JAKARTA – Sejarah panjang Bengawan Solo Purba menyimpan kisah dramatis tentang tumbukan lempeng bumi, gunung api purba, hingga terbentuknya danau raksasa di wilayah Wonogiri. Sungai terpanjang di Pulau Jawa yang kita kenal saat ini ternyata tidak selalu mengalir ke utara seperti sekarang.
Sekitar 23 juta hingga 2 juta tahun lalu, pada zaman Miosen hingga Pliosen, Pulau Jawa masih merupakan bagian dari busur kepulauan vulkanik. Wilayah ini terbentuk akibat tumbukan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia di sepanjang Samudra Hindia. Proses subduksi ini memicu deretan gunung api purba yang memanjang dari barat hingga timur Jawa.
Pengangkatan Pegunungan Selatan Jawa
Tekanan tektonik yang berlangsung jutaan tahun menyebabkan bagian selatan Jawa terangkat ke permukaan. Wilayah yang sebelumnya berupa dasar laut dangkal perlahan berubah menjadi pegunungan karst atau batuan kapur. Inilah cikal bakal Pegunungan Selatan Jawa, termasuk Gunung Sewu, Gunung Kidul, hingga Pacitan.
Pengangkatan daratan ini menjadi awal terbentuknya jalur-jalur aliran air purba. Air hujan dan sungai mulai mencari jalur di dataran tinggi yang baru muncul, membentuk sistem sungai awal di Pulau Jawa.
Lahirnya Cekungan Solo dan Bengawan Solo Purba
Di bagian tengah Jawa, khususnya wilayah Sragen, Solo, hingga Wonogiri, terbentuk cekungan besar akibat lipatan dan tekanan tektonik. Cekungan ini dikenal sebagai Cekungan Solo. Air dari pegunungan utara seperti Gunung Lawu Purba, Merapi Purba, Pegunungan Serayu, serta dari Pegunungan Selatan yang baru terangkat mengalir menuju cekungan ini.
Dari sinilah terbentuk sungai purba pertama yang kemudian berkembang menjadi Bengawan Solo Purba. Namun berbeda dengan kondisi sekarang, aliran sungai purba ini justru mengarah ke selatan dan bermuara di Samudra Hindia.
Aliran Bengawan Solo Purba melintasi Wonogiri, Huriantoro, Eromoko, hingga kawasan karst Gunung Kidul. Bukti aliran purba ini masih tersisa berupa sistem sungai bawah tanah dan gua-gua raksasa seperti Gua Jomblang, Gua Pindul, Gua Seropan, serta jaringan gua di Wonogiri dan Pacitan.
Letusan Gunung Api dan Terbentuknya Danau Purba Wonogiri
Sekitar 1,8 juta hingga 700 ribu tahun lalu, aktivitas vulkanik di Jawa meningkat drastis. Gunung Merapi Purba, Gunung Lawu Purba, dan gunung api di Pegunungan Selatan mengalami letusan besar. Material vulkanik berupa lava, batu, dan abu menutup sebagian jalur aliran Bengawan Solo Purba ke arah selatan.
Di saat bersamaan, pengangkatan Pegunungan Selatan semakin kuat sehingga jalur menuju Samudra Hindia tertutup total. Air dari hulu akhirnya tertahan di wilayah Wonogiri dan membentuk danau purba raksasa.
Danau Wonogiri Purba diperkirakan menutupi area sangat luas, termasuk wilayah yang kini menjadi Waduk Gajah Mungkur dan Cekungan Baturetno. Endapan lempung, pasir, serta sisa organik yang ditemukan di kawasan ini menjadi bukti keberadaan danau yang bertahan ribuan tahun.
River Capture dan Perubahan Alur Bengawan Solo
Seiring waktu, volume air danau purba terus meningkat. Tekanan hidrostatik mendorong air mencari jalur keluar. Wilayah utara Wonogiri yang merupakan bagian dari Cekungan Solo memiliki elevasi lebih rendah, sehingga secara alami menarik aliran air.
Melalui retakan, patahan, dan lembah purba di wilayah Sragen, Ngawi, Cepu, hingga Bojonegoro, air akhirnya menemukan jalan baru ke utara. Proses ini dikenal sebagai river capture atau pembajakan sungai.
Erosi balik secara perlahan memperbesar jalur aliran baru tersebut hingga terbentuk sungai stabil yang mengalir ke utara. Danau Wonogiri Purba pun mulai surut dan berubah menjadi dataran luas.
Aliran baru inilah yang kemudian menjadi Bengawan Solo modern, mengalir dari Wonogiri hingga bermuara di Laut Jawa. Sementara jalur lama ke selatan benar-benar mati, hanya menyisakan jejak berupa gua dan sungai bawah tanah di kawasan karst Gunung Sewu.
Editor : Dyah Wulandari