TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Kamera Realme 15 Pro menyuguhkan kualitas jepretan foto yang sangat cemerlang berkat adopsi teknologi kecerdasan buatan. Konfigurasi lensa resolusi tinggi menjadi senjata utama gawai Rp 7 jutaan ini untuk memikat para pecinta fotografi seluler. Melalui ulasan terbaru David Gadgetin, sektor pencitraan gawai ini dibedah secara tuntas beserta fitur penyuntingan gambar teranyarnya.
Kemampuan fotografi pada kamera Realme 15 Pro ini bertumpu pada konfigurasi dua buah lensa belakang beresolusi besar. Pabrikan menyematkan kamera utama (wide) 50 megapiksel dan kamera sudut lebar (ultrawide) yang juga beresolusi 50 megapiksel. Sementara untuk kebutuhan swafoto, area depan gawai dipersenjatai oleh kamera selfie yang memiliki resolusi 50 megapiksel.
Karakteristik tangkapan gambar dari kamera Realme 15 Pro ini menonjolkan visualisasi warna yang terang dan jernih. Sistem pemrosesan gambar secara otomatis mendongkrak tingkat kecerahan serta ketajaman objek foto di berbagai kondisi pencahayaan. Hasil jepretan foto pada siang hari maupun malam hari menggunakan lensa utama terlihat sangat memukau dan cring.
Baca Juga: Performa Realme 15 Pro Ditenagai Chipset Snapdragon 7 Gen 4 dan Sistem Pendingin Es 7000 mm²
Fitur AI Editor Berbasis Perintah Suara di Dalam Galeri
Daya tarik utama dari sistem pencitraan gawai ini adalah kehadiran fitur AI Editor pintar yang tertanam langsung. Pengguna kini dapat melakukan proses penyuntingan foto tingkat lanjut di dalam aplikasi galeri bawaan ponsel tanpa bantuan pihak ketiga. Menariknya, sistem kecerdasan buatan ini dapat dioperasikan cukup dengan menggunakan perintah suara dari pengguna.
Sebagai contoh, pengguna tinggal mengucapkan prom suara seperti perintah untuk mengubah latar belakang foto menjadi pemandangan kota Paris. Sistem AI cloud secara otomatis akan memproses suara tersebut dan menggambar ulang latar belakang foto secara instan. Selain lewat perintah suara, proses input modifikasi objek gambar juga bisa dilakukan melalui ketikan teks manual.
Namun, hasil penyuntingan gambar menggunakan fitur AI berbasis komputasi awan ini masih memiliki keterbatasan resolusi yang cukup kentara. Detail foto hasil editan akhir cenderung memiliki resolusi lebih rendah atau low resolution dibandingkan dengan file foto aslinya. Sistem AI ini juga menggambar ulang seluruh elemen foto, bukan hanya menghapus objek spesifik yang diminta.
Kehadiran Fitur AI Landscape Offline dan Efek Party Mode
Selain fitur penyuntingan berbasis server cloud, ponsel pintar ini juga menyediakan opsi fitur AI pintar yang bekerja lokal. Fitur offline ini tidak membutuhkan koneksi internet aktif karena proses komputasi gambar langsung dieksekusi oleh mesin ponsel. Salah satunya adalah fitur AI Landscape yang berfungsi meningkatkan kejelasan warna serta clarity foto secara konsisten.
Tersedia pula fitur AI Party Mode yang secara kreatif mampu mengubah titik-titik cahaya latar belakang menjadi bentuk unik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa performa fitur offline ini bekerja lebih stabil serta memberikan hasil akhir yang rapi. Pihak pabrikan diproyeksikan akan terus meningkatkan kecerdasan sistem manipulasi gambar ini lewat pembaruan perangkat lunak ke depan.
Beralih ke sektor perekaman video, kamera utama bagian belakang sudah mendukung format perekaman hingga resolusi 4K 60 FPS. Kualitas visual rekaman video terbukti sangat tajam dengan pergerakan objek gambar yang tergolong cukup mulus di kelasnya. Kendati demikian, sistem kefokusan otomatis atau autofokus video dinilai masih menyisakan sedikit getaran minor saat merekam objek.
Baca Juga: Spesifikasi Realme 15 Pro Hadirkan Desain Marmer Mewah dan Baterai Badak 7.000 mAh
Dua Kekurangan Utama yang Wajib Dipertimbangkan Konsumen
Di balik segala kemewahan spesifikasi yang ditawarkan, gawai kelas menengah ini memiliki dua buah kekurangan krusial yang nyata. Minus utama yang paling disayangkan adalah absennya keberadaan lensa ketiga berupa kamera telefoto atau lensa zoom terdedikasi. Pada peta persaingan pasar, beberapa kompetitor di kelas harga serupa sudah mulai menyediakan tiga kamera belakang.
Absennya lensa telefoto ini tentu menjadi bahan pertimbangan serius bagi konsumen yang sering mengabadikan momen dari jarak jauh. Kekurangan kedua terletak pada komponen sensor motor getar atau haptic feedback yang ditanamkan di dalam bodi mesin. Sensasi getaran saat mengetik di keyboard terasa kurang mantap dan cenderung hanya memberikan efek geli-geli saja.
Kekurangan mesin getar ini dinilai kurang sepadan untuk sebuah ponsel pintar premium yang dipasarkan di angka Rp 7 jutaan. Namun, jika konsumen tidak terlalu mementingkan fitur kamera zoom dan kualitas getaran, gawai ini tetap menjadi pilihan solid. Setiap produsen gawai seperti Vivo, Xiaomi, dan Samsung tentu memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing di pasar.
Sumber : You Tube