TRENGGALEK NJENGGELEK – Pantai Pelang Trenggalek memang sudah lama dikenal sebagai salah satu destinasi favorit wisata bahari di pesisir selatan Jawa Timur. Namun, di balik popularitas tersebut, tersimpan sebuah lokasi eksotis yang justru jarang tersentuh sorotan media. Lokasi ini berada di perbatasan antara Pantai Pelang dan Pantai Kili-kili, tepatnya di wilayah Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek.
Berbeda dengan Pantai Pelang Trenggalek yang kerap padat pengunjung saat musim liburan, kawasan perbatasan ini justru menawarkan suasana sepi, alami, dan masih sangat perawan.
Hamparan pasir halus tanpa jejak manusia, deretan batu karang besar, serta panorama laut lepas menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari ketenangan.
Jalur Alternatif Menuju Pantai Pelang Trenggalek
Untuk mencapai lokasi ini, pengunjung dapat melintasi jalur utama menuju Pantai Pelang Trenggalek. Dari arah Pacitan, wisatawan dapat berbelok kanan di kawasan Karang, Desa Wonocoyo. Sementara dari arah Trenggalek, jalur diambil dengan berbelok kiri menuju Dusun Bendo Golor.
Menariknya, kawasan ini juga kerap dimanfaatkan sebagai jalur alternatif menuju Pantai Pelang, terutama saat tarif tiket masuk mengalami kenaikan pada momen tertentu seperti libur tahun baru. Ketika air laut surut, sebagian pengunjung memilih melintas lewat pesisir pantai untuk menghindari antrean dan biaya masuk.
Panorama Karang dan Spot Foto Alami
Ciri khas kawasan perbatasan Pantai Pelang dan Pantai Kili-kili ini adalah formasi batu karang besar yang oleh warga setempat dikenal dengan istilah “ngesong”. Posisi karang yang menjorok ke laut menciptakan sudut-sudut alami yang cocok dijadikan spot foto, terutama saat kondisi air laut sedang surut.
Namun, wisatawan tetap diimbau berhati-hati. Saat air laut pasang, area ini akan tergenang sepenuhnya dan berpotensi berbahaya. Selain itu, ombak selatan yang cukup kuat juga perlu diwaspadai.
Aktivitas Warga: Mencari Undur-undur Bernilai Ekonomi
Di balik keindahan alamnya, kawasan ini juga menjadi ruang hidup bagi masyarakat sekitar. Salah satu aktivitas unik yang dapat dijumpai adalah warga yang mencari undur-undur, sejenis biota laut kecil yang hidup di pasir pantai.
Undur-undur tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan, mulai dari obat jerawat, panu, bisul, hingga membantu meredakan stres. Harga undur-undur pun tergolong tinggi, berkisar antara Rp42.000 hingga Rp47.000 per kilogram, menjadikannya sumber penghasilan tambahan bagi warga pesisir.
Proses pencariannya sendiri cukup melelahkan karena harus dilakukan di bawah terik matahari dan membutuhkan ketelatenan tinggi.
Mancing Pesisir yang Lebih Aman
Selain mencari undur-undur, aktivitas lain yang sering dijumpai di kawasan ini adalah mancing dari pesisir pantai. Menurut warga, memancing dari tepian pasir dinilai lebih aman dibandingkan dari atas batu karang, meski potensi tangkapan ikan di karang lebih besar.
Kondisi ini membuat kawasan tersebut ramah bagi pemancing pemula, bahkan anak-anak, meski hasil tangkapan tidak selalu menjanjikan.
Konservasi Penyu dan Potensi Wisata Berkelanjutan
Tak jauh dari lokasi ini, terdapat kawasan konservasi penyu Pantai Kili-kili yang sudah lebih dulu dikenal. Keberadaan konservasi ini menunjukkan bahwa wilayah pesisir selatan Trenggalek memiliki nilai ekologis tinggi yang perlu dijaga.
Sayangnya, seperti pantai pada umumnya, sampah kiriman pasca air pasang masih menjadi persoalan yang terlihat di beberapa titik. Hal ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan wisata berbasis lingkungan.
Dengan panorama alami, aktivitas budaya pesisir, serta lokasinya yang berdekatan dengan Pantai Pelang Trenggalek dan Pantai Kili-kili, kawasan perbatasan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alternatif yang berkelanjutan tanpa kehilangan keasliannya.
Editor : Findika Pratama