TRENGGALEK NJENGGELEK - Oppo A6C mulai mencuri perhatian pasar smartphone entry level 2026. Namun bukan hanya karena desain atau baterainya, melainkan penggunaan chipset Unisoc T7250 yang dianggap cukup jadul di kelas harga Rp2 jutaan. Meski begitu, OPPO tetap membekali Oppo A6C dengan sejumlah fitur menarik seperti baterai 7000 mAh, layar 120 Hz, hingga penyimpanan UFS 2.2.
Perangkat ini disebut menjadi salah satu HP Oppo terbaru yang fokus pada daya tahan baterai dan kenyamanan penggunaan harian dibanding performa gaming berat.
“Kalau harga di Indonesia benar di angka Rp2 jutaan, apakah ini bakal jadi pilihan terbaik atau ada brand lain yang lebih menarik?” ujar reviewer kanal Forum Gadget.
Pertanyaan tersebut muncul karena Oppo A6C membawa spesifikasi yang cukup unik. Di satu sisi unggul pada baterai dan desain, tetapi di sisi lain masih memakai chipset yang dianggap tertinggal dibanding kompetitor.
Baterai 7000 mAh Jadi Senjata Utama Oppo A6C
Kelebihan terbesar Oppo A6C terletak pada kapasitas baterainya yang mencapai 7000 mAh. Kapasitas tersebut sudah masuk kategori baterai monster untuk smartphone entry level.
Dengan baterai sebesar itu, Oppo A6C disebut mampu bertahan seharian penuh untuk penggunaan normal seperti scrolling media sosial, menonton video, hingga chatting.
“Buat orang yang malas ngecas atau sering di luar ruangan, ini jelas menarik banget,” kata reviewer.
Selain baterai jumbo, Oppo A6C juga dibekali layar IPS LCD 6,75 inci dengan refresh rate 120 Hz. Walau resolusinya masih HD Plus, refresh rate tinggi membuat animasi dan scrolling terasa lebih mulus.
Fitur lain yang cukup menarik adalah penggunaan penyimpanan UFS 2.2 yang lebih cepat dibanding eMMC biasa.
Teknologi ini membuat proses membuka aplikasi, transfer file, hingga instalasi game terasa lebih responsif meski chipset yang digunakan belum terlalu kencang.
Oppo A6C juga masih mempertahankan slot microSD dan jack audio 3,5 mm yang kini mulai jarang ditemukan pada smartphone modern.
ColorOS 16 dan Sertifikasi IP64 Jadi Nilai Tambah
Dari sisi desain, Oppo A6C disebut tetap tampil rapi meski masuk kategori HP murah. Oppo menggunakan desain clean khas seri A terbaru dengan sertifikasi IP64 untuk perlindungan dari debu dan cipratan air ringan.
Smartphone ini juga langsung menjalankan Android 16 dengan antarmuka ColorOS 16 terbaru.
“Biasanya ColorOS itu cukup ringan, stabil dan animasinya lebih enak,” ungkap reviewer.
ColorOS 16 dinilai memberikan pengalaman penggunaan yang nyaman untuk aktivitas harian seperti media sosial, streaming video, hingga multitasking ringan.
Dengan kombinasi desain premium, layar 120 Hz, serta sistem operasi terbaru, Oppo A6C dianggap masih cukup kompetitif di pasar entry level 2026.
Baca Juga: DPRD Trenggalek Minta Pemkab Cari Skema Atasi Batas 30 Persen, Hindari Pengurangan PPPK
Chipset Jadul dan Charging 15 Watt Jadi Kekurangan Serius
Meski memiliki banyak kelebihan, Oppo A6C juga mendapat kritik pada sektor performa. Smartphone ini masih menggunakan chipset Unisoc T7250 dengan fabrikasi 12 nm yang dinilai kurang cocok untuk gaming berat.
Reviewer menyebut performanya kemungkinan akan cepat mentok jika digunakan memainkan game seperti PUBG Mobile atau Genshin Impact dengan setting tinggi.
“Buat gaming berat ini bukan chipset yang menarik,” katanya.
Kekurangan lain ada pada pengisian daya yang masih memakai fast charging 15 watt. Padahal baterai yang digunakan mencapai 7000 mAh sehingga waktu pengisian diperkirakan cukup lama.
Selain itu, Oppo A6C juga belum dibekali fitur giroskop. Hal ini menjadi kekurangan bagi gamer mobile terutama pemain game FPS yang mengandalkan sensor gerak untuk kontrol permainan.
Meski demikian, Oppo A6C tetap dianggap cocok bagi pengguna yang mengutamakan baterai awet, desain modern, dan penggunaan harian dibanding performa gaming ekstrem.
Dengan harga yang diperkirakan berada di kelas Rp2 jutaan, Oppo A6C kini menjadi salah satu HP murah yang paling banyak diperbincangkan di pasar smartphone 2026.
Baca Juga: Oppo A6C Resmi Meluncur, HP Murah dengan Baterai 7000 mAh dan Desain Mirip iPhone 17 Pro Max
Editor : Fadhilah Salsa Bella