Trenggaleknjenggelek - Di tengah riuhnya teknologi kecerdasan buatan, muncul satu pertanyaan menarik, apakah ChatGPT bisa melatih dirinya sendiri seperti halnya manusia belajar dari pengalaman?
Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Karena ternyata tidak semudah menyalakan komputer dan membiarkannya “berpikir sendiri.”
Meski terkesan hidup dan responsif, ChatGPT bukan makhluk digital yang punya “lapangan latihan” virtual tempat ia bisa berlatih kungfu logika atau meditasi empati.
Faktanya, ChatGPT tidak belajar secara mandiri saat berdialog denganmu. Jadi, walau kamu sering mengajaknya ngobrol soal topik berat atau iseng bertanya hal-hal random, kemampuan ChatGPT tidak serta merta meningkat dari waktu ke waktu.
Baca Juga: Mengatasi Panic Attacks: Apa yang Perlu Anda Ketahui tentang Gangguan Kesehatan Mental Ini
Lalu, bagaimana cara kerjanya?
Dilatih Seperti Anak yang Dibekali Ensiklopedia Raksasa. ChatGPT dilatih oleh para peneliti di OpenAI dengan metode bernama machine learning, tepatnya transformer-based language model.
Ia dibesarkan dengan menyantap miliaran kata dari berbagai sumber buku, artikel, laman web, kode, dan percakapan.
Hasilnya, ia bisa menebak kata berikutnya dalam kalimat dengan sangat akurat. Itulah kenapa ia tampak seperti memahami konteks, meski sejatinya ia hanya pandai meniru pola bahasa.
Baca Juga: Panen Padi Lebih Cepat dan Efisien, Keuntungan Petani Beralih ke Mesin Perontok
Bukan Pembelajar Aktif, Tapi Penggabung Informasi
Selama kamu ngobrol dengannya, ChatGPT tidak menyimpan atau mengingat percakapan (kecuali kalau kamu mengaktifkan fitur khusus).
Ia tak menimba pengalaman secara progresif. Tapi, ia bisa menggabungkan berbagai informasi yang pernah ia pelajari selama pelatihan menjadi jawaban-jawaban yang masuk akal.
Jadi kalau kamu bertanya tentang sains, sejarah, atau bahkan meme, ia akan mencocokkan pola jawaban dari “pengalamannya” dulu, bukan dari obrolan hari ini.
Perbaikan Bukan Otomatis, Tapi Dibantu Tim Peneliti
Setiap peningkatan versi seperti GPT-3 ke GPT-4, melibatkan pelatihan ulang dan penambahan data baru oleh para peneliti OpenAI.
Umpan balik dari pengguna juga jadi pertimbangan penting. Jadi kalau kamu pernah merasa “wah, sekarang dia lebih cerdas dari dulu”, itu karena versi baru sudah dilatih dengan data yang lebih banyak dan algoritma yang lebih canggih.
Bukan Belajar, Tapi Dipelajari
ChatGPT tidak melatih dirinya sendiri. Ia tidak seperti pelajar yang belajar dari kesalahan. Justru manusialah yang terus mempelajarinya, menyempurnakannya, dan merancang versinya agar semakin baik. Tapi proses membuatnya memang segitu repotnya. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom