Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Agentic AI Ancam Dunia Kerja: Lebih Canggih dari Generative AI, Bisa Ambil Alih Keputusan Bisnis Tanpa Manusia

Maylanni Diana Fitri • Senin, 25 Mei 2026 | 15:40 WIB
Agentic AI disebut lebih canggih dari generative AI, mampu ambil keputusan bisnis dan ubah dunia kerja global.(pinterest)
Agentic AI disebut lebih canggih dari generative AI, mampu ambil keputusan bisnis dan ubah dunia kerja global.(pinterest)

Trenggalek Njenggelek – Agentic AI disebut sebagai lompatan besar dalam perkembangan kecerdasan buatan yang jauh melampaui generative AI, karena tidak hanya mampu membuat konten, tetapi juga mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara mandiri tanpa campur tangan manusia. Teknologi ini diprediksi akan mengubah industri, bisnis, hingga struktur pekerjaan global secara fundamental.

Perkembangan agentic AI menjadi sorotan utama dalam diskusi teknologi global 2025–2026. Teknologi ini digambarkan sebagai sistem kecerdasan buatan yang tidak hanya merespons perintah, tetapi juga mampu merencanakan strategi, mengeksekusi tugas kompleks, hingga mengoptimalkan proses bisnis secara otomatis. Berbeda dengan generative AI seperti ChatGPT yang fokus pada produksi teks, gambar, atau analisis data, agentic AI bekerja secara proaktif dan mandiri.

CEO NVIDIA, Jensen Huang, dalam berbagai forum teknologi menjelaskan bahwa era AI kini telah memasuki fase baru. Ia menyebut evolusi AI terbagi dalam empat tahap, yaitu perception AI, generative AI, agentic AI, dan physical AI. “Agentic AI adalah tenaga kerja digital baru yang bisa bekerja layaknya karyawan virtual,” menjadi salah satu gagasan yang disorot dalam perkembangan ini.

Agentic AI Diprediksi Gantikan Banyak Pekerjaan Rutin

Perbedaan paling mencolok antara generative AI dan agentic AI terletak pada tingkat otonominya. Jika generative AI membutuhkan instruksi manusia, agentic AI dapat menentukan tujuan, menyusun strategi, hingga mengeksekusi pekerjaan tanpa pengawasan intensif.

Baca Juga: Jabra Room Kit Resmi Diperkenalkan di ISE Barcelona, Solusi Meeting Hybrid Kini Bisa untuk Ruang Konferensi Besar

Teknologi ini sudah mulai diterapkan di berbagai sektor industri. Di bidang layanan pelanggan, sebuah perusahaan di California bernama EMA memanfaatkan agentic AI untuk menjawab keluhan pelanggan secara real time, bahkan mampu mendeteksi masalah pengiriman sebelum pelanggan menyadarinya. Sistem ini juga dapat memberikan kompensasi otomatis seperti diskon untuk meningkatkan kepuasan pengguna.

“Agentic AI membuat layanan lebih cepat, responsif, dan efisien,” menjadi salah satu dampak nyata yang terlihat di lapangan. Hal ini menunjukkan potensi besar teknologi ini dalam menggantikan tugas-tugas administratif dan operasional yang selama ini dikerjakan manusia.

Revolusi Industri: Dari Manufaktur hingga Penjualan Global

Di sektor manufaktur, agentic AI digunakan untuk memantau sensor mesin, menganalisis potensi kerusakan, hingga mencegah downtime produksi yang mahal. Perusahaan teknologi seperti Junia.ai di Jerman telah memanfaatkan sistem ini untuk mengoptimalkan energi dan menekan emisi karbon.

Baca Juga: Jabra Room Kit Resmi Diperkenalkan di ISE Barcelona, Solusi Meeting Hybrid Kini Bisa untuk Ruang Konferensi Besar

Sementara itu, di sektor penjualan, Salesforce mengembangkan sistem Agentforce yang ditargetkan mampu menciptakan miliaran agen AI untuk membantu tugas administratif seperti penjadwalan rapat dan pengelolaan email. CEO Salesforce menyebut teknologi ini akan mengubah cara tim bekerja dengan membagi peran antara manusia dan AI.

Tak hanya industri, perusahaan besar seperti Google, OpenAI, hingga lembaga riset seperti MIT juga mulai mengembangkan sistem agentic AI untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pemesanan tiket otomatis hingga penemuan material baru untuk riset ilmiah.

Dampak Besar bagi Tenaga Kerja dan Masa Depan Bisnis

Meski menawarkan efisiensi tinggi, kehadiran agentic AI juga memunculkan kekhawatiran besar terkait lapangan kerja. Banyak pekerjaan administratif, rutin, dan berbasis data diperkirakan akan tergantikan oleh sistem otomatis.

Namun, peran manusia tidak sepenuhnya hilang. Justru, tenaga kerja akan bergeser ke fungsi pengawasan, desain sistem, dan pengambilan keputusan strategis. Profesi baru seperti pengelola algoritma AI hingga spesialis etika AI diprediksi akan muncul seiring perkembangan teknologi ini.

Para ahli menilai bahwa keberhasilan implementasi agentic AI sangat bergantung pada regulasi, transparansi sistem, dan kualitas data. Tanpa pengawasan yang tepat, teknologi ini berpotensi menimbulkan bias dan kesalahan pengambilan keputusan yang berdampak besar.

Pada akhirnya, agentic AI dipandang sebagai alat transformasi besar dalam dunia industri. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memaksa manusia untuk beradaptasi dengan cara kerja baru yang lebih kolaboratif antara manusia dan mesin.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#agentic AI #perbedaan agentic AI dan generative AI #dampak AI terhadap pekerjaan #revolusi AI 2026 #teknologi kecerdasan buatan terbaru