Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Menyusuri Kawah Gunung Bromo dari Dekat: Gemuruh Misterius, Lautan Pasir, hingga Denyut Kehidupan Suku Tengger

Dyah Wulandari • Sabtu, 7 Februari 2026 | 12:45 WIB

Menyusuri kawah Gunung Bromo dari dekat, dengar gemuruh kawah, nikmati lautan pasir, dan lihat aktivitas warga Suku Tengger.
Menyusuri kawah Gunung Bromo dari dekat, dengar gemuruh kawah, nikmati lautan pasir, dan lihat aktivitas warga Suku Tengger.

JAKARTA – Kawah Gunung Bromo kembali menjadi magnet wisatawan yang ingin merasakan langsung sensasi berdiri di bibir salah satu gunung berapi paling ikonik di Indonesia. Dalam penelusuran terbaru, kawasan kawah Gunung Bromo tak hanya menyuguhkan panorama alam yang megah, tetapi juga denyut kehidupan masyarakat Suku Tengger yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata.

Perjalanan menuju kawah Gunung Bromo bukanlah perjalanan singkat. Dari area parkir jeep, pengunjung harus menempuh perjalanan kaki yang melelahkan dengan ratusan anak tangga. Namun, rasa lelah itu seakan terbayar lunas begitu sampai di puncak kawah. Suara gemuruh dari dalam perut kawah terdengar jelas, menambah kesan mistis sekaligus mengingatkan bahwa Gunung Bromo masih aktif.

Di area kawah, pengunjung diimbau untuk tetap berada di balik pagar pembatas. Selain suhu yang ekstrem, kandungan sulfur atau belerang di sekitar kawah Gunung Bromo cukup tinggi dan berbahaya jika didekati terlalu dekat. Kondisi pagar pembatas yang mulai termakan usia juga menjadi pengingat agar wisatawan tidak melanggar batas demi keselamatan.

Baca Juga: Shanaya Resort Malang: Glamping dan Villa Unik untuk Liburan Keluarga di Batu

Lautan Pasir dan Gunung Batok

Keunikan kawah Gunung Bromo terletak pada posisinya yang berada di tengah hamparan lautan pasir luas. Dari puncak kawah, wisatawan bisa melihat Gunung Batok berdiri kokoh tepat di hadapan mata. Gunung ini dapat didaki dengan berjalan kaki dari bawah dengan waktu tempuh sekitar satu hingga dua jam.

Meski mendekati siang hari, kawasan Bromo tetap dipadati wisatawan domestik maupun mancanegara. Jalur naik dan turun menuju kawah sudah diatur terpisah untuk meminimalkan risiko kecelakaan. Di beberapa titik, tersedia area istirahat bagi pengunjung yang kelelahan setelah menaiki anak tangga panjang.

Baca Juga: Penginapan Asmaraloka Mojokerto: Staycation Keluarga dengan Wahana Viral “Keranjang Sultan”

Secara geografis, kawah Gunung Bromo memiliki diameter sekitar 800 meter dari utara ke selatan dan 600 meter dari timur ke barat. Sementara itu, zona bahaya ditetapkan dalam radius empat kilometer dari pusat kawah. Pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terus mengingatkan pengunjung untuk mematuhi aturan demi keselamatan bersama.

Ritual Kasada dan Nilai Sakral

Bagi masyarakat Suku Tengger, kawah Gunung Bromo bukan sekadar objek wisata. Kawasan ini memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi, terutama saat perayaan Yadnya Kasada. Pada momen tersebut, warga dari empat kabupaten berkumpul untuk berdoa dan melemparkan sesaji berupa hasil bumi ke dalam kawah sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta.

Baca Juga: ARTOTEL Cabin Bromo: Penginapan Kabin Estetis dengan Pemandangan Langsung Gunung Bromo

Suasana religius menyelimuti lautan pasir dan kawah, menciptakan pemandangan yang tak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna budaya.

Ekonomi Warga Suku Tengger

Aktivitas wisata di kawah Gunung Bromo turut menggerakkan roda perekonomian warga lokal. Di sepanjang jalur menuju kawah, pedagang menjajakan aneka souvenir, bunga edelweis, gantungan kunci, hingga makanan dan minuman untuk para pendaki.

Tak ketinggalan, jasa sewa kuda menjadi pilihan favorit wisatawan yang kelelahan. Tarifnya bervariasi, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp250 ribu, tergantung jarak dan layanan yang dipilih. Kuda-kuda milik warga Suku Tengger ini siap mengantar wisatawan naik maupun turun dari kawasan kawah.

Baca Juga: Review Kanana Retreat Coban Rondo Batu: Staycation Alam, View Pinus, dan BBQ Seru

Selain berdagang, kehidupan permukiman warga Suku Tengger juga menarik perhatian. Rumah-rumah mereka identik dengan tanaman hijau di pekarangan. Uniknya, sayuran seperti daun bawang, wortel, hingga stroberi kerap dijadikan tanaman hias, mencerminkan kedekatan mereka dengan alam pegunungan.

Pesona yang Tak Pernah Habis

Kawah Gunung Bromo bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga ruang hidup yang menyatukan keindahan lanskap, budaya, dan aktivitas ekonomi masyarakat lokal. Setiap langkah di kawasan ini menghadirkan cerita tentang alam yang perkasa dan manusia yang beradaptasi dengan segala keterbatasan.

Baca Juga: JLS Pacitan–Trenggalek Jadi Sorotan, Rute Jalur Lintas Selatan Lewat Pantai Soge hingga Munjungan

Dengan pengelolaan yang berkelanjutan dan kesadaran wisatawan untuk menjaga aturan, kawah Gunung Bromo akan terus menjadi ikon pariwisata Jawa Timur yang memikat, hari ini dan di masa mendatang.

 

Editor : Dyah Wulandari
#kawah gunung bromo #suku tengger #gunung batok #Taman Nasional Bromo Tengger Semeru #wisata bromo