Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Menyusuri Desa Adat Gelar Alam di Kaki Gunung Halimun, Hidup Tanpa Uang, Punya Cadangan Pangan 95 Tahun

Findika Pratama • Jumat, 30 Januari 2026 | 14:30 WIB

Menyusuri Desa Adat Gelar Alam di Kaki Gunung Halimun, Hidup Tanpa Uang, Punya Cadangan Pangan 95 Tahun
Menyusuri Desa Adat Gelar Alam di Kaki Gunung Halimun, Hidup Tanpa Uang, Punya Cadangan Pangan 95 Tahun

TRENGGALEK NJENGGELEK – Perjalanan menuju Desa Adat Gelar Alam bukanlah perjalanan biasa. Dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, rombongan harus melewati jalur menanjak dan medan menantang hingga mencapai ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (MDPL) di kaki Gunung Halimun. Namun, semua lelah terbayar lunas saat tiba di kawasan kasepuhan yang masih teguh menjaga warisan leluhur Sunda ini.

Tersembunyi di tengah hutan, Desa Adat Gelar Alam merupakan bagian dari komunitas Kasepuhan yang hidup selaras dengan alam. Masyarakatnya menjalankan pertanian tradisional tanpa bahan kimia, mengikuti kalender adat, dan memegang teguh filosofi hidup turun-temurun.

Desa ini bukan destinasi wisata, melainkan ruang hidup budaya yang terbuka bagi siapa saja yang datang dengan niat menghormati adat.

Baca Juga: Wisata Gunung Kelud Kediri Makin Nyaman! Naik Ojek Rp50 Ribu, Jalur Cor Baru, Spot Foto Kawah dan Tebing Bikin Takjub

Imah Gede, Jantung Kehidupan Adat

Setibanya di desa, tamu akan diarahkan ke Imah Gede, rumah besar yang menjadi pusat kegiatan adat sekaligus kediaman pemimpin tertinggi kasepuhan, Abah Ugi. Bangunan ini dianggap paling sakral karena menjadi tempat musyawarah adat, ritual, hingga penyelenggaraan upacara besar seperti Seren Taun atau panen raya.

Seluruh bagian Imah Gede dibangun dari bahan alam. Dinding bilik bambu, tiang bercagak dari kayu, serta atap daun salak yang dipasang terbalik agar berfungsi sebagai pelindung dari hujan. Desain rumah panggung membuat bangunan aman dari serangan binatang dan menjaga sirkulasi udara tetap sehat.

Baca Juga: 10 Wisata Gunung di Cina Paling Spektakuler: Ada Lift Tertinggi 326 Meter, Skywalk Kaca, hingga Bandara di Puncak Gunung!

Tamu Adalah Saudara, Bukan Wisatawan

Salah satu hal yang paling membekas dari Desa Adat Gelar Alam adalah konsep menerima tamu. Tidak ada tarif menginap, tidak ada harga makanan, dan tidak ada transaksi jual beli. Semua yang datang dianggap sebagai saudara.

Namun, masyarakat adat menegaskan bahwa “gratis” bukan berarti tanpa nilai. Setiap tamu dianjurkan membawa bekal atau memberikan kontribusi sebagai bentuk terima kasih, bukan sebagai pembayaran. Filosofi ini menekankan rasa saling menghargai, bukan hubungan ekonomi.

Baca Juga: Naik Ojek Makam Sunan Muria Bikin Jantung Mau Copot! Penghasilan Bisa Rp700 Ribu Sehari, Rompi Ojeknya Pernah Laku Rp277 Juta

Dapur Besar dan Gotong Royong

Aktivitas dapur menjadi gambaran nyata kehidupan komunal di desa ini. Dapur berukuran besar berfungsi melayani kebutuhan warga dan tamu setiap hari. Sejak pukul tiga dini hari, para ibu sudah mulai memasak menggunakan tungku kayu bakar.

Menariknya, meski api menyala besar, asap tidak memenuhi ruangan karena sistem sirkulasi udara alami yang sangat baik. Rumah-rumah di desa ini juga tidak menggunakan pendingin udara karena suhu alam di ketinggian sudah sangat sejuk.

Baca Juga: 12 Wisata Pangandaran Paling Hits untuk Liburan: Bukan Cuma Pantai, Ada Green Canyon sampai Museum Nyamuk yang Bikin Penasaran!

Lumbung Padi dan Ketahanan Pangan

Keistimewaan lain dari Desa Adat Gelar Alam terletak pada sistem ketahanan pangannya. Padi dianggap sebagai makhluk hidup yang harus dihormati. Gabah disimpan di lumbung-lumbung padi yang disebut leit, tanpa batas waktu kedaluwarsa.

Berdasarkan perhitungan adat, total cadangan padi dari seluruh kasepuhan mencapai sekitar 12.000 ikat dan diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan hingga 95 tahun. Salah satu lumbung paling sakral adalah Leuit Si Jimat, yang berfungsi sebagai tabungan komunal dan cadangan pangan saat paceklik.

Baca Juga: 7 Pantai Garut Paling Populer dan Hit: Ada yang Airnya Jernih Banget Sampai Dasar Laut Kelihatan, Cocok Buat Camping Ceria!

Pindah Desa Tanpa Alat Berat

Fakta menarik lainnya, Desa Adat Gelar Alam merupakan hasil perpindahan dari Kasepuhan Cipta Gelar sejak sekitar 2022. Seluruh bangunan dipindahkan secara gotong royong oleh ribuan warga tanpa alat berat, hanya menggunakan cangkul dan tenaga manusia.

Hingga kini, beberapa area masih terlihat tanah merah sebagai tanda proses adaptasi alam. Namun, semangat gotong royong dan kesadaran kolektif membuat desa ini perlahan tertata rapi.

Keberadaan Desa Adat Gelar Alam menjadi bukti bahwa nilai leluhur, kehidupan harmonis dengan alam, dan ketahanan pangan berbasis tradisi masih relevan di tengah krisis modern. Sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam, bukan menguasainya.

Editor : Findika Pratama
#Desa Adat Gelar Alam #seren taun #Imah Gede #Gunung Halimun #Kasepuhan Gelar Alam