WONOGIRI – Jejak Bengawan Solo Purba masih terbaca jelas di kawasan karst Gunung Sewu, meski alirannya telah lama mengering. Sungai purba ini dahulu membentang dari wilayah Wonogiri hingga bermuara di Pantai Sadeng, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kini, lembah kering bekas alirannya justru menjadi ruang hidup bagi masyarakat yang tinggal di kawasan selatan Jawa.
Kawasan Gunung Sewu dikenal sebagai bentang alam karst dengan ribuan bukit dan gunung kecil yang menghampar luas. Nama “Sewu” sendiri berasal dari cara masyarakat Jawa menggambarkan banyaknya gunung di wilayah ini. Secara geologis, kawasan ini menyimpan sejarah panjang pembentukan Pulau Jawa, termasuk perubahan jalur aliran Bengawan Solo Purba.
Bengawan Solo Purba Mengalir ke Selatan
Pada masa lampau, aliran Bengawan Solo tidak mengarah ke utara seperti saat ini. Sungai ini justru mengalir ke selatan dan bermuara di Samudra Hindia. Lembah kering yang kini terlihat di kawasan karst Gunung Sewu merupakan sisa jalur aliran Bengawan Solo Purba yang telah berhenti mengalir akibat proses geologi.
Pengangkatan Pegunungan Selatan Jawa menyebabkan terbentuknya Cekungan Baturetno di wilayah Wonogiri. Peristiwa ini mengubah jalur sungai sehingga aliran Bengawan Solo berbalik arah ke utara dan membentuk sungai modern yang kini bermuara di Laut Jawa.
Meski aliran permukaan sungai purba telah mengering, kondisi geologis kawasan karst masih menyimpan sistem sungai bawah tanah dan lorong-lorong air yang tersembunyi di balik batuan kapur.
Peradaban Tumbuh di Lembah Kering
Mengeringnya Bengawan Solo Purba tidak menghentikan kehidupan manusia. Justru sebaliknya, peradaban tumbuh dan berkembang di sepanjang lembah kering tersebut. Salah satu contoh nyata adalah Dusun Mendak, Desa Petirsari, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri.
Dusun Mendak berada tepat di lembah kering Sungai Bengawan Solo Purba. Warga setempat telah lama hidup berdampingan dengan kondisi alam karst yang keras dan terbatas sumber air. Dahulu, masyarakat kesulitan mengakses air bersih karena mustahilnya pengeboran pada batuan kapur yang sangat keras.
Akses Air dari Sungai Bawah Tanah
Permasalahan air bersih di Dusun Mendak perlahan teratasi berkat kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi. Melalui pendampingan dan riset, warga kini dapat mengakses sungai bawah tanah yang berada di sistem karst Gunung Sewu.
Air yang sebelumnya tersembunyi kini menjadi sumber kehidupan bagi warga. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis ilmu pengetahuan mampu menjawab tantangan hidup di kawasan karst ekstrem.
Peran Akademisi di Gunung Sewu
Upaya memahami dan mengelola kawasan Bengawan Solo Purba juga melibatkan dunia akademik. Grup Riset Arsitektur Berkelanjutan dari Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) melakukan jelajah lapangan dan pendampingan masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada Juli 2023.
Pendampingan ini bertujuan menggali potensi lokal, mulai dari dokumentasi sejarah geologi hingga pengembangan media edukasi seperti maket dan kriya. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan.
Gunung Sewu dan Potensi Geowisata
Gunung Sewu telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark. Status ini menegaskan nilai penting kawasan tersebut dari sisi geologi, ekologi, dan budaya. Namun, potensi Gunung Sewu belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.
Pengembangan geowisata berbasis Bengawan Solo Purba dinilai mampu meningkatkan perekonomian masyarakat tanpa merusak lingkungan. Prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi kunci agar kawasan ini tetap lestari sekaligus memberi manfaat ekonomi.
Baca Juga: Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bulan Ramadhan Belum Jelas, Kini Masih Tunggu Kabar Juknis dari Pusat
Lembah kering Bengawan Solo Purba bukan sekadar saksi sejarah bumi, melainkan ruang hidup, sumber air tersembunyi, dan peluang masa depan bagi masyarakat Gunung Sewu.
Editor : Dyah Wulandari