TRENGGALEK NJENGGELEK-Pendakian Gunung Slamet via Bambangan kembali menjadi sorotan setelah pengalaman sekelompok pendaki mendokumentasikan perjalanan mereka menuju puncak tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (MDPL). Gunung berapi aktif berstatus normal ini dikenal sebagai “atap Jawa Tengah” dengan karakter jalur yang menantang, panjang, dan menguras stamina.
Perjalanan dimulai pada 22 April 2025 dari basecamp Gunung Slamet via Bambangan. Sebelum mendaki, seluruh pendaki wajib menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai prosedur standar keselamatan. Setelah dinyatakan layak, rombongan melanjutkan perjalanan menggunakan ojek menuju pos bayangan untuk memangkas jarak awal yang terkenal terjal.
Trek Awal yang Langsung Menguras Tenaga
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan dikenal tanpa basa-basi. Setelah turun dari ojek, trek langsung menanjak dengan kontur tanah padat dan akar pohon. Dalam waktu sekitar 30 menit, rombongan tiba di Pos 1. Meski baru memulai, waktu istirahat di pos ini cukup lama karena kondisi fisik pendaki yang beragam.
Dari Pos 1 menuju Pos 2, jalur mulai menunjukkan karakter khas Slamet: tanjakan panjang dengan ritme naik-turun yang konstan. Vegetasi hutan lebat, kabut tipis, serta jalur bercabang menuntut fokus penuh agar tidak salah arah. Sekitar 50 menit kemudian, Pos 2 berhasil dicapai.
Hutan Rimbun dan Jalur Panjang Menuju Pondok Cemara
Perjalanan berlanjut menuju Pos 3 atau Pondok Cemara di ketinggian sekitar 2.500 MDPL. Jalur ini memperlihatkan kekayaan vegetasi Gunung Slamet, mulai dari pepohonan tinggi, lumut tebal, hingga bunga liar yang tumbuh di sela jalur pendakian. Meski pemandangan menenangkan, trek yang terus menanjak membuat stamina terkuras.
Di Pondok Cemara, pendaki melakukan istirahat panjang dan makan berat sebelum melanjutkan perjalanan. Dari titik ini, jalur semakin terasa berat karena tanjakan lebih konsisten dan waktu tempuh antarpos makin panjang.
Pos 4 Samarantu dan Risiko Alam
Pendaki kemudian mencapai Pos 4 Samarantu. Pos ini dikenal dengan mitos lokal, namun secara faktual kawasan ini memang rawan angin kencang, pohon tumbang, dan petir. Karena faktor keselamatan, area ini tidak direkomendasikan untuk mendirikan tenda.
Jejak pohon tumbang yang berserakan menjadi pengingat bahwa Gunung Slamet bukan sekadar soal fisik, tetapi juga soal kewaspadaan terhadap alam. Dari Samarantu, perjalanan menuju Pos 5 akhirnya ditempuh hingga sore hari dan menjadi lokasi camp sebelum summit attack.
Summit Attack Dini Hari Menuju Puncak
Pendakian puncak Gunung Slamet via Bambangan dimulai sekitar pukul 00.50 WIB. Jalur summit dikenal panjang dan melelahkan, dengan batas aman pendakian berada hingga Pos 9. Di atas titik ini, vegetasi mulai menghilang dan trek berubah menjadi tanah berpasir kemerahan khas gunung berapi.
Pendaki melewati Pos 6, 7, hingga Pos 9 saat langit mulai menampakkan warna jingga fajar. Samudra awan membentang luas di bawah, menghadirkan panorama dramatis yang menjadi salah satu daya tarik utama Gunung Slamet.
Tiba di Atap Jawa Tengah
Setelah perjuangan panjang, rombongan akhirnya menginjak puncak Gunung Slamet di ketinggian 3.428 MDPL. Meski jarak terlihat dekat dari Pos 9, jalur terakhir dikenal sebagai “dekat di mata, jauh di kaki”.
Rasa lelah terbayar lunas dengan panorama kawah, lanskap pegunungan, dan kebanggaan berhasil menaklukkan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Pendakian Gunung Slamet via Bambangan pun kembali menegaskan reputasinya sebagai jalur favorit bagi pendaki yang mencari tantangan sejati, bukan sekadar pendakian santai.
Editor : Ichaa Melinda Putri