WONOGIRI – Perjalanan menuju Dusun Mendak Wonogiri bukanlah perjalanan biasa. Dari puncak Gugusan Gunung Sewu, tepatnya kawasan wisata Bukit Dewa Dewi, rombongan penjelajah harus menuruni lembah, melintasi jalur sempit, ladang warga, hingga jalan setapak yang hanya bisa dilewati pejalan kaki dan pesepeda. Dusun ini tersembunyi di Lembah Bengawan Solo Purba, wilayah yang menyimpan jejak sejarah geologi jutaan tahun silam.
Dusun Mendak berada di wilayah Desa Petirsari, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Meski secara geografis lebih dekat dengan Desa Sumberagung, dusun ini secara administratif tetap menjadi bagian Petirsari. Letaknya yang terisolasi membuat Dusun Mendak dikenal sebagai salah satu permukiman paling terpencil di Wonogiri.
Jejak Bengawan Solo Purba di Gunung Sewu
Bengawan Solo dikenal sebagai sungai terpanjang di Pulau Jawa. Namun, sekitar empat juta tahun lalu, aliran sungai ini tidak bermuara ke utara seperti sekarang. Bengawan Solo Purba justru mengalir ke selatan dan berakhir di Samudra Hindia, tepatnya di kawasan Pantai Sadeng, Gunungkidul.
Jejak aliran purba itu masih bisa dilihat hingga kini berupa cekungan lembah yang membentang sepanjang kawasan Gunung Sewu. Lembah inilah yang kini menjadi rumah bagi sejumlah dusun terpencil, termasuk Dusun Mendak Wonogiri.
Lima Dusun Terpencil di Lembah Bengawan Solo Purba
Di wilayah Kabupaten Wonogiri, terdapat lima dusun yang berada di alur Bengawan Solo Purba. Dari arah timur ke barat, dusun tersebut antara lain Dusun Bakalan, Dusun Tileng, Dusun Mbak Agung, Dusun Mendak, dan Dusun Ngaluran. Kelimanya tersebar di tiga desa berbeda di Kecamatan Pracimantoro.
Akses antar dusun tidak seluruhnya bisa dilewati kendaraan bermotor. Beberapa jalur hanya berupa jalan setapak, bahkan terputus, sehingga warga harus memutar cukup jauh jika ingin menuju dusun lain atau pusat desa.
Dusun Mendak, Kampung Terkecil di Lembah Purba
Dibanding dusun lain di Lembah Bengawan Solo Purba, Dusun Mendak merupakan yang paling kecil. Saat ini, dusun tersebut hanya dihuni sekitar 28 kepala keluarga dalam satu RT. Rumah-rumah warga tampak seragam dengan arsitektur sederhana khas pedesaan Jawa.
Di tengah keterbatasan akses, Dusun Mendak memiliki fasilitas dasar seperti balai dusun yang bersih dan tertata. Kehidupan warga berjalan sederhana, mayoritas menggantungkan hidup dari pertanian lahan kering seperti singkong dan ladang kebun.
Akses Sulit, Tapi Kaya Potensi Wisata
Meski terpencil, Dusun Mendak Wonogiri justru menyimpan potensi besar. Lanskap Lembah Bengawan Solo Purba yang indah kerap dijadikan rute kegiatan gowes, trekking, hingga riset akademik. Beberapa perguruan tinggi bahkan pernah mengirim peneliti dan mahasiswa untuk menginap di dusun ini.
Warga setempat menyambut baik wacana pembukaan akses jalan tembus dari Dusun Tileng ke Mbak Agung hingga Mendak. Rencana ini diharapkan bisa membuka isolasi wilayah sekaligus mengembangkan potensi wisata alam dan sejarah.
Harapan Menjadi Desa Wisata
Jika menilik karakter wilayah dan budaya masyarakatnya, Dusun Mendak kerap disandingkan dengan Kampung Wawati di Gunungkidul yang telah lebih dulu berkembang sebagai desa wisata. Keduanya berada dalam satu alur Bengawan Solo Purba dan memiliki karakter permukiman yang mirip.
Dengan akses yang memadai, Dusun Mendak berpeluang menjadi destinasi wisata berbasis alam, sejarah, dan budaya. Mulai dari trekking Gunung Sewu, jelajah Bengawan Solo Purba, hingga wisata edukasi geologi dan kehidupan desa terpencil.
Di balik sunyinya lembah dan terjalnya akses, Dusun Mendak Wonogiri menyimpan kisah tentang ketahanan hidup, sejarah purba, serta harapan warga akan masa depan yang lebih terbuka.
Editor : Dyah Wulandari