Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Pendakian Tektok Gunung Slamet via Dipajaya: Jalur Panjang, Disiplin Ketat, dan Ujian Fisik hingga Puncak 3.428 MDPL

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 7 Februari 2026 | 12:20 WIB

Pendakian Tektok Gunung Slamet via Dipajaya: Jalur Panjang, Disiplin Ketat, dan Ujian Fisik hingga Puncak 3.428 MDPL
Pendakian Tektok Gunung Slamet via Dipajaya: Jalur Panjang, Disiplin Ketat, dan Ujian Fisik hingga Puncak 3.428 MDPL

TRENGGALEK NJENGGELEK-Pendakian Gunung Slamet dengan sistem tektok atau satu hari kembali menyita perhatian. Jalur Dipajaya–Permadi yang dikenal panjang dan menuntut stamina tinggi menjadi saksi bagaimana disiplin, kesiapan logistik, dan kepatuhan terhadap aturan keselamatan menjadi kunci utama untuk mencapai puncak tertinggi di Jawa Tengah.

Sebelum pendakian dimulai, petugas basecamp memberikan peringatan tegas kepada para pendaki. Mereka yang tidak siap secara fisik maupun logistik diminta mundur. Alasannya jelas: dalam beberapa waktu terakhir, evakuasi pendaki akibat kekurangan logistik dan kelelahan masih sering terjadi.

Petugas menekankan perlengkapan wajib, mulai dari jas hujan per orang, emergency blanket per kelompok, hingga logistik minimal berupa air minum, makanan berat, dan asupan energi. Pendaki juga diwajibkan turun maksimal pukul 10.00 WIB dari area atas karena asap belerang di jalur summit dapat berubah menjadi gas berbahaya.

Pendakian tektok ini dimulai sekitar pukul 11.00 WIB dari basecamp Dipajaya. Jalur awal menuju Pos 1 melewati perkebunan dan hutan pinus yang rindang. Medan masih relatif landai, namun kondisi jalur ojek yang rusak menjelaskan alasan tarif ojek cukup tinggi di kawasan ini.

Dalam waktu sekitar 43 menit, pendaki tiba di Pos 1 dan hanya berhenti singkat sebelum melanjutkan perjalanan. Trek menuju Pos 2 mulai menuntut konsistensi langkah, dengan tanah basah padat dan vegetasi yang semakin rapat. Pos 2 dilengkapi shelter dan cukup ramai oleh pendaki yang beristirahat.

Perjalanan berlanjut menuju Pondok Cemara di Pos 3 pada ketinggian sekitar 2.510 MDPL. Di titik ini, jalur mulai memberikan efek aklimatisasi. Napas terasa lebih pendek, namun kondisi jalur masih relatif aman dengan tanah padat dan akar-akar yang membantu pijakan.

Dari Pos 3 menuju Pos 4, jalur semakin terbuka dan angin mulai terasa kencang. Beberapa pendaki terlihat mendirikan tenda, umumnya untuk kondisi darurat. Total waktu tempuh dari basecamp hingga Pos 4 sekitar 2,5 jam.

Pos 5 Samyang Rangkah di ketinggian 2.795 MDPL menjadi titik penting. Area ini cukup terbuka dan sering digunakan sebagai lokasi camp darurat. Terdapat sumber air sekitar 50 meter dari jalur utama, meski tidak selalu diakses oleh pendaki tektok karena menguras tenaga tambahan.

Menuju Pos 6 dan Pos 7, jalur berubah menjadi lorong alami dengan tebing tinggi di kanan-kiri. Vegetasi menipis, suhu menurun, dan angin semakin kencang. Di Pos 7 Samyang Kendit (3.040 MDPL), pendaki mencatat waktu tempuh hampir empat jam sejak start.

Tantangan sesungguhnya terasa dari Pos 8 hingga Pos 9. Jalur semakin curam, berdebu, dan penuh percabangan tanpa penanda jelas. Kesalahan jalur berpotensi menyebabkan pendaki tersesat saat turun. Suhu tercatat sekitar 11 derajat Celsius dengan angin kuat yang mempercepat kelelahan.

Dari Pos 9, pendaki melanjutkan summit attack menuju puncak. Jalur terakhir dikenal ekstrem dengan batu apung dan kerikil longsoran yang licin. Pendaki diwajibkan ekstra waspada, saling memberi peringatan jika ada batu jatuh, dan memilih pijakan dengan cermat.

Baca Juga: Penginapan Kintamani dengan View Gunung Agung dan Danau Batur Ini Viral, Tanpa TV tapi Bikin Keluarga Betah

Sekitar enam jam lebih perjalanan, pendaki akhirnya tiba di puncak Gunung Slamet pada ketinggian 3.428 MDPL. Pemandangan kawah aktif, lautan awan, dan matahari terbit menjadi hadiah dari perjuangan panjang tersebut.

Pendakian tektok Gunung Slamet via Dipajaya bukan sekadar soal kecepatan mencapai puncak. Jalur panjang, kondisi alam ekstrem, serta potensi bahaya gas belerang menjadikannya pendakian yang hanya layak dilakukan oleh mereka yang benar-benar siap. Slamet kembali mengingatkan, bahwa gunung bukan tempat uji nyali, melainkan ruang belajar tentang disiplin dan penghormatan terhadap alam.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#keselamatan pendaki #jalur Dipajaya #gunung slamet #Atap Jawa Tengah #pendakian tektok