Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Novita Hardini Minta Jaranan Turonggo Yakso Masuk Warisan Budaya Tak Benda

Akhmad Nur Khoiri • Sabtu, 19 April 2025 | 17:00 WIB
Kesenian Jaranan Turonggo Yakso yang Didorong untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda oleh Novita Hardini.
Kesenian Jaranan Turonggo Yakso yang Didorong untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda oleh Novita Hardini.

Trenggaleknjenggelek - Anggota DPR RI Komisi VII, Novita Hardini kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap pelestarian budaya lokal. 

Dalam rangkaian kegiatan promosi wisata bersama Kementerian Pariwisata, Novita mendorong agar pemerintah pusat melirik kesenian Jaranan Turonggo Yakso khas Kabupaten Trenggalek untuk diusulkan sebagai warisan budaya tak benda.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek ini menegaskan pentingnya pengakuan resmi.

Hal ini dimaksudkan agar kesenian tradisional tersebut tidak diklaim negara lain, mengingat Jaranan Turonggo Yakso sudah mulai dikenal hingga ke ranah internasional.

Dirinya berharap Jaranan Turonggo Yakso milik Trenggalek bisa dilirik oleh Kementrian Pariwisata. 

"Karena kita tahu jaranan ini sudah disuarakan dan dipertunjukkan di ranah global. Salah satunya di Korea dengan jogetannya Oppan Gangnam Style,” ucapnya (12/4/2025).

Ia menambahkan bahwa kesenian tersebut bahkan sempat dibawa dan ditampilkan di Finlandia, sebagai bukti bahwa Jaranan Turonggo Yakso sudah menembus batas budaya lokal.

Dirinya merasa was-was jikalau nasib Jaranan Turonggo Yakso sampai seperti keadaan Batik yang diklaim Malaysia.

 Baca Juga: Target PAD Wisata Trenggalek Naik Jadi Rp 10 Miliar

"Maka ini harus segera diperjuangkan oleh Pemerintah Indonesia, di wilayah pesisir ini, di wilayah Mataraman kita punya Jaranan Turonggo Yakso. Yang tidak kalah filosofis dan menarik daripada Reog Ponorogo,” imbuhnya.

Turonggo Yakso, lanjut Novita, memiliki filosofi yang mendalam dan sarat nilai edukatif. 

Yakso menggambarkan buto atau raksasa, simbol angkara murka, sementara Turonggo melambangkan kuda yang menjadi perlambang keberanian dan kekuatan. 

Keduanya merepresentasikan perjuangan melawan sisi gelap dalam diri manusia. 

Karena itu, ia menyebut Turonggo Yakso layak menjadi the next warisan budaya tak benda milik Indonesia.

Lebih jauh, Novita menekankan pentingnya memperkenalkan kesenian ini kepada anak-anak generasi masa kini sebagai media edukasi karakter. 

Menurutnya hal ini harus menjadi satu gerakan, bahwa ini media edukasi bagi anak-anak Gen-C.

"Karena kalau tidak diedukasi mulai dari keseniannya maka Gen-C lagi-lagi mungkin bisa pintar dalam sisi akademisnya, tapi dari segi moral dan sebagainya sedikit kosong karena orang tuanya ada mis pendidikan di sini,” ungkapnya.

Ia pun menutup pernyataannya dengan ajakan agar pemerintah serius mengawal pendidikan karakter sejak usia dini. 

“Maka saya minta Pemerintah Indonesia mengawal betul pendidikan pada anak-anak usia dini. Dikenalkan kesenian-kesenian kita dan kita harus bangga ini lahir dari Indonesia dan disuarakan di kancah dunia,” pungkas Novita. (kho)

Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Akhmad Nur Khoiri
#Turonggo Yakso #novita hardini #jaranan #warisan budaya tak benda