Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Wisata Gunung Bromo dari Dekat: Menginap di Desa Awan, Sunrise Langka, hingga Kawah Aktif yang Bikin Merinding

Dyah Wulandari • Sabtu, 7 Februari 2026 | 12:35 WIB

Wisata Gunung Bromo menyuguhkan desa di atas awan, sunrise langka, dan kawah aktif yang menghadirkan petualangan tak terlupakan.
Wisata Gunung Bromo menyuguhkan desa di atas awan, sunrise langka, dan kawah aktif yang menghadirkan petualangan tak terlupakan.

JAKARTA – Wisata Gunung Bromo kembali membuktikan diri sebagai salah satu destinasi impian di Indonesia yang layak masuk travel bucket list siapa pun. Bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga pengalaman menyeluruh yang menyentuh budaya, kehidupan desa, hingga petualangan ekstrem di kawasan gunung berapi aktif.

Perjalanan wisata Gunung Bromo dalam video ini dimulai dari Surabaya. Setelah menempuh penerbangan sekitar tiga jam, rombongan disambut ramainya Bandara Juanda sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju kawasan Bromo. Perjalanan panjang itu terbayar dengan suasana desa pegunungan yang tenang, dikelilingi ladang sayuran subur di lereng gunung.

Menginap di homestay menjadi pengalaman awal yang berkesan. Terletak di kawasan dingin dengan suhu sekitar 24 derajat Celsius pada malam hari, homestay tersebut berdiri di tengah kebun kentang, bawang, dan aneka sayuran. Nuansanya sunyi, jauh dari hiruk-pikuk kota, membuat wisatawan merasa seolah bermalam di “kebun sayur di atas awan”.

Baca Juga: Shanaya Resort Malang: Glamping dan Villa Unik untuk Liburan Keluarga di Batu

Desa Dingin yang Hidup dan Bersahabat

Sebelum pendakian dini hari, wisatawan menyempatkan diri menyusuri desa. Anak-anak bermain di luar rumah, warga bercengkerama, dan deretan warung makan siap melayani wisatawan. Kuliner lokal seperti pecel sayur, bakso hangat, hingga minuman jahe menjadi penghangat tubuh sebelum aktivitas berat keesokan hari.

Wisata Gunung Bromo tak membuat pelancong khawatir soal logistik. Homestay, warung makan, hingga toko perlengkapan tersedia di sekitar desa. Bahkan jaket tebal, sarung tangan, dan penutup kepala bisa disewa jika wisatawan lupa membawa perlengkapan dingin.

Perjalanan Jeep Menembus Kabut

Sekitar pukul 03.30 pagi, perjalanan menuju spot sunrise dimulai dengan jeep 4x4. Kabut tebal menyelimuti jalur berliku, membuat jarak pandang sangat terbatas. Hanya pengemudi berpengalaman yang mampu menaklukkan rute ini, sementara kendaraan biasa hampir mustahil melewatinya.

Satu jam perjalanan terasa menegangkan, terutama bagi wisatawan yang mudah mabuk darat. Namun sesampainya di kawasan penanjakan, suasana berubah menjadi meriah. Deretan warung, kios suvenir, hingga penyewaan jaket dipadati wisatawan dari berbagai negara.

Baca Juga: Panduan Wisata Pulau Tabuhan dan Rekomendasi Hotel Terbaik di Banyuwangi

Sunrise dan Lautan Awan yang Langka

Sekitar pukul 05.00 pagi, langit mulai memerah. Wisata Gunung Bromo menyuguhkan pemandangan sunrise yang tak hanya indah, tetapi juga langka. Lapisan awan tebal menutupi kawah, membentuk fenomena “lautan awan” yang jarang terjadi.

Dari titik pandang yang lebih sepi, seluruh lanskap Gunung Bromo terlihat jelas. Gunung Bromo, Batok, dan Semeru berdiri berjejer, dengan Semeru sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa. Cahaya matahari perlahan memantul di punggung gunung, mengubah warna lanskap menjadi jingga keemasan.

Baca Juga: Kondisi Terkini Jalur Lintas Selatan (JLS) Pacitan–Trenggalek: Jalan Mulus, Pantai Soge & Spot Wisata Pesisir

Menyusuri Kawah Aktif Gunung Bromo

Perjalanan dilanjutkan ke kawah Gunung Bromo. Jalur ini menuntut stamina karena wisatawan harus berjalan di hamparan pasir vulkanik dan menaiki anak tangga menuju bibir kawah. Aroma belerang mulai tercium kuat, menyeruak dari kawah aktif yang terus mengeluarkan asap.

Di sekitar kawah, wisatawan dapat melihat lapisan abu vulkanik yang terbentuk dari letusan selama ratusan tahun. Lanskapnya kering dan asing, menyerupai permukaan planet lain. Meski terasa ekstrem, jalur menuju kawah relatif aman dengan pembatas di beberapa titik.

Baca Juga: Jalur Trenggalek–Pacitan via Jalur Selatan, Rute Berkelok dengan View Hutan dan Pantai Genting

Nilai Sakral dan Budaya Lokal

Wisata Gunung Bromo tak bisa dilepaskan dari nilai spiritual. Dalam kepercayaan masyarakat Tengger, Bromo berasal dari kata Brahma, dewa pencipta dalam Hindu. Kawah Bromo dianggap suci dan menjadi lokasi ritual tahunan, di mana sesajen dilemparkan ke dalam kawah sebagai bentuk penghormatan.

Pengunjung diimbau menjaga sikap dan menghormati adat setempat. Gunung Bromo bukan sekadar objek wisata, melainkan ruang hidup dan spiritual bagi masyarakat lokal.

Baca Juga: JLS Pacitan–Trenggalek Jadi Sorotan, Rute Jalur Lintas Selatan Lewat Pantai Soge hingga Munjungan

Pada akhirnya, wisata Gunung Bromo bukan untuk pelancong yang mencari kenyamanan semata. Destinasi ini diperuntukkan bagi mereka yang siap bangun dini hari, menempuh perjalanan panjang, dan merasakan langsung kekuatan alam. Namun satu hal pasti, setiap lelah akan terbayar lunas oleh pengalaman yang tak terlupakan.

Editor : Dyah Wulandari
#kawah gunung bromo #wisata gunung bromo #Sunrise Bromo #gunung bromo jawa timur #Taman Nasional Bromo Tengger Semeru