TRENGGALEK NJENGGELEK - Hasil podium ketiga yang diraih pembalap Indonesia di FIM Moto3 Junior World Championship seri Catalunya 2026 tidak boleh menutupi adanya pekerjaan rumah (PR) besar di sektor teknis. Meskipun talenta emas tanah air, Muhammad Kiandra Ramadipa, memperlihatkan kemampuan balap yang setara dengan pembalap top Eropa, ia harus menghadapi kenyataan pahit di lintasan. Kiprah Kiandra Ramadipa Moto3 Junior di sirkuit Catalunya menggarisbawahi adanya kesenjangan performa yang sangat mencolok antara paket motor Honda dengan motor CFMOTO berbasis KTM yang menjadi rival utamanya.
Pengamatan mendalam sepanjang jalannya balapan menunjukkan bahwa performa mekanis menjadi satu-satunya penghalang Ramadipa untuk meraih kemenangan murni. Keberadaan Kiandra Ramadipa Moto3 Junior di barisan depan sebenarnya ditopang oleh gaya balapnya yang sangat rapi dan presisi di area sirkuit yang membutuhkan kelihaian menikung. Namun, keunggulan mutlak di sektor tikungan tersebut langsung lenyap seketika setiap kali balapan memasuki trek lurus utama sirkuit, di mana tenaga mesin diuji secara maksimal.
Ketidakberdayaan motor Honda dalam menahan laju serangan slipstream dari para pembalap rival menjadi sorotan utama para pengamat otomotif. Perbedaan akselerasi murni saat keluar dari tikungan terakhir menuju garis start-finish terlihat sangat brutal dan tidak seimbang bagi pembalap Indonesia tersebut.
Keunggulan Sektor Teknikal Melawan Brutalnya Tenga Mesin CFMOTO
Sirkuit Catalunya di Spanyol dikenal memiliki karakter unik yang menggabungkan tikungan-tikungan tajam yang menuntut sasis lincah dengan trek lurus panjang yang sangat menyiksa mesin. Di area sektor dua dan tiga yang sangat teknikal, Ramadipa membuktikan diri sebagai pembalap tercepat. Ia mampu melakukan pengereman yang sangat dekat dengan tikungan (late braking) dan melakukan perubahan arah motor secara cepat tanpa kehilangan kendali sasis.
Namun, begitu katup gas dibuka penuh di lintasan lurus, motor CFMOTO berbasis mesin KTM milik lawan menunjukkan ledakan tenaga yang jauh lebih superior. Motor pabrikan Eropa tersebut memiliki torsi dan top speed yang lebih tinggi, sehingga memudahkan pembalapnya untuk melewati Ramadipa tanpa perlu bersusah payah melakukan manuver ekstrem. Fenomena ini membuat kerja keras Ramadipa yang sudah bersusah payah merebut posisi pertama di tikungan akhir langsung mentah dalam sekejap.
Menatap Race Kedua dengan Perubahan Set-up Motor
Kondisi teknis yang tidak menguntungkan ini memicu rasa frustrasi yang cukup besar di garasi mekanik. Menghadapi sisa musim balap 2026, kru mekanik Asia Dream Racing harus bergerak cepat untuk menemukan solusi konkrit. Jika tim tidak mampu meningkatkan efisiensi penyaluran tenaga motor keluar tikungan (drive out), maka Ramadipa akan terus menjadi sasaran empuk pembalap lain di sirkuit dengan karakteristik trek lurus panjang.
Beberapa opsi perubahan teknis kini sedang dipertimbangkan, mulai dari penyesuaian rasio roda gigi (gear ratio) hingga optimalisasi sistem aerodinamika sasis motor guna mengurangi hambatan angin. Ramadipa telah membuktikan bahwa dari segi talenta dan mental bertarung, dirinya sudah berada di level terdepan. Kini, bola panas berada di tangan tim mekanik untuk memberikan paket motor yang kompetitif agar sang pembalap bisa bertarung secara adil demi kemenangan.
Editor : Dinar Ananda Putri