Trenggaleknjenggelek- Ada spot cukup menarik ketika memasuki Jalan Soekarno Hatta menuju alun-alun Trenggalek. Tepatnya di simpang tiga Taman Basuki. Tepat di pojok jalan sisi barat, terdapat Taman Brawijaya. Ini menjadi salah satu ikon cukup menarik di Trenggalek.
Terlebih kini Taman Brawijaya semakin mempesona. Pemkab Trenggalek beberapa kali merenovas tempat tersebut sampai akhirnya menjadi seperti sekarang. Tak hanya itu, beberapa ornament serta lampu hias juga dipasang. Area sekitar bangunan mirip candi itu juga diplaster dengan kombinasi rumput.
Tak hanya itu, di beberapa sisi juga terdapat gazebo yang bisa dipakai pengunjung untuk beristirahat sejenak. Pagar tembok yang dulu membatasi bangunan tersebut juga sudah dibongkar. Kini tak lagi ada pembatas antara area taman dengan trotoar. Ini membuat Taman Brawijaya semakin mudah dilihat, utamanya pengguna jalan yang melintas.
Informasi yang berhasil dihimpun, Taman Brawijaya sempat berganti beberapa nama. Salah satunya Candi Brawijaya. Namun nama itu sempat menjadi polemik. Utamanya bagi pemerhati Sejarah. Sebab, tempat itu bukanlah candi sebenarnya. Karena itulah, tidak tepat jika diberinama Candi Brawijaya.
“Dulu memang sempat jadi polemik dengan nama candi. Karena itu bukan candi, dan memang bukan. Itu lebih cocok replika,” ungkap Riyanto, salah seorang warga setempat.
Pantauan di lokasi, bangunan yang ada di Taman Brawijaya tersebut ternyata dibuat dari batu bata, pasir, dan semen. Kemudian dibentuk mirip dengan candi.
Yang lebih mengejutkan, jauh sebelum direnovasi, Taman Brawijaya juga dikenal dengan nama candi pesing. Ini lantaran tempat tersebut kerap digunakan orang dalam gangguan jiwa (ODGJ) untuk buang air kecil, tidur, dan beraktivitas lainnya. Akhirnya tempat tersebut menjadi bau tak sedap.
“Memang sempat itu Namanya Candi Pesing. Itu mungkin sekitar tahun 90-an atau sebelumnya. Kala itu masih ada bangunan dinding pembatas,” kata Dimas Rendi, salah seorang warga yang kerap melintasi kawasan tersebut. (wen)