TRENGGALEK,TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Feda Ega Pratama menjadi sorotan menjelang Moto3 Grand Prix Jerman 2026 setelah mengalami insiden yang menggagalkan peluangnya meraih poin di seri Asen, Belanda. Meski gagal finis akibat kecelakaan, pembalap muda Indonesia berusia 17 tahun itu diyakini masih memiliki peluang besar untuk bangkit di Sirkuit Sachsenring yang akan menggelar balapan pada 12 Juli 2026.
Feda Ega Pratama datang ke Moto3 Jerman dengan membawa misi kebangkitan. Insiden di Asen memang membuat posisinya di klasemen sementara mengalami penurunan, tetapi performa yang diperlihatkan sebelum kecelakaan menjadi modal penting untuk menghadapi seri berikutnya.
Banyak pengamat menilai karakter Sachsenring justru sesuai dengan gaya balap Feda Ega Pratama. Lintasan yang mengandalkan teknik menikung dan konsistensi ritme dinilai mampu mengurangi kelemahan motor Honda dibanding rival-rivalnya yang lebih unggul dalam kecepatan di trek lurus.
Sachsenring Jadi Tantangan Sekaligus Peluang
Moto3 GP Jerman akan berlangsung di Sachsenring, Hohenstein-Ernstthal, dengan panjang lintasan sekitar 3,671 kilometer. Trek ini dikenal sebagai salah satu sirkuit paling teknis dalam kalender Grand Prix.
Dari total 13 tikungan, terdapat 10 tikungan ke kiri dan hanya tiga tikungan ke kanan. Karakter tersebut membuat pembalap harus mampu menjaga suhu ban, mempertahankan momentum, serta memiliki teknik pengereman yang presisi.
Kondisi itu dinilai menguntungkan pembalap yang memiliki kemampuan corner speed tinggi. Selama musim ini, Feda beberapa kali menunjukkan kemampuannya menjaga kecepatan ketika melintasi tikungan panjang serta tetap kompetitif saat bertarung dalam rombongan besar.
Baca Juga: Feda Ega Pratama Dipercaya Serahkan Trofi di Assen, Dorna Mulai Lirik Talenta Indonesia?
Kemampuan Late Braking Jadi Modal Penting
Selain kecepatan di tikungan, kemampuan melakukan late braking juga menjadi salah satu kekuatan Feda.
Teknik tersebut sangat dibutuhkan di Sachsenring yang memiliki beberapa zona pengereman keras, terutama menjelang tikungan pertama yang kerap menjadi lokasi duel ketat antarpembalap.
Sirkuit Jerman juga tidak terlalu bergantung pada top speed motor. Faktor itu membuka peluang bagi Honda untuk bersaing lebih kompetitif karena kelincahan motor dan kemampuan pembalap menjadi aspek yang lebih menentukan dibanding tenaga mesin semata.
Persaingan Klasemen Makin Ketat
Insiden di Asen membuat posisi Feda Ega Pratama turun ke peringkat ketujuh klasemen sementara Moto3 musim 2026 dengan koleksi 82 poin.
Jumlah tersebut sama dengan raihan pembalap Malaysia, Hakim Danish, yang berada satu tingkat di atasnya berkat keunggulan hasil finis musim ini.
Sementara posisi puncak klasemen masih ditempati pembalap Spanyol, Maximo Quiles, dengan torehan 211 poin.
Situasi itu membuat setiap seri balapan menjadi sangat penting bagi Feda untuk kembali mendekati kelompok depan sekaligus menjaga peluang memperbaiki posisi klasemen.
Konsistensi Jadi Kunci
Meski memiliki kecepatan yang kompetitif, Feda masih menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi sepanjang balapan.
Beberapa kali musim ini ia kehilangan peluang meraih hasil maksimal akibat terlalu agresif pada fase awal lomba. Karena itu, strategi balapan diperkirakan akan menjadi perhatian utama tim Honda menjelang Moto3 GP Jerman.
Selain itu, sesi latihan bebas juga menjadi sangat penting. Jika mampu langsung lolos ke kualifikasi kedua (Q2), peluang Feda memperoleh posisi start di barisan depan akan semakin terbuka.
Cuaca dan Kondisi Fisik Bisa Menentukan
Faktor lain yang diperkirakan berpengaruh adalah cuaca Jerman yang terkenal sulit diprediksi. Perubahan kondisi lintasan dari kering menjadi basah dapat memengaruhi strategi pemilihan ban maupun setelan motor.
Di sisi lain, dominasi tikungan kiri di Sachsenring juga akan menguras tenaga pembalap, terutama pada bagian leher dan bahu kiri yang harus menahan gaya sentrifugal sepanjang balapan.
Karena itu, selain kesiapan teknis, kondisi fisik dan mental diperkirakan menjadi faktor penting dalam menentukan hasil akhir.
Bagi Feda Ega Pratama, Moto3 GP Jerman menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kegagalan di Asen hanyalah bagian dari proses pembelajaran. Jika mampu memanfaatkan karakter Sachsenring dan menjaga konsistensi sepanjang balapan, pembalap muda Indonesia itu berpeluang kembali bersaing di barisan depan sekaligus menghidupkan asa memperbaiki posisinya di klasemen Moto3 musim 2026.
Baca Juga: Feda Ega Pratama Bidik Kebangkitan di Moto3 Jerman, Sachsenring Jadi Ajang Balas Kegagalan Assen
Editor : Fadhilah Salsa Bella