BLITAR – Jalur Lintas Selatan (JLS) Blitar–Tulungagung kembali menjadi sorotan pada Minggu sore. Meski diguyur hujan cukup deras, arus kendaraan di JLS Blitar–Tulungagung, khususnya kawasan Puncak Gayasan, justru mengalami kepadatan luar biasa hingga macet total.
Pantauan perjalanan dimulai dari perempatan Pasur Bulu Lawang, Blitar, sekitar pukul 17.17 WIB. Dari titik ini, jalur sudah terhubung langsung ke JLS Tulungagung yang mengarah ke Pantai Molang, Pantai Pacar, hingga tembus Pantai Sine dan Merumbun, Kecamatan Tanggunggunung. Sejak jalur ini dinyatakan tembus, volume kendaraan meningkat signifikan, terutama saat akhir pekan.
Kendaraan Padat Meski Diguyur Hujan
Hujan yang turun sejak sore tidak menyurutkan minat masyarakat melintasi JLS. Pengendara roda dua maupun roda empat tampak mendominasi jalur, menandakan JLS Blitar–Tulungagung kini benar-benar menjadi akses favorit warga lokal maupun wisatawan luar daerah.
Baca Juga: 8 Wisata Malang Terbaru dan Paling Populer 2026, Ada Waterpark hingga Spot Jepang yang Instagramable
Lampu penerangan jalan yang sudah menyala sejak sore turut memberikan rasa aman bagi pengguna jalan. Kondisi ini berbeda dengan beberapa bulan lalu, saat penerangan belum sepenuhnya aktif dan jalur masih terkesan sepi menjelang malam.
Titik Rawan Longsor dan Imbauan Keselamatan
Memasuki kawasan proyek JLS dari arah Gulawang menuju Tambakrejo, terdapat sejumlah titik rawan longsor. Di area dengan sumber mata air besar, bronjong batu telah dipasang sebagai penahan tebing. Papan peringatan juga terpasang, mengingatkan pengendara agar tidak berhenti di sepanjang tebing curam karena potensi batu jatuh dan longsor.
Pengendara diimbau tetap waspada, terlebih saat hujan. Kondisi jalan relatif baik, namun visibilitas berkurang dan angin kencang cukup terasa di kawasan dataran tinggi.
Rowo Ngembak dan Panorama Samudra Lepas
Salah satu titik menarik di jalur ini adalah kawasan Danau Luweng Ngembak dan Rowo Tembak. Dari titik tertinggi JLS, pengendara dapat menyaksikan perpaduan panorama danau dan Samudra Hindia secara bersamaan. Pemandangan inilah yang membuat banyak pengguna jalan memilih berhenti sejenak, meski cuaca kurang bersahabat.
Namun, minimnya pepohonan di sepanjang jalur menjadi catatan tersendiri. Lahan terbuka tanpa peneduh membuat kawasan terasa panas saat siang dan kurang nyaman ketika hujan disertai angin kencang. Harapan penghijauan di sepanjang JLS pun kembali disuarakan.
Macet Total di Kawasan Puncak Gayasan
Memasuki kawasan simpang empat Pangi hingga Puncak Gayasan, kepadatan kendaraan meningkat drastis. Puncak Gayasan kembali membuktikan diri sebagai titik paling ramai di sepanjang JLS Blitar–Tulungagung.
Arus lalu lintas bahkan sempat macet total. Salah satu penyebabnya adalah kendaraan roda empat yang tidak kuat menanjak di kawasan Dawung, sehingga berhenti di tengah jalan. Insiden ini membuat kendaraan mengular panjang dari kedua arah.
Pengendara harus merayap perlahan tanpa bisa menyalip, mengingat sisi utara jalan berupa tebing curam, sementara sisi selatan merupakan tanah urukan. Kondisi ini menyulitkan pengalihan arus kendaraan.
Ramai hingga Menjelang Malam
Menariknya, kepadatan justru semakin meningkat menjelang malam. Banyak pengunjung memanfaatkan waktu sore hingga malam untuk menikmati suasana Puncak Gayasan. Layang-layang terlihat beterbangan, sementara sebagian pengunjung merekam suasana dari dalam kendaraan.
Keramaian ini sekaligus menjadi berkah bagi pedagang musiman yang membuka lapak di sekitar lokasi. Namun, kembali diingatkan agar tidak muncul bangunan permanen yang justru dapat mengurangi daya tarik kawasan.
Akses Tambakrejo Tetap Lancar
Setelah melewati kawasan pesisir Pantai Gayasan, arus kendaraan mulai mengarah ke Tambakrejo. Perempatan Tambakrejo menjadi simpul penting, dengan jalur lurus menuju Pantai Serang dan Sumbersih (arah Malang), belok kanan ke Pantai Tambakrejo, serta belok kiri ke arah Kota Blitar.
Meski sempat macet parah di Puncak Gayasan, secara umum JLS Blitar–Tulungagung tetap menjadi jalur strategis yang kini tak pernah sepi, terutama di akhir pekan.
Editor : Natasha Eka Safrina