Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Berburu Sunrise Gunung Bromo dari Malang: Dinginnya Penanjakan, Lautan Pasir, hingga Pesona Kawah yang Bikin Ketagihan

Dyah Wulandari • Sabtu, 7 Februari 2026 | 12:50 WIB
Berburu sunrise Gunung Bromo dari Malang, nikmati Penanjakan, lautan pasir, Pasir Berbisik, hingga kawah ikonik Bromo.
Berburu sunrise Gunung Bromo dari Malang, nikmati Penanjakan, lautan pasir, Pasir Berbisik, hingga kawah ikonik Bromo.

JAKARTA – Berburu sunrise Gunung Bromo selalu menjadi pengalaman yang tak pernah gagal memikat wisatawan. Kali ini, perjalanan dimulai dari Kota Malang menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dengan estimasi waktu tempuh sekitar satu jam. Meski harus berangkat dini hari dan menahan kantuk, semua terbayar lunas begitu cahaya pagi perlahan menyinari lanskap pegunungan.

Perjalanan menuju Bromo diawali dengan singgah di Kecamatan Poncokusumo, wilayah perbatasan yang menjadi salah satu pintu masuk favorit wisatawan dari arah Malang. Di kawasan ini, wisatawan wajib berganti kendaraan menggunakan jeep khusus, mengingat medan ekstrem yang tidak memungkinkan dilalui kendaraan biasa.

Setelah melewati pos loket masuk kawasan Gunung Bromo, perjalanan dilanjutkan menuju Bukit Penanjakan. Harga tiket masuk sendiri terbilang terjangkau, yakni sekitar Rp25.000 untuk hari biasa dan Rp34.000 saat akhir pekan. Meski cuaca kurang bersahabat dengan gerimis tipis dan kabut tebal, antusiasme wisatawan tak surut.

Baca Juga: Shanaya Resort Malang: Glamping dan Villa Unik untuk Liburan Keluarga di Batu

Bukit Penanjakan, Titik Favorit Sunrise Gunung Bromo

Bukit Penanjakan 1 menjadi titik tertinggi sekaligus lokasi paling populer untuk menikmati sunrise Gunung Bromo. Dengan ketinggian sekitar 2.770 meter di atas permukaan laut, suhu di kawasan ini terasa menusuk tulang. Bahkan, tangan bisa gemetar meski telah mengenakan jaket tebal.

Sekitar pukul 03.00 WIB, kawasan Penanjakan sudah dipadati pengunjung. Warung-warung kecil berjajar, menawarkan kopi panas dan camilan untuk mengusir dingin sambil menunggu matahari terbit. Meski langit sempat tertutup awan akibat musim hujan, perlahan cuaca membaik menjelang pagi.

Baca Juga: JLS Pacitan–Trenggalek Jadi Sorotan, Rute Jalur Lintas Selatan Lewat Pantai Soge hingga Munjungan

Ketika langit mulai cerah, panorama Gunung Semeru, Gunung Bromo, dan hamparan Pegunungan Tengger terlihat jelas. Momen inilah yang ditunggu-tunggu. Cahaya keemasan menyapu lautan pasir, menciptakan pemandangan dramatis yang membuat rasa lelah seolah menguap.

Lautan Pasir dan Pasir Berbisik

Usai menikmati sunrise, perjalanan dilanjutkan turun menuju lautan pasir. Area ini menjadi jalur utama jeep sekaligus spot favorit untuk berfoto. Hamparan pasir yang luas menghadirkan sensasi bak berada di padang pasir, dengan latar gunung yang megah.

Tak jauh dari sana, wisatawan bisa singgah di Bukit Teletubbies. Bukit hijau dengan kontur bergelombang ini disebut mirip latar serial anak-anak Teletubbies. Saat musim hujan, warnanya tampak hijau segar dan sangat instagramable. Meski di hari biasa relatif sepi, pesonanya tetap memikat.

Baca Juga: Jalur Trenggalek–Pacitan via Jalur Selatan, Rute Berkelok dengan View Hutan dan Pantai Genting

Destinasi berikutnya adalah Pasir Berbisik, kawasan legendaris yang pernah menjadi lokasi syuting film nasional. Dinamakan Pasir Berbisik karena pada musim kemarau, pasir akan mengeluarkan bunyi saat tertiup angin. Meski kali ini cuaca cenderung lembap, hamparan pasirnya tetap menyuguhkan panorama yang luar biasa.

Menuju Kawah Gunung Bromo

Perjalanan ditutup dengan kunjungan ke kawah Gunung Bromo. Kendaraan hanya diperbolehkan parkir di area tertentu, selanjutnya wisatawan bisa berjalan kaki atau menyewa kuda milik warga setempat. Jarak menuju kawah sekitar dua hingga tiga kilometer, tergantung titik parkir.

Baca Juga: Omah Blado Resort Trenggalek, Glamping Tepi Pantai Pertama di Munjungan dengan Nuansa Estetik

Di sekitar area parkir, banyak warung yang menyediakan sarapan dan minuman hangat. Aktivitas wisata yang padat membuat kawasan ini selalu hidup, bahkan sejak pagi hari. Kawah Bromo sendiri menjadi simbol utama kawasan ini, menawarkan sensasi berdiri di bibir gunung berapi aktif yang tak terlupakan.

Berwisata ke Bromo memang bukan sekadar soal foto, tetapi tentang pengalaman. Mulai dari dinginnya dini hari, perjuangan menembus kabut, hingga kepuasan menyaksikan sunrise Gunung Bromo secara langsung. Tak heran jika banyak wisatawan mengaku ketagihan dan ingin kembali lagi.

Editor : Dyah Wulandari
#pasir berbisik #Sunrise Gunung Bromo #Bukit Penanjakan #wisata bromo