TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Veda Ega Pratama menghadapi tantangan besar menjelang Moto3 Jerman 2026 yang akan digelar di Sirkuit Sachsenring. Meski memiliki pengalaman membalap di lintasan tersebut saat masih tampil di Red Bull Rookies Cup, pembalap muda Indonesia itu tetap harus beradaptasi dengan karakter motor Honda NSF250RW yang berbeda dari tunggangan sebelumnya.
Analisis tersebut disampaikan pengamat otomotif sekaligus kreator konten Iwan Banaran. Menurutnya, Sachsenring merupakan salah satu sirkuit paling teknikal dalam kalender balap dengan tingkat kesulitan tinggi sehingga membutuhkan kemampuan menjaga ritme, presisi, serta manajemen ban yang sangat baik.
Bagi Veda Ega Pratama, seri Moto3 Jerman menjadi kesempatan penting untuk mempertahankan persaingan di papan tengah klasemen. Namun, tantangan yang menanti dipastikan tidak mudah mengingat karakter Sachsenring lebih menguntungkan motor yang memiliki keseimbangan dan setelan optimal.
Sachsenring Punya Karakter Unik
Sachsenring memiliki panjang lintasan 3,67 kilometer dengan lebar trek sekitar 12 meter. Lintasan ini tergolong sempit dibandingkan sirkuit lain sehingga peluang menyalip relatif terbatas.
Sirkuit yang berlawanan arah jarum jam (anti-clockwise) tersebut memiliki total 13 tikungan, terdiri dari 10 tikungan ke kiri dan hanya tiga tikungan ke kanan.
Komposisi itu membuat sisi kiri ban bekerja jauh lebih keras, sementara sisi kanan justru mengalami penurunan temperatur karena jarang digunakan.
Akibatnya, pembalap harus sangat berhati-hati ketika memasuki tikungan kanan setelah rangkaian tikungan kiri yang panjang.
Tikungan Waterfall Jadi Ancaman
Salah satu sektor paling menantang di Sachsenring adalah tikungan ke-11 yang dikenal dengan nama Waterfall.
Sebelum memasuki tikungan tersebut, pembalap melewati rangkaian tikungan kiri berkecepatan tinggi sehingga temperatur ban kiri meningkat drastis. Sebaliknya, ban kanan menjadi lebih dingin.
Ketika motor harus direbahkan ke kanan di area Waterfall yang memiliki kontur menurun, risiko kehilangan traksi menjadi lebih besar.
Menurut Iwan Banaran, sektor inilah yang sering menjadi penyebab pembalap mengalami high side maupun low side apabila gagal mengelola temperatur ban.
Veda Sudah Punya Modal Pengalaman
Meski menghadapi tantangan besar, Veda bukanlah pendatang baru di Sachsenring.
Pada Red Bull Rookies Cup 2024, pembalap asal Gunungkidul tersebut finis di posisi ke-12 pada balapan pertama dan posisi ke-15 pada balapan kedua.
Setahun kemudian, performanya meningkat signifikan. Di Red Bull Rookies Cup 2025, Veda finis keempat pada balapan pertama yang berlangsung di lintasan basah.
Puncaknya terjadi pada balapan kedua ketika ia berhasil meraih kemenangan dan naik podium pertama.
Catatan tersebut menjadi modal penting karena Veda sudah memahami karakter lintasan meski kini menggunakan motor Honda NSF250RW.
Kunci Ada pada Kualifikasi
Selain pengalaman, posisi start diprediksi menjadi faktor yang sangat menentukan.
Lebar lintasan yang hanya 12 meter membuat pembalap sulit melakukan overtaking, terutama pada sektor awal yang dipenuhi tikungan sempit.
Karena itu, Veda dituntut tampil maksimal sejak sesi latihan bebas hingga kualifikasi agar bisa memperoleh posisi start di barisan depan.
Jika mampu memulai balapan dari kelompok terdepan, peluang mempertahankan ritme dan menghemat ban akan semakin besar.
Manajemen Ban Jadi Penentu
Menurut analisis tersebut, tantangan terbesar Veda bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga menjaga kondisi ban hingga lap-lap akhir.
Sachsenring dikenal sangat menguras ban kiri karena dominasi tikungan ke kiri.
Apabila pembalap terlalu agresif pada awal balapan, performa ban berpotensi menurun drastis ketika memasuki lap-lap penentuan.
Di sisi lain, tikungan Waterfall juga menuntut pembalap mampu menghangatkan sisi kanan ban agar tetap memiliki daya cengkeram yang cukup.
Dengan pengalaman yang dimiliki, Veda dinilai mempunyai modal untuk bersaing. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada kemampuan Honda Team Asia menemukan setelan motor yang sesuai dengan karakter Sachsenring.
Seri Moto3 Jerman 2026 pun diperkirakan menjadi salah satu balapan paling menantang bagi Veda Ega Pratama musim ini. Jika mampu memaksimalkan hasil kualifikasi, menjaga ritme, serta mengelola ban hingga akhir lomba, peluang pembalap Indonesia itu untuk finis di posisi lima besar tetap terbuka.
Baca Juga: Bos Honda Sebut Crash Veda Ega Pratama Bukan Kerugian, Justru Jadi Modal Emas Menuju MotoGP?
Editor : Fadhilah Salsa Bella