TrenggalekNjenggalek - Pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, terus menarik perhatian penggemar balap motor setelah menunjukkan performa kompetitif dalam musim debutnya di Moto3 2026. Pembalap berusia 17 tahun asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tersebut kini bersaing dengan pembalap dari berbagai negara melalui Honda Team Asia.
Penampilan Veda di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, turut menjadi perhatian publik Indonesia. Dalam balapan Grand Prix Indonesia pada 11 Oktober 2026, ia berhasil finis di posisi keenam dan memperoleh tambahan 10 poin. Hasil itu menambah koleksi poinnya menjadi 115 dalam klasemen sementara kejuaraan.
Baca Juga: Uji Suzuki Fronx SGX, Suspensi Nyaman dan Konsumsi BBM Diklaim Tembus 20 Km per Liter
Perjalanan Panjang Menuju Kejuaraan Dunia
Perjalanan Veda di dunia balap motor telah dimulai sejak usia dini. Ia tumbuh dengan ketertarikan terhadap sepeda motor dan mendapatkan dukungan dari keluarga, terutama sang ayah, Sudarmono, yang memiliki pengalaman sebagai pembalap nasional.
Sejak kecil, Veda menjalani latihan secara bertahap untuk mengembangkan kemampuan berkendara. Ia mengikuti berbagai kompetisi dan program pembinaan pembalap muda sebelum akhirnya memperoleh kesempatan untuk berkompetisi di tingkat internasional.
Pengalaman di ajang balap usia muda menjadi bekal penting ketika Veda mulai menghadapi persaingan yang lebih ketat. Ia harus mempelajari karakter motor, memahami strategi balapan, serta meningkatkan kemampuan membaca pergerakan lawan di lintasan.
Proses tersebut membawanya ke Moto3, salah satu kelas dalam Kejuaraan Dunia Grand Prix yang menjadi tempat bagi pembalap muda untuk mengembangkan karier profesional.
Prestasi yang Mengangkat Nama Indonesia
Nama Veda semakin dikenal setelah mencatatkan sejumlah hasil penting dalam kompetisi internasional. Ia menjuarai Idemitsu Asia Talent Cup 2023 dan menjadi runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup 2025.
Kedua kompetisi tersebut menjadi bagian dari jalur pembinaan pembalap muda menuju kejuaraan dunia. Melalui pengalaman itu, Veda memperoleh kesempatan untuk mengasah keterampilan dan menghadapi pembalap dengan kemampuan yang semakin kompetitif.
Pada musim 2026, Veda mendapatkan kesempatan memperkuat Honda Team Asia di kelas Moto3. Kesempatan tersebut menjadi tahap baru dalam kariernya karena persaingan di kejuaraan dunia membutuhkan konsistensi, persiapan fisik, serta kemampuan teknis yang matang.
Salah satu pencapaian terbesarnya terjadi ketika ia finis di posisi ketiga pada Grand Prix Brasil. Hasil tersebut menjadikannya pembalap Indonesia pertama yang meraih podium dalam balapan Grand Prix kategori motor prototipe.
Pencapaian itu memberikan perhatian lebih besar terhadap perkembangan pembalap Indonesia di kancah internasional.
Penampilan di Mandalika Menjadi Pengalaman Berharga
Balapan di Mandalika memiliki arti tersendiri bagi Veda karena berlangsung di Indonesia, negara asalnya. Dukungan penonton menjadi bagian dari suasana balapan yang berbeda dibandingkan ketika ia bertanding di luar negeri.
Veda memulai balapan dari posisi ketujuh dan berusaha mempertahankan persaingan dengan pembalap lain. Sepanjang lomba, perubahan posisi terjadi akibat ketatnya persaingan di lintasan.
Ia akhirnya menyelesaikan balapan di urutan keenam. Walaupun belum berhasil naik podium, hasil tersebut memberikan tambahan poin sekaligus pengalaman menghadapi tekanan saat tampil di hadapan pendukung sendiri.
Balapan kandang juga menjadi kesempatan bagi Veda untuk mengenali lebih jauh karakter Sirkuit Mandalika dalam situasi kompetisi sesungguhnya. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pembalap dan tim untuk mempersiapkan diri menghadapi seri berikutnya.
Tantangan Menjaga Konsistensi di Moto3
Persaingan Moto3 tidak hanya bergantung pada kecepatan motor. Pembalap juga harus mampu menentukan waktu yang tepat untuk menyalip, menjaga posisi saat memasuki tikungan, serta mengelola ban selama balapan berlangsung.
Kerja sama dengan tim memiliki peran penting dalam menentukan setelan motor dan strategi yang sesuai dengan kondisi lintasan. Perubahan cuaca, karakter sirkuit, dan gaya berkendara lawan juga dapat memengaruhi hasil akhir.
Bagi Veda, musim debut ini menjadi kesempatan untuk memahami berbagai tantangan tersebut. Setiap balapan memberikan pengalaman baru yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan memperbaiki hasil pada kesempatan berikutnya.
Dengan total 115 poin setelah balapan Mandalika, Veda berada di posisi ketujuh klasemen sementara Moto3 2026. Persaingan poin yang ketat membuat hasil pada setiap seri berikutnya menjadi penting bagi posisinya di klasemen.
Harapan untuk Masa Depan Pembalap Indonesia
Perjalanan Veda Ega Pratama memperlihatkan pentingnya pembinaan atlet sejak usia muda. Dukungan keluarga, pelatih, tim, serta kesempatan mengikuti kompetisi menjadi bagian dari proses panjang untuk mencapai level internasional.
Balap motor juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari latihan, perlengkapan keselamatan, transportasi, hingga kebutuhan mengikuti kompetisi. Karena itu, keberlanjutan dukungan terhadap pembalap muda menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan olahraga ini.
Prestasi Veda di Moto3 dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia yang ingin menekuni dunia balap. Namun, perjalanan menuju tingkat tertinggi tetap membutuhkan latihan, disiplin, dan kemampuan menjaga performa secara berkelanjutan.
Dengan usianya yang masih 17 tahun, Veda memiliki kesempatan untuk terus mengembangkan pengalaman di kejuaraan dunia. Perkembangan performanya pada sisa musim 2026 pun menjadi salah satu hal yang dinantikan penggemar balap motor Indonesia.
Baca Juga: Uji Suzuki Fronx SGX, Suspensi Nyaman dan Konsumsi BBM Diklaim Tembus 20 Km per Liter
Editor : Rahma Wulandari