Trenggaleknjenggelek - Di era ketika satu foto sunset bisa lebih penting dari momen itu sendiri, liburan kerap berubah fungsi.
Bukan lagi ruang jeda dari rutinitas, melainkan ajang pembuktian bahwa hidup kita seru, estetik, dan tentu saja, layak dikagumi. Tapi benarkah liburan harus selalu terlihat?
Sebagian dari kita pernah terjebak di fase itu. Buru-buru mengeluarkan ponsel ketika makanan tiba, atau memilih destinasi karena “Instagramable”, bukan karena benar-benar ingin ke sana.
Kita menjelajahi tempat asing sambil sibuk memikirkan caption. Yang kita kejar bukan lagi keheningan atau ketenangan, tapi validasi. Kita sibuk mengisi feed, padahal niat awalnya adalah mengisi ulang energi.
Baca Juga: Bukan Plot Twists: 5 Rekomendasi Anime Buat Kamu yang Butuh Healing
Padahal ada seni liburan yang jauh lebih sunyi namun jujur, tidak memamerkan apa-apa. Liburan yang tidak terdokumentasi bukan berarti gagal.
Justru kadang, ketidakhadiran di media sosial bisa jadi bukti kehadiran penuh di dunia nyata. Momen-momen itulah yang paling utuh.
Ketika kamu tertawa tanpa harus merekamnya, ketika kamu bangun pagi dan menghirup udara baru tanpa harus menjelaskannya ke siapa pun.
Liburan semacam ini lebih sulit dilakukan, karena tidak ada likes yang menegaskan bahwa kamu bahagia. Kamu hanya punya dirimu sendiri.
Tapi justru di situ tantangannya, apakah kamu bisa menikmati sesuatu tanpa perlu membuat orang lain tahu?
Baca Juga: Fakta Menarik di Balik Game Lawas yang Dulu Bikin Nagih: Tetris, Harvest Moon, Mario, dan Snake
Menepi dari sorotan media sosial bukan berarti anti teknologi atau sedang healing secara ekstrem. Ini soal memilih antara menikmati pengalaman atau menjual pengalaman itu. Antara benar-benar hadir, atau sekadar tampil.
Dan siapa sangka, diam-diam banyak orang mulai merindukan gaya liburan yang lebih diam. Tren “digital detox travel”, slow traveling, atau bahkan staycation tanpa sinyal mulai tumbuh.
Generasi yang dibesarkan dengan koneksi tanpa henti mulai sadar, bahwa terputus dari internet sesekali bisa jadi bentuk paling tulus dari koneksi, setidaknya dengan diri sendiri.
Liburan seharusnya jadi ruang pribadi, bukan panggung umum. Tempat kamu bisa rapuh, rehat, bahkan bosan tanpa tekanan untuk membuat semuanya tampak sempurna.
Karena hidup yang tenang tidak selalu layak dijadikan konten. Kadang, cukup untuk dirayakan diam-diam. Jadi, liburan berikutnya, bagaimana kalau kamu simpan untuk diri sendiri saja? Atau isi saja feedmu. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom