JAKARTA – Sungai Bengawan Solo dikenal sebagai sungai terpanjang di Pulau Jawa dengan panjang mencapai sekitar 600 kilometer. Sungai ini membentang dari wilayah hulu di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, hingga bermuara di Laut Jawa, tepatnya di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Dengan daerah aliran sungai seluas kurang lebih 16.000 kilometer persegi, kontribusi Bengawan Solo sangat besar bagi kajian geologi, arkeologi, hingga sosiologi kehidupan manusia.
Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa Bengawan Solo Purba diduga memiliki jalur aliran yang berbeda dengan Bengawan Solo modern. Sejumlah peneliti mengajukan hipotesis bahwa sungai ini dulunya bermuara ke Samudra Hindia di selatan Pulau Jawa, bukan ke Laut Jawa seperti sekarang.
Dua Hipotesis Alur Bengawan Solo
Dalam kajian geologi, terdapat dua hipotesis utama mengenai muara Bengawan Solo. Hipotesis pertama menyebutkan bahwa Bengawan Solo awalnya bermuara ke Samudra Hindia, lalu berpindah ke utara akibat perubahan geologi. Hipotesis kedua menyatakan sungai ini sejak awal memang bermuara ke Laut Jawa.
Pada kajian ini, hipotesis pertama digunakan untuk menjelaskan keberadaan Bengawan Solo Purba. Bukti visual dapat dilihat melalui citra Google Earth di wilayah perbatasan Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Gunungkidul, tepatnya di Kecamatan Pracimantoro, Girisubo, dan Giritontro.
Lembah Sadeng, Jejak Hilir Bengawan Solo Purba
Di kawasan tersebut tampak sebuah lembah besar yang memanjang dari utara ke selatan hingga Pantai Sadeng. Lembah ini dikenal sebagai Lembah Sadeng–Giritontro dengan panjang sekitar 21 kilometer. Sejumlah peneliti seperti Van Bemmelen, Panekuk, dan Murwanto memperkirakan lembah ini merupakan bagian hilir Bengawan Solo Purba yang bermuara ke Samudra Hindia.
Diperkirakan sejak awal periode Kuarter, sekitar 8 juta tahun lalu, Bengawan Solo Purba telah mengalir ke selatan. Sumber airnya berasal dari anak-anak sungai di dataran tinggi dan pegunungan di sekitar wilayah yang kini menjadi Waduk Gajah Mungkur.
Cekungan Baturetno dan Danau Purba
Aliran sungai-sungai tersebut bertemu di sebuah depresi geologi yang dikenal sebagai Cekungan Baturetno. Cekungan ini membentang dari Kecamatan Baturetno hingga Eromoko di Kabupaten Wonogiri. Secara geologi, cekungan ini merupakan struktur sinklinal hasil proses tektonik yang membentuk depresi alami.
Akibatnya, Cekungan Baturetno berkembang menjadi danau purba yang menampung aliran sungai besar dan kecil dari sekitarnya. Dari danau inilah air mengalir ke selatan melalui Lembah Sadeng menuju Samudra Hindia.
Tektonik, Sesar, dan Perubahan Arah Sungai
Perubahan besar terjadi ketika aktivitas tektonik semakin intens. Bagian selatan Pulau Jawa mengalami pengangkatan sehingga elevasinya menjadi lebih tinggi dibandingkan wilayah utara. Proses ini juga membentuk struktur sesar baru seperti Sesar Pucunglangan, Sesar Tirtomoyo, dan Sesar Keduan.
Kondisi ini menyebabkan jalur Bengawan Solo Purba ke selatan terhambat. Anak-anak sungai pun mulai mengikuti jalur sesar baru atau membentuk alur sungai baru ke arah utara. Pada saat yang sama, erupsi Gunung Lawu Purba menyemburkan abu vulkanik dalam volume besar yang mengendap di Danau Baturetno.
Endapan abu vulkanik tersebut mengubah danau menjadi rawa luas, ditandai dengan ditemukannya lapisan lempung hitam dan material vulkanik yang menyebar luas di wilayah utara Wonogiri.
Lahirnya Bengawan Solo Modern
Ketika jalur ke selatan tertutup, Bengawan Solo Purba mencari jalan baru menuju laut. Air akhirnya berhasil menembus bagian utara dan membentuk aliran baru yang stabil ke arah utara. Aliran inilah yang kemudian berkembang menjadi Bengawan Solo modern yang bermuara di Laut Jawa.
Baca Juga: Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bulan Ramadhan Belum Jelas, Kini Masih Tunggu Kabar Juknis dari Pusat
Sementara itu, Lembah Sadeng–Giritontro perlahan mengering karena tidak lagi dialiri air dari hulu. Kini, lembah tersebut menjadi bentang alam kering yang diapit pegunungan karst dengan perbedaan ketinggian antara dasar lembah dan punggungan mencapai 50 hingga 200 meter.
Dimanfaatkan untuk Pertanian dan Permukiman
Saat ini, Lembah Sadeng banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai lahan pertanian kering dan permukiman. Kondisi tanah di lembah relatif lebih subur dibandingkan kawasan karst di sekitarnya karena merupakan bekas endapan sedimen Bengawan Solo Purba. Bahkan, di bagian hilir yang menghadap Samudra Hindia, kawasan ini dimanfaatkan sebagai pelabuhan nelayan di Pantai Sadeng.
Baca Juga: CFD Akan Hadir Lagi untuk Perkuat Ekonomi dan Sarana Ruang Berekspresi
Editor : Dyah Wulandari