TRENGGALEK - Desa Botoputih Trenggalek mulai banyak dibicarakan karena potensinya sebagai sentra peternakan sapi perah sekaligus pintu masuk wisata alam lereng Gunung Wilis. Desa yang berada di Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur ini memiliki karakter wilayah pegunungan dengan udara sejuk dan bentang alam yang masih asri. Selain dikenal sebagai desa agrikultur, Botoputih juga berkembang sebagai titik awal jalur pendakian Gunung Wilis yang diminati pendaki lokal.
Secara administratif, Desa Botoputih terdiri dari lima dusun, yakni Jambe, Mangkujayan, Gangsan, Krapyak, dan Baru. Wilayah desa berbatasan dengan area Kabupaten Nganjuk di sisi utara, karena posisinya memang berada di kawasan lereng pegunungan Wilis yang membentang di beberapa kabupaten.
Letak Geografis Desa Botoputih di Lereng Gunung Wilis
Desa Botoputih berada di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Kontur wilayahnya berupa perbukitan, lembah, dan kawasan pegunungan dengan suhu relatif dingin dibanding wilayah perkotaan Trenggalek. Luas wilayah desa tercatat sekitar 2.800 hektare lebih, didominasi lahan pertanian, padang rumput, dan kawasan hijau.
Kondisi geografis tersebut membuat Desa Botoputih cocok untuk sektor peternakan dan pertanian dataran tinggi. Akses menuju desa sudah bisa dilalui kendaraan, meski di beberapa titik masih berupa tanjakan dan tikungan khas jalur pegunungan.
Sentra Peternakan Sapi Perah di Trenggalek
Nama Desa Botoputih Trenggalek cukup dikenal sebagai salah satu sentra peternakan sapi perah. Banyak warga menggantungkan ekonomi dari produksi susu segar. Hasil susu dari kawasan Bendungan, termasuk Botoputih, menjadi salah satu pemasok penting di wilayah Trenggalek dan sekitarnya.
Selain peternak sapi perah, masyarakat juga bekerja sebagai petani padi, jagung, dan sayuran dataran tinggi. Sejumlah warga mengembangkan usaha turunan seperti olahan susu, produk kopi lokal, serta bumbu dan hasil kebun. Kombinasi peternakan dan pertanian ini membentuk ekosistem ekonomi desa berbasis agrikultur pegunungan.
Potensi Wisata Alam dan Jalur Pendakian Gunung Wilis
Dalam beberapa tahun terakhir, Desa Botoputih juga diarahkan menjadi desa berbasis ekowisata. Salah satu daya tarik utamanya adalah jalur pendakian Gunung Wilis via Botoputih yang telah dibuka dan dipetakan untuk pendaki. Jalur ini dikenal mengarah ke kawasan Puncak Kayangan dan beberapa titik panorama lereng Wilis.
Wisata alam Botoputih menawarkan pemandangan hutan, kebun, serta lanskap pegunungan yang masih alami. Potensi ini dinilai cocok untuk pengembangan wisata trekking, camping ground, dan wisata edukasi peternakan sapi perah. Keberadaan situs budaya seperti Punden Botoputih di Dusun Jambe juga menambah nilai wisata sejarah dan tradisi lokal.
Desa Botoputih Berpotensi Jadi Desa Wisata Pegunungan
Dengan perpaduan sentra sapi perah, pertanian dataran tinggi, jalur pendakian Gunung Wilis, dan situs budaya desa, Botoputih dinilai memiliki peluang besar menjadi desa wisata pegunungan di Trenggalek. Suasana pedesaan yang masih asri menjadi nilai jual utama di tengah tren wisata alam dan ekowisata.
Jika pengelolaan wisata dan infrastruktur pendukung terus ditingkatkan, Desa Botoputih bisa menjadi salah satu tujuan wisata alam Trenggalek yang menarik, baik bagi pendaki, penikmat wisata desa, maupun wisata edukasi peternakan.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya