LUMAJANG – Tumpak Sewu Lumajang kembali ramai dibicarakan wisatawan setelah banyak konten video memperlihatkan keindahan air terjun bercabang-cabang yang disebut mirip “tumpukan seribu”. Destinasi yang berada di perbatasan Lumajang dan Malang ini terkenal dengan panorama air terjun yang terlihat berlapis-lapis dari atas hingga bawah.
Dalam salah satu video wisata yang beredar, seorang pengunjung membagikan pengalaman turun langsung ke area bawah Tumpak Sewu. Ia menjelaskan bahwa nama “Tumpak Sewu” berarti “tumpukan 1.000”, karena jumlah aliran air terjunnya terlihat sangat banyak. Meski tidak benar-benar sampai seribu, sebutan itu dipakai karena air terjun yang tampak kecil hingga besar muncul dari banyak titik.
Pengunjung tersebut menegaskan bahwa ia berada di area bawah air terjun, sekaligus mengajak wisatawan lain untuk mengikuti perjalanan sampai selesai agar mendapatkan gambaran jalur trekking yang sebenarnya.
Baca Juga: Atasi Genangan Air, Disperkimhub Revitalisasi dan Lakukan Perawatan Drainase
Tiket Masuk, Sewa Sepatu Karet, dan Jalur Turun Terjal
Sebelum memulai perjalanan, wisatawan terlebih dahulu membeli tiket masuk. Di sekitar pintu masuk, tersedia pula layanan sewa sepatu atau rental sepatu berbahan karet. Sepatu jenis ini direkomendasikan karena membantu mencegah tergelincir saat jalur licin.
“Ini sewa sepatu rental semuanya karet supaya enggak selip,” ujar pengunjung dalam video.
Ia menyebut jalur turun cukup curam sehingga harus ekstra hati-hati. Bahkan ia menggambarkan turunan seperti memakai “rem cakram”, sementara jalur naiknya nanti disebut lebih menantang karena mengandalkan tenaga fisik.
Meski saat itu kondisi sudah mulai ramai, wisatawan menyebut mereka masih berada di pos pertama dan perjalanan baru sebatas pemanasan.
Panorama Tumpak Sewu dari Atas Jadi Spot Favorit
Salah satu momen yang ditonjolkan dalam video adalah saat wisatawan berhenti di titik panorama atas. Dari sini, air terjun Tumpak Sewu terlihat lebih jelas: aliran air kecil hingga besar jatuh membentuk pemandangan seperti tirai raksasa.
Pengunjung kembali menjelaskan filosofi “seribu tumpukan” dan menegaskan bahwa siapa pun boleh menilai jumlahnya, namun yang pasti air terjun di kawasan ini terlihat sangat banyak dan rapat.
Baca Juga: Akibat Laka Bus di Kediri, Terminal Trenggalek Perketat Keamanan Armada
Perjalanan dari Surabaya menuju kawasan Malang–Lumajang disebut memakan waktu sekitar 3,5 jam, namun menurutnya rasa lelah langsung terbayar ketika melihat panorama Tumpak Sewu dari atas.
Jalur Sempit, Harus Bergantian antara yang Naik dan Turun
Wisatawan juga menyoroti akses jalan yang sempit. Karena jalurnya tidak terlalu lebar, pengunjung yang turun dan yang naik harus bergantian. Mereka yang naik biasanya berhenti sejenak untuk mengambil napas karena trek cukup menguras tenaga.
“Yang naik istirahat karena pasti capek sekali. Yang turun harus pelan-pelan,” ucapnya.
Ia juga memperingatkan kondisi tangga yang curam dan berlumut. Bagian tersebut disebut licin, sehingga pengunjung disarankan berjalan pelan dan fokus pada pijakan.
Dalam video juga terlihat adanya CCTV yang terpasang di beberapa titik, menandakan pengawasan keamanan di jalur wisata. Hal ini menjadi poin penting, mengingat jalur trekking menuju bawah air terjun cukup ekstrem bagi sebagian wisatawan.
Turis China Ramai, Ada Cek Tiket dan Fasilitas Kamar Mandi
Di tengah perjalanan, wisatawan menyebut banyak turis China yang datang ke Tumpak Sewu. Hal ini memperkuat citra destinasi tersebut sebagai wisata alam kelas internasional yang menarik wisatawan mancanegara.
Saat mendekati titik tertentu, ada pengecekan tiket ulang. Pengunjung juga menyebut tarif kamar mandi Rp3.000. Untuk parkir, ia menyebut biaya sekitar Rp5.000 di area atas dekat parkiran.
Ia juga menyinggung harga makanan dan minuman di lokasi yang terasa lebih mahal dibanding biasanya. Namun, tempat perhentian tersebut tetap dimanfaatkan untuk istirahat sejenak dan mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan.
Kabut Turun, Angin Kencang, dan Cipratan Air yang Membasahi
Menjelang area bawah, wisatawan menggambarkan suasana semakin dramatis. Kabut mulai turun, angin bertiup kencang, dan cipratan air dari air terjun membuat jalur terasa seperti “naik sambil disiram air”.
Ada pula tangga menuju titik yang lebih tinggi, namun tampak tidak lagi dipakai karena faktor keamanan. Pengunjung menduga akses tersebut ditutup karena cukup berbahaya.
Meski demikian, ia mengaku puas karena bisa mengambil banyak foto dan video. Namun, perjalanan belum selesai karena mereka tetap harus naik kembali melewati tangga yang sama curamnya.
“Tadi turunnya terjal, naiknya ya terjal,” katanya.
Di akhir perjalanan, wisatawan menyebut Tumpak Sewu sangat direkomendasikan untuk yang berjiwa petualang. Setelah sampai atas, mereka beristirahat sambil menikmati kopi panas. Meski ngos-ngosan, pengalaman tersebut disebut “worth it” karena pemandangannya benar-benar luar biasa.
Editor : Natasha Eka Safrina