TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Asus smartphone menghadapi perubahan besar setelah ASUS menyatakan tidak akan menghadirkan model ponsel baru dalam waktu mendatang. Keputusan ini membuat masa depan Zenfone dan ROG Phone menjadi perhatian, terutama bagi pengguna yang selama ini mengandalkan ponsel ASUS untuk kebutuhan harian maupun gaming.
Informasi tersebut disampaikan dalam acara internal ASUS Year End Gala di Taiwan pada Januari 2026. Dalam acara tersebut, perusahaan memaparkan perkembangan bisnis selama 2025 sekaligus arah strategi untuk tahun berikutnya.
ASUS diketahui memiliki dua lini utama smartphone, yakni Zenfone dan ROG Phone. Keduanya memiliki karakter berbeda. Zenfone lebih dikenal sebagai ponsel yang ringkas dan menawarkan performa tinggi, sedangkan ROG Phone menyasar pengguna yang membutuhkan perangkat khusus untuk gaming.
Baca Juga: Asus ROG Phone 9 Pro Rp21 Juta, Gaming Maksimal dengan Fitur yang Tak Biasa
Perjalanan ASUS di industri smartphone dimulai pada 2014 ketika perusahaan memperkenalkan Zenfone. Kehadiran seri tersebut membawa persaingan baru melalui kombinasi spesifikasi dan harga yang kompetitif.
Nama ASUS semakin kuat di Indonesia setelah Zenfone Max Pro M1 meluncur pada 2018. Smartphone tersebut membawa Snapdragon 636, baterai 5.000 mAh, serta sistem operasi yang mendekati Android stok.
Kombinasi itu membuat Zenfone Max Pro M1 mendapat respons besar dari konsumen. Ponsel tersebut bahkan sempat sulit ditemukan di pasaran. Kemampuan gaming, daya tahan baterai, dan fitur triple-slot untuk dua kartu SIM serta microSD menjadi beberapa hal yang membuatnya populer.
ASUS kemudian memasuki pasar smartphone gaming dengan ROG Phone. Lini ini menawarkan berbagai fitur khusus gaming, seperti sistem pendingin, layar dengan refresh rate tinggi, AirTrigger, serta dukungan aksesori.
ROG Phone pun berkembang menjadi salah satu produk yang identik dengan smartphone gaming berperforma tinggi.
Baca Juga: ASUS ROG Strix G16 RTX 5060 Rp26 Jutaan, Bawa Ryzen 9 8940HX dan Layar 240Hz
Keputusan menghentikan pengembangan model smartphone baru tidak lepas dari perubahan strategi bisnis ASUS. Perusahaan kini ingin memberikan perhatian lebih besar kepada PC komersial, perangkat berbasis kecerdasan buatan atau AI, serta produk teknologi lainnya.
Pasar AI dinilai memiliki peluang pertumbuhan yang besar. Dengan sumber daya penelitian dan pengembangan yang dimiliki, ASUS dapat mengarahkannya ke produk seperti AI PC dan perangkat cerdas.
Selain perubahan strategi, industri smartphone juga menghadapi tekanan biaya komponen. Kenaikan harga RAM menjadi salah satu faktor yang disebut dalam pembahasan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya produksi, terutama bagi produsen yang harus bersaing ketat di pasar dengan margin terbatas.
Persaingan smartphone juga semakin padat. Produsen besar menawarkan perangkat dengan spesifikasi tinggi, kamera yang semakin berkembang, serta strategi harga agresif.
Dukungan software menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pengguna. Penghentian model baru berpotensi membuat konsumen tidak lagi mendapatkan generasi penerus Zenfone maupun ROG Phone dalam waktu dekat.
Karena itu, konsumen yang sedang mempertimbangkan membeli perangkat ASUS lama juga perlu memperhatikan ketersediaan garansi, layanan purna jual, serta dukungan perangkat lunak sebelum membeli.
Baca Juga: ROG Strix SCAR 16 vs ASUS ROG G701, Jarak 8 Tahun Bikin Performa Naik hingga 10 Kali Lipat
Berhentinya pengembangan model baru bukan berarti perjalanan ASUS di dunia teknologi berakhir. Perusahaan masih memiliki bisnis PC, laptop gaming, dan berbagai produk berbasis AI.
Bagi penggemar Zenfone dan ROG Phone, perubahan tersebut tentu menjadi babak baru. ASUS sebelumnya dikenal berani menghadirkan inovasi berbeda di pasar smartphone, mulai dari Zenfone Max Pro M1 hingga berbagai teknologi pada ROG Phone.
Kini, perhatian perusahaan bergeser ke sektor lain. Masa depan Asus smartphone pun masih menyisakan pertanyaan: apakah ASUS benar-benar meninggalkan pasar ponsel atau suatu saat kembali dengan konsep baru yang lebih sesuai dengan arah industri.
Editor : Putri Dwi LestariSumber : Diolah dari berbagai sumber