Tom Haye: Dari Diabaikan Eropa hingga Jadi Rebutan dan Pilar Persib

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 17:45 WIB
Tom Haye punya perjalanan karier berliku sebelum bergabung dengan Persib. Pernah juara Eropa U-17, ia sempat terpuruk sebelum bangkit bersama timnas Indonesia (Pinterest).
Tom Haye punya perjalanan karier berliku sebelum bergabung dengan Persib. Pernah juara Eropa U-17, ia sempat terpuruk sebelum bangkit bersama timnas Indonesia (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Perjalanan Tom Haye menuju Persib Bandung menjadi kisah yang kontras. Gelandang yang pernah menjuarai Piala Eropa U-17 bersama Belanda dan satu generasi dengan Nathan Ake itu sempat mengalami periode sulit hingga berstatus tanpa klub pada musim panas 2024.

Tom Haye dikenal sebagai gelandang dengan kemampuan mengatur permainan. Julukan "The Professor" melekat karena visi bermain dan kemampuannya membaca permainan. Bahkan, dalam narasi tersebut, kemampuannya disebut pernah mendapat pujian dari legenda sepak bola Spanyol, Cesc Fabregas.

Namun, perjalanan kariernya di level senior tidak berjalan mulus. Setelah menimba ilmu di akademi AZ Alkmaar, Haye menjalani perjalanan ke sejumlah klub. Ia pernah bermain untuk Willem II dan kemudian mengambil kesempatan berkarier di Serie B Italia bersama Lecce.

Pengalaman di Italia tidak berjalan seperti yang diharapkan. Gaya permainan yang taktis dan fisik disebut membuat performanya tidak berkembang maksimal. Haye kemudian kembali ke Belanda dan sempat memperkuat ADO Den Haag sebelum bergabung dengan NAC Breda di divisi kedua.

Baca Juga: Weton Jumat Wage: Dikenal Dermawan, Ini Ramalan Jodoh, Rezeki, dan Kariernya.

Menemukan Kembali Permainan Terbaik

Justru ketika bermain di NAC Breda, Haye disebut kembali menemukan bentuk permainan terbaiknya. Tanpa tekanan besar seperti ketika masih dianggap sebagai talenta muda potensial, ia berkembang menjadi pemain penting.

Haye dipercaya menjadi kapten dan pusat permainan tim. Ia tidak hanya tampil konsisten, tetapi juga disebut mampu mengendalikan tempo pertandingan.

Performa tersebut kemudian membuatnya mendapat kesempatan kembali ke kasta utama. Pada Januari 2022, Herenveen merekrut Haye setelah melihat performanya bersama NAC Breda.

Di Herenveen, kualitas Haye semakin terlihat. Julukan "The Professor" disebut lahir dari kekaguman terhadap kemampuannya mengatur permainan.

Umpan dan distribusi bolanya menjadi salah satu kekuatan utama. Ia digambarkan mampu membaca ruang dan menentukan keputusan sebelum lawan bereaksi.

Pelatih Herenveen, Kees van Wonderen, bahkan disebut membangun filosofi permainan tim dengan menjadikan Haye sebagai salah satu pusatnya. Haye dinilai sebagai pemain yang mampu membuat rekan-rekannya tampil lebih baik.

Performa tersebut akhirnya menarik perhatian klub Italia Como 1907. Pada Januari 2024, Como disebut menjadikan Haye sebagai salah satu target utama. Kesepakatan personal bahkan dikabarkan telah tercapai.

Namun, kepindahan itu akhirnya batal. Herenveen disebut membatalkan kesepakatan karena belum menemukan pemain pengganti Haye.

Keputusan tersebut kemudian menjadi titik penting dalam perjalanan karier sang gelandang. Ketika kontraknya berakhir dan ia berstatus bebas transfer pada 1 Juli, momentum kepindahan ke Como sudah berubah.

Como telah promosi ke Serie A. Kebutuhan klub juga berubah dari mencari pemain untuk membantu promosi menjadi membangun skuad agar mampu bertahan di kasta tertinggi Italia.

Situasi tersebut membuat peluang Haye bergabung dengan Como tertutup. Status bebas transfer yang seharusnya menjadi keuntungan justru membuatnya harus bersaing dengan banyak pemain lain di pasar.

Haye kemudian bergabung dengan Almere City. Kepindahan tersebut menjadi kesempatan baginya untuk tetap mendapatkan menit bermain dan mempertahankan karier profesionalnya.

Baca Juga: Weton Jumat Wage 2026: Ada Fase Rezeki Sulit hingga Keberuntungan Besar.

Bersinar Bersama Timnas Indonesia

Di tengah situasi klub yang tidak mudah, karier Haye bersama timnas Indonesia justru berkembang. Ia menjalani debut bersama Indonesia dan kemudian mencetak gol penting ke gawang Filipina.

Performa bersama timnas membuat posisi Haye di mata publik Indonesia semakin kuat. Ia tidak lagi hanya dipandang berdasarkan usia atau status klubnya, tetapi berdasarkan kontribusi di lapangan.

Perjalanan tersebut kemudian berujung pada kepindahan Haye ke Persib Bandung. Transfer itu menjadi babak baru dalam karier gelandang yang sempat mengalami periode penuh ketidakpastian di Eropa.

Di Persib, Haye datang dengan pengalaman bermain di Belanda, Italia, serta bersama timnas Indonesia. Kehadirannya juga membuat ekspektasi terhadap sang gelandang cukup tinggi.

Kisah Haye menunjukkan bagaimana perjalanan seorang pemain tidak selalu bergerak lurus. Talenta yang pernah menjadi bagian dari generasi juara Eropa U-17 sempat kehilangan momentum di level klub, sebelum kembali menemukan panggung yang membuat kemampuannya dihargai.

Kini, Persib menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Setelah sempat terpinggirkan dalam persaingan sepak bola Eropa, Haye memiliki kesempatan untuk membuktikan kembali kualitasnya bersama klub yang memiliki ekspektasi besar.

Baca Juga: Megawati Hangestri Jadi Sorotan, Fans Menanti Debut Bersama Hyundai Hill State

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Cesc Fabregas Tom Haye Almere City persib bandung Timnas Indonesia