Trenggaleknjenggelek - Hari ini, 12 April 2025, menandai babak baru dalam sejarah Android. Setelah bertahun-tahun terbuka, kini Google resmi mengembangkan sistem operasi Android sepenuhnya dari jalur internal mereka.
Informasi ini dikonfirmasi Google kepada Android Authority melalui 9to5google.com dalam mengakhiri era keterbukaan penuh lewat Android Open Source Project (AOSP).
Apa yang Berubah?
Selama ini, AOSP memungkinkan publik termasuk pengembang dan pengamat teknologi, untuk mengintip bagaimana Android dikembangkan secara real-time.
Namun, mulai hari ini, semua pengembangan akan dilakukan di cabang internal Google. Versi terbuka (open-source) tetap ada, tapi hanya akan diperbarui saat versi final atau maintenance dirilis.
Google menyatakan bahwa perubahan ini tidak akan memperlambat proses rilis. Sebaliknya, pengembangan internal yang lebih tertutup justru dinilai akan menyederhanakan proses integrasi dan mengurangi konflik teknis saat penggabungan cabang.
Akankah Android Tertutup Sepenuhnya?
Penting digarisbawahi bahwa Android tetap open-source, hanya saja publik tidak lagi bisa mengikuti proses pembuatannya secara langsung.
Kita baru bisa melihat perubahan setelah semuanya matang. Dalam bahasa dapur, publik tak lagi bisa mengintip proses memasak Nasi Gegok melainkan baru boleh mencicipi saat sudah matang dan siap saji.
Apa Dampaknya?
Bagi pengguna biasa hampir tak terasa. Pun juga, bagi developer aplikasi - relatif aman selama masih dalam “rute” Google.
Justru hal ini berdampak pada para pemburu bocoran. Penggalian fitur-fitur baru seperti Pixel 10 dan Andorid 15 dari commit AOSP akan semakin langka.
“Makes sense for them. It's sad that we probably won't get as many leaks, but better that than for those to be scrapped, leaving everyone disappointed.” Komentar Bojan dengan nada kecewanya.
Menuju Android yang Lebih Tertutup?
Meski keputusan ini mengikuti jejak langkah sebelumnya, di mana beberapa fitur Android memang sudah dikembangkan secara internal.
Kekhawatiran soal keterbukaan tetap muncul. Android, yang dulu dijual sebagai sistem operasi terbuka atau open source, kini makin mirip dengan model tertutup ala Apple, meski tetap dengan label open source di permukaannya.
Langkah ini mungkin mengecewakan sebagian kalangan, terutama komunitas developer independen dan pegiat open source. Namun, dari sisi Google, keputusan ini dianggap sebagai bentuk efisiensi pengembangan.
Seperti biasa, waktu yang akan membuktikan apakah keputusan ini benar-benar menguntungkan atau justru mereduksi semangat kolaboratif yang selama ini jadi jiwa Android. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom