahan waktu, pelatih Joachim Low memasukkan Mario Gotze.
Keputusan itu terbukti menjadi penentu. Pada menit ke-113, Gotze menerima umpan Andre Schurrle sebelum melepaskan tendangan voli yang menaklukkan Sergio Romero.
Gol tunggal tersebut memastikan Jerman menang 1-0 sekaligus menjadi negara Eropa pertama yang menjuarai Piala Dunia di tanah Amerika Selatan.
Meski Lionel Messi dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen, kegagalan membawa Argentina menjadi juara menyisakan penyesalan besar. Sebaliknya, Jerman membuktikan bahwa sepak bola modern tidak lagi bergantung pada satu superstar, melainkan kekuatan kolektif, disiplin taktik, dan kerja sama tim yang solid.
Baca Juga: Sejarah Piala Dunia: Berawal dari Gagasan FIFA hingga Jadi Turnamen Sepak Bola Terbesar di Dunia
Editor : Fadhilah Salsa Bella