TRENGGALEK NJENGGELEK-Jalur Tracking Gunung Wilis menawarkan pengalaman berjalan kaki yang berbeda dari sekadar wisata alam biasa. Berangkat dari kawasan Bukit Paralayang di lereng selatan Gunung Wilis, perjalanan ini mengajak pejalan menyusuri jalur sunyi yang masih alami, melewati dusun pegunungan, hutan lembap, hingga puncak yang menyuguhkan ketenangan.
Perjalanan diawali dari gerbang masuk kawasan paralayang. Tanpa hiruk pikuk, tanpa rencana rumit, langkah kaki dimulai perlahan meninggalkan jalur motor. Jalan setapak menanjak menjadi awal cerita, diapit tebing batu yang kokoh, aliran sungai kecil yang terus mengalir, serta suara air terjun yang jatuh di kejauhan. Suasana pagi di lereng selatan Gunung Wilis terasa sejuk dan menenangkan.
Udara Sejuk Lereng Selatan Wilis
Udara pagi Gunung Wilis bukan sekadar dingin, melainkan memberi efek menenangkan. Setiap tarikan napas seolah membersihkan kepala dari riuh aktivitas perkotaan. Jalur tracking terus menanjak dengan kontur yang bervariasi, kadang menyempit, kadang terbuka. Tanah lembap, dedaunan basah, dan aroma hutan menjadi teman setia sepanjang perjalanan.
Sekitar 30 menit berjalan kaki, Dusun Gemblung akhirnya menyambut. Dusun kecil di sisi selatan Gunung Wilis ini terasa seperti potongan masa lalu yang masih terjaga. Rumah-rumah sederhana berdiri tenang tanpa suara mesin atau keramaian. Kehidupan berjalan apa adanya, membuat waktu seakan melambat.
Dusun Gemblung, Potret Hidup Sederhana
Warga Dusun Gemblung menyambut pejalan dengan senyum hangat dan sapaan tulus. Keramahan yang tidak dibuat-buat menjadi kesan kuat bagi siapa pun yang singgah. Dusun ini bukan sekadar tempat persinggahan, tetapi pengingat bahwa hidup sederhana tidak selalu berarti hidup kekurangan.
Dari Dusun Gemblung, perjalanan dilanjutkan melalui jalur alternatif menuju Puncak Kromodipo. Jalur ini bukan jalur umum, melainkan rute baru yang lebih alami dan sepi. Vegetasi semakin rapat, udara semakin dingin, dan kabut mulai turun perlahan, menciptakan suasana yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Menuju Puncak Kromodipo
Semakin tinggi melangkah, jalur terasa semakin menantang. Beberapa bagian cukup curam sehingga memaksa pejalan mengatur napas dan langkah. Kabut tipis membuat perbukitan hijau di sekitar tampak samar, muncul dan menghilang. Di tengah perjalanan, rombongan berhenti sejenak di area datar, menikmati kopi hangat dan bekal sederhana.
Momen sederhana itu justru menjadi salah satu titik paling berkesan. Tubuh yang lelah, udara dingin, kabut tipis, dan secangkir kopi menciptakan rasa syukur yang sulit dijelaskan. Obrolan ringan tentang perjalanan dan kehidupan mengalir tanpa paksaan.
Saat akhirnya tiba di Puncak Kromodipo, tidak ada sorakan kemenangan. Rombongan memilih diam. Angin berhembus pelan, langit terbuka luas, dan pandangan mengarah ke jajaran perbukitan selatan. Di sini, puncak bukan soal ketinggian, melainkan tentang proses dan sampai.
Sabana Kecil dan Jalur Turun
Perjalanan dilanjutkan menuruni jalur berbeda. Lanskap berubah menjadi sabana kecil yang diselingi perkebunan warga. Hamparan hijau, langit biru, dan sinar matahari yang mulai hangat menjadi hadiah perjalanan. Sekitar satu setengah jam setelah meninggalkan Dusun Gemblung, rombongan tiba kembali di kawasan Bukit Paralayang.
Rute jalur tracking Gunung Wilis ini membentuk lingkaran perjalanan yang nyaris sempurna. Bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga memberi pengalaman batin. Jalur ini mengajarkan untuk melangkah pelan, menghargai alam, dan pulang dengan hati yang lebih tenang.
Bagi pencinta wisata alam yang mencari jalur tracking alami dan penuh kejutan, rute Paralayang–Gemblung–Kromodipo layak masuk daftar tujuan. Datanglah dengan niat baik, melangkah dengan hati-hati, dan biarkan alam Gunung Wilis menyampaikan ceritanya sendiri.
Editor : Ichaa Melinda Putri