Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Misteri Danau Satonda, Danau Purba Asin di NTB yang Menyimpan Ular Piton, Burung Gosong, hingga Jejak Tsunami Tambora

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Senin, 26 Januari 2026 | 14:30 WIB
Misteri Danau Satonda, Danau Purba Asin di NTB yang Menyimpan Ular Piton, Burung Gosong, hingga Jejak Tsunami Tambora
Misteri Danau Satonda, Danau Purba Asin di NTB yang Menyimpan Ular Piton, Burung Gosong, hingga Jejak Tsunami Tambora

TRENGGALEK NJENGGELEK – Danau Satonda kembali mencuri perhatian lewat ekspedisi tim Jejak Petualang yang menyingkap keunikan danau purba berusia puluhan ribu tahun di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Terletak di tengah Pulau Satonda, danau ini dikenal memiliki kadar garam tinggi yang bahkan melebihi air laut di sekitarnya.

Pulau Satonda sendiri memiliki luas lebih dari 2.500 hektare, dengan sekitar 75 persen wilayahnya berupa perairan. Keindahan alam dan keunikan ilmiahnya menjadikan Danau Satonda sebagai destinasi favorit wisatawan, termasuk kapal-kapal phinisi yang kerap bersandar untuk menikmati panorama alam vulkanis yang eksotis.

Danau Asin di Tengah Pulau Vulkanik

Danau Satonda merupakan telaga yang berada di tengah kaldera gunung api purba. Penelitian ilmiah menunjukkan tingkat salinitas dan kandungan basa air danau ini sangat tinggi, sehingga hanya sedikit jenis ikan yang mampu bertahan hidup. Bahkan, ikan yang pernah dipancing dari danau ini disebut memiliki rasa yang tidak lazim.

Fenomena ini diyakini berkaitan erat dengan letusan Gunung Tambora pada masa lampau. Letusan dahsyat tersebut memicu tsunami yang membawa air laut masuk ke kawah, lalu terperangkap dan bercampur dengan batuan vulkanik. Kondisi ini menjadikan Danau Satonda mirip dengan gambaran laut purba yang kini jarang ditemukan di dunia.

Habitat Burung Gosong dan Ular Piton

Tak hanya menyimpan keunikan geologi, Danau Satonda juga menjadi rumah bagi beragam fauna. Salah satunya burung gosong kaki merah, satwa endemik yang memiliki cara berkembang biak unik. Burung ini tidak mengerami telurnya, melainkan menyimpannya di dalam tanah hingga kedalaman dua meter, memanfaatkan panas alami untuk menetaskan telur.

Strategi bertahan hidup burung gosong ini semakin cerdas dengan membuat banyak lubang palsu untuk mengecoh predator. Namun, rantai makanan di pulau ini tetap berjalan alami. Tim ekspedisi bahkan menemukan ular piton yang mengintai di sekitar sarang, menunggu mangsa berupa telur atau induk burung.

Pulau Satonda memang dikenal sebagai habitat ideal bagi ular piton. Suhu yang hangat dan lembap menjadi kondisi sempurna bagi reptil ini untuk berjemur dan mencerna mangsanya.

Kelelawar dan Flora Berkhasiat Obat

Selain reptil dan burung, gua-gua di Pulau Satonda juga dihuni koloni kelelawar dalam jumlah besar. Bau amoniak yang menyengat menjadi ciri khas sarang mereka, menandakan ekosistem alami yang masih terjaga.

Dalam perjalanan tracking sejauh lebih dari 1,5 kilometer, tim juga menemukan berbagai flora berkhasiat obat. Mulai dari tembelekan (Lantana camara) yang dipercaya dapat meredakan nyeri dan pegal, hingga pohon songga yang dimanfaatkan masyarakat lokal untuk pengobatan diabetes.

Pohon Harapan dan Panorama dari Ketinggian

Salah satu daya tarik lain Danau Satonda adalah pohon berbuah batu di tepi danau, dikenal sebagai pohon tula atau Drypetes costata. Hingga kini belum diketahui pasti asal-usul tradisi menggantung batu di pohon tersebut. Namun, pengunjung kerap menggantungkan batu sambil menyematkan harapan, menjadikan lokasi ini simbol doa dan refleksi diri.

Setelah mendaki hingga puncak, panorama Danau Satonda tampak begitu memukau. Hamparan air asin yang tenang dikelilingi hijau pepohonan menghadirkan kontras alam yang jarang dijumpai di tempat lain.

Laut Kaya, Darat Menyimpan Pangan Lokal

Meski hasil perikanan di Danau Satonda terbatas, perairan di sekitarnya justru kaya ikan, seperti cakalang dan tongkol. Nelayan lokal masih mempertahankan teknik tangkap tradisional menggunakan jaring puka cincin, mencerminkan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Di daratan, Pulau Satonda juga dijuluki Pulau Ubi Gadung. Umbi gadung menjadi sumber pangan alternatif warga saat paceklik. Namun, proses pengolahannya tidak sederhana karena mengandung racun dioskorin. Proses penjemuran, perendaman, hingga pencucian dilakukan selama hampir satu minggu agar aman dikonsumsi.

Sejak 2022, Pulau Satonda resmi ditetapkan sebagai taman nasional oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Status ini menjadi pengingat bahwa kekayaan alam Danau Satonda bukan untuk dieksploitasi, melainkan dijaga sebagai warisan alam dan ilmu pengetahuan bagi generasi mendatang.

Editor : Dimas Galih Nur Hendra Saputra
#Wisata #alam #keindahan #Wisatawan #pesona indonesia