Teknologi Adaptif Jadi Solusi Petani Hadapi Krisis Iklim dan Krisis Air
Zaki Jazai• Kamis, 17 April 2025 | 03:45 WIB
Teknologi pertanian jadi solusi petani hadapi krisis air
Trenggaleknjenggelek – Pemanasan global yang dipicu oleh akumulasi gas rumah kaca dari berbagai sektor, termasuk industri, transportasi, dan aktivitas pertanian, semakin berdampak nyata pada sektor pangan. Di lapangan, perubahan iklim mengakibatkan terganggunya pola tanam, peningkatan populasi hama dan penyakit tanaman, serta risiko gagal panen yang kian besar.
Salah satu dampak paling serius adalah krisis air yang mempengaruhi produktivitas lahan pertanian, khususnya di daerah dengan curah hujan rendah. Kondisi ini mendorong perlunya strategi adaptasi di tingkat petani agar kegiatan usahatani tetap berjalan meskipun dihadapkan pada cuaca ekstrem. Jadi Teknologi adaptif bisa jadi solusi bagi petani.
Pemerintah melalui instansi pertanian kini tengah menggalakkan penerapan teknologi usahatani adaptif sebagai langkah konkret menghadapi tantangan perubahan iklim. Teknologi adaptif dalam konteks ini merujuk pada sistem, alat, dan metode pertanian yang dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang berubah.
Salah satu bentuk penerapan teknologi tersebut adalah penggunaan varietas unggul adaptif, yakni benih tanaman yang tahan terhadap cekaman lingkungan seperti kekeringan atau genangan air, serta memiliki ketahanan tinggi terhadap serangan hama dan penyakit. Penggunaan varietas ini diharapkan dapat mengurangi risiko gagal panen saat cuaca ekstrem.
Selain itu, untuk mengatasi kelangkaan air, dikembangkan pula teknologi pengelolaan sumber daya air. Teknologi ini mencakup metode panen hujan, embung, dam parit, serta irigasi irit air seperti irigasi tetes dan irigasi sumur renteng. Penampungan air hujan di musim penghujan menjadi strategi penting untuk menjaga ketersediaan air saat kemarau tiba.
Upaya adaptasi juga dilakukan melalui pengelolaan sumber daya lahan, khususnya dalam hal konservasi lahan kering dan efisiensi penggunaan hara. Pemanfaatan bahan organik seperti jerami dan pupuk kandang mulai digalakkan sebagai alternatif pupuk kimia. Di samping itu, teknologi seperti bagan warna daun (BWD) digunakan untuk mengukur kebutuhan hara secara tepat guna meningkatkan efisiensi pemupukan.
Tak kalah penting adalah penerapan sistem usaha tani ramah lingkungan, seperti Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), integrasi tanaman-ternak, serta sistem pertanian terpadu untuk lahan kering beriklim kering. Sistem ini mengedepankan prinsip zero waste dan clean run off, di mana limbah pertanian dan peternakan diolah kembali menjadi sumber daya yang berguna bagi kegiatan usahatani.
Dengan kombinasi pendekatan teknologi, pengelolaan sumber daya, dan prinsip keberlanjutan, petani diharapkan mampu bertahan dan terus memproduksi pangan secara optimal meskipun berada dalam tekanan perubahan iklim. Strategi ini tidak hanya menjamin ketahanan petani secara ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya nasional untuk menjaga ketahanan pangan di tengah krisis iklim global. (jaz)