TRENGGALEKNJENGGELEK - Hutan mangrove Jawa Timur tercatat sebagai yang terluas se-Pulau Jawa.
Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2024 yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas kawasan mangrove di provinsi ini mencapai 30.839 hektar.
Angka tersebut menempatkan Jawa Timur di posisi strategis dalam peta ekosistem mangrove di pesisir nasional.
Sebaran mangrove Jawa Timur melintasi berbagai kabupaten, terutama di wilayah pesisir utara dan selatan.
Beberapa daerah yang memiliki kawasan mangrove cukup luas antara lain Kabupaten Banyuwangi, Probolinggo, Sidoarjo, Tuban, Pasuruan, dan Trenggalek.
Keberadaan hutan mangrove ini tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat pesisir.
Jawa Timur memiliki garis pantai yang panjang dan beragam karakteristik laut.
Dengan luas mangrove mencapai 30 ribu hektar lebih, provinsi ini turut menjadi benteng alami terhadap ancaman abrasi, gelombang tinggi, dan intrusi air laut yang bisa merusak kawasan daratan.
Akar mangrove yang rapat berperan penting dalam menjaga kestabilan tanah pesisir dan menjadi habitat berbagai jenis ikan, kepiting, udang, serta kerang.
Sebagai wilayah maritim dengan jumlah nelayan dan tambak yang tinggi, Jawa Timur diuntungkan oleh keberadaan kawasan mangrove yang luas.
Selain fungsi ekologis, hutan mangrove menjadi tempat berkembang biak biota laut yang kemudian memberi manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.
Banyak hasil laut yang ditangkap nelayan berasal dari kawasan sekitar mangrove karena menjadi lokasi persembunyian dan pembesaran alami.
Di sisi lain, mangrove juga menjadi aset strategis dalam mitigasi perubahan iklim.
Kajian lingkungan menyebutkan bahwa hutan mangrove mampu menyerap emisi karbon hingga empat kali lebih besar dibandingkan hutan tropis lainnya.
Dengan luas mencapai 30.839 hektar, mangrove Jawa Timur memiliki potensi besar dalam mendukung target penurunan emisi nasional.
Peta Mangrove Nasional 2024 yang dirilis KLHK menjadi rujukan penting bagi pengelolaan wilayah pesisir.
Dari data tersebut, terlihat bahwa beberapa provinsi di Pulau Jawa memiliki mangrove dalam luasan yang relatif kecil dibandingkan Jawa Timur.
Sebagai perbandingan, luas mangrove di Jawa Barat sekitar 12.429 hektar dan di Banten sekitar 3.750 hektar.
Jawa Timur unggul jauh, menunjukkan pentingnya peran provinsi ini dalam konteks perlindungan ekosistem pesisir di skala regional.
Sebaran mangrove juga memperlihatkan konsentrasi yang tinggi di kawasan selatan seperti Teluk Pangpang di Banyuwangi dan Pantai Cengkrong di Trenggalek.
Di wilayah utara, kawasan seperti Delta Brantas di Sidoarjo dan kawasan pesisir Probolinggo juga memiliki ekosistem mangrove yang vital.
Ini menunjukkan bahwa sebaran mangrove di Jawa Timur relatif merata, tidak hanya terkonsentrasi di satu titik.
Ke depan, data mangrove ini dapat digunakan sebagai dasar perencanaan tata ruang wilayah pesisir, termasuk untuk pengembangan perikanan, pariwisata, dan mitigasi bencana.
Luasnya kawasan mangrove menjadi keunggulan sekaligus tanggung jawab besar bagi Jawa Timur agar dapat mengelola aset ekologis ini secara berkelanjutan.
Hutan mangrove bukan hanya soal pelestarian alam, tetapi juga terkait langsung dengan ketahanan ekonomi pesisir dan perlindungan kawasan dari risiko alam.
Dengan luasan mencapai 30.839 hektar, hutan mangrove Jawa Timur menjadi elemen penting dalam keberlanjutan wilayah pesisir Pulau Jawa secara keseluruhan.