TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Veda Ega Pratama kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta balap motor. Kali ini bukan karena podium atau hasil balapan, melainkan rumor yang menyebut pembalap muda Indonesia tersebut berpeluang naik ke Moto2 pada musim 2028.
Rumor mengenai Veda Ega Pratama ke Moto2 2028 ramai beredar di media sosial dan berbagai komunitas balap. Banyak penggemar menilai pembalap binaan Astra Honda Racing Team (AHRT) itu layak dipromosikan lebih cepat setelah menunjukkan potensi besar sejak menjalani musim debut di Moto3 Eropa.
Namun, jika melihat kondisi sebenarnya di paddock, jalan menuju Moto2 tidak sesederhana yang dibayangkan publik. Penjenjangan pembalap ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari performa di lintasan, kesiapan fisik, kemampuan teknis, hingga evaluasi manajemen Honda dan Honda Racing Corporation (HRC).
Baca Juga: Jadwal Moto3 Jerman 2026 Lengkap: Veda Ega Pratama Bidik Tambahan Poin, Simak Klasemen Terbaru
Honda Tidak Menargetkan Veda Naik Moto2 pada 2028
Dalam program Road to MotoGP, Astra Honda dikenal memiliki pola pembinaan yang bertahap. Setiap pembalap dipersiapkan melalui berbagai jenjang sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan tampil di level yang lebih tinggi.
Sejarah menunjukkan Honda tidak pernah terburu-buru mempromosikan pembalapnya. Sebelumnya, Dimas Ekky Pratama maupun Mario Suryo Aji juga harus melalui proses panjang sebelum akhirnya tampil di Moto2.
Karena itu, isu bahwa Veda Ega Pratama dipastikan naik ke Moto2 pada 2028 masih sebatas spekulasi. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari AHRT maupun HRC mengenai roadmap karier pembalap asal Gunungkidul tersebut.
Baca Juga: Hoaks Veda Ega Pratama Podium Moto3 Jerman 2026, Begini Fakta Sebenarnya yang Diungkap Pembuat Video
Manajemen justru disebut lebih fokus memberikan kesempatan kepada Veda untuk mengumpulkan pengalaman sebanyak mungkin di Moto3. Sebagai rookie di Eropa, adaptasi terhadap karakter sirkuit, motor, dan persaingan internasional masih menjadi prioritas utama.
Perbedaan Moto3 dan Moto2 Sangat Besar
Salah satu alasan mengapa promosi tidak bisa dilakukan secara instan adalah perbedaan karakter motor Moto3 dan Moto2.
Motor Moto3 menggunakan mesin 250 cc satu silinder dengan bobot sekitar 80 hingga 85 kilogram. Kelas ini sangat mengandalkan kemampuan pembalap menjaga kecepatan saat menikung karena minim bantuan perangkat elektronik.
Sebaliknya, Moto2 menggunakan mesin Triumph 765 cc tiga silinder dengan bobot sekitar 140 kilogram. Motor tersebut memiliki tenaga jauh lebih besar serta didukung sistem elektronik yang lebih kompleks, termasuk throttle by wire, pengaturan engine brake, hingga manajemen data telemetri.
Perbedaan tersebut membuat pembalap harus mengubah total gaya balapnya. Jika di Moto3 mengandalkan cornering speed, maka di Moto2 pembalap dituntut menguasai teknik stop and go dengan pengereman keras dan akselerasi yang jauh lebih agresif.
Tak hanya kemampuan mengendarai motor, pembalap Moto2 juga harus mampu berdiskusi secara teknis dengan engineer mengenai data telemetri dan pengaturan motor selama balapan.
Fokus Veda Masih Belajar di Moto3
Veda sendiri disebut memilih tidak terlalu memikirkan rumor promosi. Fokus utamanya saat ini adalah memberikan performa terbaik di setiap seri Moto3 dan terus meningkatkan kemampuannya.
Musim debut di Eropa menjadi fase penting untuk memahami karakter lintasan, beradaptasi dengan motor Honda NSF250RW, sekaligus menghadapi rival-rival terbaik dari berbagai negara.
Grafik performanya juga masih mengalami pasang surut. Salah satu momen yang paling menyita perhatian adalah ketika Veda berhasil meraih podium kedua di Brno. Hasil tersebut membuat namanya mulai diperhitungkan oleh pengamat balap internasional.
Baca Juga: Jadwal Moto3 Jerman 2026 Lengkap: Veda Ega Pratama Siap Berburu Poin, Ini Klasemen dan Line Up Rider
Namun, ia juga sempat mengalami kegagalan setelah terjatuh di Sirkuit Assen, Belanda. Insiden tersebut menjadi pelajaran penting mengenai kerasnya persaingan Moto3.
Alih-alih larut dalam kekecewaan, Veda memilih menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk tampil lebih baik pada seri berikutnya di Sachsenring, Jerman.
Spekulasi Berlebihan Dinilai Bisa Membebani Pembalap
Rumor promosi ke Moto2 memang menjadi bahan diskusi menarik di media sosial. Namun, ekspektasi yang terlalu tinggi dinilai berpotensi memberikan tekanan psikologis kepada pembalap muda.
Apabila setiap hasil balapan selalu dikaitkan dengan target promosi, pembalap dapat kehilangan fokus terhadap proses pembelajaran yang sedang dijalani.
Karena itu, dukungan terbaik bagi Veda Ega Pratama saat ini adalah memberikan ruang untuk berkembang secara alami tanpa dibebani tuntutan harus segera naik kelas.
Jika mampu tampil konsisten, memperbaiki performa, dan terus mengumpulkan pengalaman di Moto3, peluang menuju Moto2 tentu akan datang pada waktu yang dianggap paling tepat oleh manajemen Honda.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari