Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Pendakian Jalur Selatan Gunung Slamet: Perjalanan Panjang, Malam di Pos 7, hingga Puncak di Bawah Bulan Purnama

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 7 Februari 2026 | 12:25 WIB

Pendakian Jalur Selatan Gunung Slamet: Perjalanan Panjang, Malam di Pos 7, hingga Puncak di Bawah Bulan Purnama
Pendakian Jalur Selatan Gunung Slamet: Perjalanan Panjang, Malam di Pos 7, hingga Puncak di Bawah Bulan Purnama

TRENGGALEK NJENGGELEK-Gunung Slamet kembali menjadi saksi perjalanan panjang para pendaki yang memilih jalur selatan sebagai akses menuju puncak. Pendakian ini bukan sekadar tentang mencapai ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (MDPL), tetapi juga tentang manajemen waktu, kekompakan tim, serta kedekatan dengan alam yang masih terjaga.

Pendakian dimulai dari basecamp jalur selatan dengan suasana pagi yang cerah. Sejak awal, perjalanan sudah diwarnai dengan suasana cair dan penuh canda antaranggota tim. Jalur awal relatif bersahabat, namun tetap menuntut konsistensi langkah karena jarak antartitik cukup panjang.

Dari titik nol menuju Pos 1, rombongan menempuh waktu sekitar satu jam lebih sesuai target. Di beberapa titik, jalur dilengkapi sumber mata air yang dimanfaatkan pendaki untuk mengisi ulang logistik air. Keberadaan mata air ini menjadi penopang penting, terutama bagi pendaki yang membawa perbekalan terbatas.

Perjalanan berlanjut menuju Pos 2 dan Pos 3 dengan kondisi jalur yang semakin masuk ke kawasan hutan. Vegetasi lebat, suara burung yang ramai, serta udara yang semakin sejuk mempertegas karakter jalur selatan Gunung Slamet yang masih alami. Beberapa pendaki menyebut kawasan ini relatif “sepi sentuhan”, jauh dari kesan komersial seperti jalur-jalur populer di gunung lain.

Memasuki Pos 4 hingga Pos 5, medan mulai terasa lebih menguras tenaga. Jalur menanjak dengan tanah padat dan akar pohon memaksa pendaki menjaga ritme. Meski demikian, kondisi cuaca yang cerah dengan langit biru membantu menjaga semangat rombongan.

Dari Pos 5 menuju Pos 6, pendakian dilakukan pada sore hari. Estimasi waktu tempuh sekitar 45 menit, namun realisasi sedikit meleset akibat kelelahan dan kebutuhan istirahat. Jalur semakin sunyi, suhu mulai turun, dan cahaya matahari perlahan menghilang di balik rimbunnya hutan.

Memasuki malam, rombongan masih berada di jalur menuju Pos 7. Kondisi hutan yang cepat gelap memaksa pendaki meningkatkan kewaspadaan. Sebagian anggota tim berjalan lebih dulu untuk menyiapkan tenda, sementara lainnya menyusul dengan ritme lebih lambat. Sekitar pukul 18.30 WIB, rombongan mulai tiba di area Pos 7.

Pos 7 dikenal sebagai lokasi camp ideal karena relatif dekat dengan puncak dan memiliki sumber air. Namun, area kemah di lokasi ini cukup terbatas sehingga pendaki harus pandai mengatur ruang. Malam itu menjadi istimewa karena bertepatan dengan malam Jumat Kliwon dan bulan purnama. Tenda-tenda menghadap langsung ke cahaya bulan, menciptakan suasana yang tenang sekaligus magis.

Setelah makan malam sederhana, pendaki beristirahat untuk mempersiapkan summit attack. Pagi hari, cuaca terpantau cerah sejak subuh. Setelah doa bersama, rombongan mulai bergerak menuju puncak dengan semangat baru meski sisa kelelahan masih terasa.

Pendakian menuju puncak memakan waktu sekitar dua hingga dua setengah jam. Jalur akhir menuntut fokus ekstra, terutama karena kondisi tanah dan batuan yang licin. Namun kebersamaan dan saling menyemangati menjadi energi utama hingga akhirnya rombongan tiba di puncak Gunung Slamet.

Di puncak, rasa lelah terbayar lunas. Suasana syukur, canda, dan kebersamaan mewarnai momen tersebut. Pendaki merayakan keberhasilan dengan sederhana, berbagi makanan, serta mengabadikan momen sebelum kembali turun.

Pendakian jalur selatan Gunung Slamet ini menegaskan bahwa gunung bukan hanya tentang puncak, melainkan proses. Tentang bagaimana manusia belajar sabar, disiplin, dan hidup selaras dengan alam. Slamet kembali mengingatkan, setiap langkah adalah pelajaran, dan setiap perjalanan adalah cerita.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Pos 7 Slame #Jalur Selatan Slame #gunung slamet #pendakian #Pendakian Berkelompok