TRENGGALEK - Pasar Tanggaran adalah pasar tradisional khas pedesaan yang terletak di Desa Tanggaran, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Pasar ini dikenal karena suasana kunonya yang masih mempertahankan nuansa pasar pedesaan zaman dulu, serta menjadi pusat ekonomi utama bagi warga pelosok pegunungan. Berbeda dari pasar modern, Pasar Tanggaran menawarkan pengalaman berbelanja yang autentik dan penuh interaksi sosial khas masyarakat pegunungan.
Secara administratif, Desa Tanggaran berada di Kecamatan Pule yang merupakan daerah pegunungan dengan kontur tanah tinggi sekitar 800 mdpl dan mayoritas masyarakatnya menggantungkan ekonomi pada pertanian dan perdagangan lokal.
Nuansa Kuno dan Atmosfer Pasar Tradisional
Pasar Tanggaran dikenal karena suasana kuno yang autentik, dengan banyak lapak dagangan yang masih terbuat dari kayu tradisional dan terbaring di sepanjang jalur pegunungan. Struktur pasar yang sederhana ini mencerminkan karakter masyarakat yang masih sangat menjunjung tinggi tradisi dagang zaman dahulu, jauh dari suasana pasar modern yang serba teratur dan berpendingin ruang.
Setiap pedagang dan pembeli sering saling menyapa dengan ramah, menjaga ikatan sosial yang kuat antar warga dari desa-desa tetangga yang datang ke pasar ini.
Lokasi Strategis di Perbatasan Pegunungan
Pasar ini terletak di jalur pegunungan perbatasan antara Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Ponorogo, sehingga menjadi titik strategis bagi warga dari berbagai pelosok untuk berkumpul, bertransaksi, dan memperdagangkan hasil bumi mereka. Keberadaan pasar di lokasi ini menjadikannya tidak hanya pusat jual-beli tetapi juga ruang sosial utama dalam kehidupan masyarakat pedesaan.
Letak geografis Desa Tanggaran di dataran tinggi juga berarti angin pegunungan yang sejuk dan pemandangan alam yang asri menyelimuti pasar ini, memberikan pengalaman unik bagi pengunjung yang datang dari luar daerah.
Hari Pasaran & Aktivitas Ekonomi
Walaupun pasar fisik dibuka setiap hari dari pagi hingga sore (sekitar pukul 06.30–17.00), keramaian pasar mencapai puncaknya pada hari pasaran Legi menurut kalender Jawa. Pada hari tersebut, jumlah pengunjung, pedagang, dan aktivitas jual-beli meningkat secara signifikan karena warga dari desa-desa sekitar datang dengan berbagai mobil angkutan untuk berdagang atau berbelanja.
Di pasar ini pengunjung bisa menemukan beragam produk lokal, mulai dari:
-
Sayuran segar dan buah-buahan
-
Bahan pokok (sembako)
-
Pakaian dan perlengkapan sehari-hari
-
Jajanan tradisional khas pegunungan
-
Hewan ternak seperti kambing dan ayam
Semua barang dagangan ini mencerminkan kehidupan agraris masyarakat pegunungan yang menggantungkan hidup pada hasil bumi dan perdagangan lokal skala kecil.
Peran Pasar Tanggaran dalam Perekonomian Lokal
Menurut data desa, Pasar Tanggaran memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan asli desa (PAD) melalui retribusi sewa lapak dan perdagangan hasil bumi. Pasar ini ramai dikunjungi tidak hanya oleh warga Desa Tanggaran, tetapi juga oleh warga dari desa sekitarnya bahkan dari wilayah Ponorogo, sehingga menjadi motor utama perekonomian lokal yang membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pasar Tradisional Lain di Sekitar Kecamatan Pule
Selain Pasar Tanggaran, di wilayah Kecamatan Pule juga terdapat beberapa pasar tradisional lain yang memiliki karakter serupa:
Pasar Jajar Sidomulyo
Sebuah pasar terpencil dekat hutan di Desa Sidomulyo dengan suasana pedesaan yang kental, sering jadi tempat berkumpulnya warga lokal di puncak pegunungan.
Pasar Tradisional Pule
Pasar utama di pusat Kecamatan Pule yang ramai pada hari pasaran Paing dan Wage menurut kalender Jawa; menjadi pusat jual-beli kebutuhan harian warga.
Pasar Depok
Terletak di Desa Depok, pasar ini juga mempertahankan nuansa kuno dengan dagangan tradisional dan ramai pada hari pasaran Legi seperti halnya Pasar Tanggaran.
Kehadiran beberapa pasar tradisional di Kecamatan Pule mencerminkan betapa beragamnya aktivitas perdagangan lokal di kawasan pegunungan Trenggalek, yang tetap mempertahankan tradisi berjualan dan membeli secara langsung antar warga desa.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya