WONOSOBO - Desa Parikesit Dieng menawarkan pengalaman visual yang jarang ditemukan di wilayah lain di Indonesia. Terletak di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, desa ini berdiri di tepi jurang Pegunungan Dieng dengan ketinggian ekstrem. Rumah-rumah warganya tampak seolah melayang di atas awan, terutama saat kabut tebal bergerak naik dari lembah menuju punggung gunung.
Desa Parikesit Dieng dikenal sebagai salah satu desa tertinggi di kawasan Dieng Plateau. Saat pagi hari, pemandangan lautan awan kerap menyelimuti wilayah ini. Dari sudut tertentu, awan terlihat bergerak cepat, menutup dan membuka panorama gunung secara bergantian, menciptakan sensasi seolah berada di dalam pesawat yang sedang menembus awan.
Baca Juga: Jalur Trenggalek–Pacitan via Jalur Selatan, Rute Berkelok dengan View Hutan dan Pantai Genting
Desa di Tepi Jurang Pegunungan Dieng
Secara geografis, Desa Parikesit berada di kawasan pegunungan dengan kontur lahan yang sangat curam. Permukiman warga dibangun mengikuti kontur alam, dengan jarak antar rumah yang cukup berjauhan. Di beberapa titik, batas desa langsung berbatasan dengan jurang dalam yang mengarah ke lembah di bawahnya.
Dari desa ini, pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing terlihat jelas saat cuaca cerah. Kedua gunung kembar tersebut menjadi latar alam utama kehidupan warga sehari-hari. Namun, kabut bisa datang kapan saja. Kondisi cuaca di dataran tinggi Dieng memang sulit diprediksi, di mana wilayah bawah bisa tertutup kabut tebal sementara area atas justru cerah.
Kehidupan Petani di Dataran Tinggi
Sebagian besar warga Desa Parikesit menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Kentang menjadi komoditas utama yang ditanam di ladang-ladang terasering ekstrem. Sistem terasering di desa ini berbeda dari sawah biasa. Lebar lahan sempit dengan perbedaan ketinggian yang tajam, menyerupai tangga curam.
Baca Juga: Panduan Lengkap Wisata Bali: Destinasi Ikonik, Tempat Tersembunyi, Dan Pengalaman Wajib Dicoba
Aktivitas bertani dimulai sejak pagi hari. Warga berangkat ke ladang dengan mengenakan sarung sebagai penghangat tubuh, ciri khas masyarakat pegunungan. Jalan setapak sempit menjadi akses utama menuju lahan pertanian. Di beberapa lokasi, petani harus melewati jalur yang berada tepat di sisi jurang.
Bibit kentang terlihat dijemur di ladang sebelum ditanam kembali. Proses ini dilakukan agar bibit tumbuh optimal. Selain kentang, warga juga menanam cabai dan tanaman hortikultura lain yang cocok dengan iklim Dieng.
Transportasi dan Kearifan Lokal
Di kawasan Dieng, mobil pikap menjadi alat transportasi utama warga. Kendaraan ini digunakan untuk mengangkut hasil panen, pupuk, hingga sebagai sarana mobilitas harian. Meski kini sudah tersedia bus dan akses jalan yang lebih baik, mobil pikap tetap menjadi simbol kearifan lokal transportasi dataran tinggi.
Bahasa yang digunakan warga Desa Parikesit juga memiliki kekhasan tersendiri. Logat Banyumasan atau ngapak terdengar dalam percakapan sehari-hari, berbeda dengan bahasa Jawa krama yang umum digunakan di wilayah Yogyakarta atau Solo.
Baca Juga: Bali Pulau Dewata: Sejarah, Budaya, Ritual, Dan Pesona Wisata Yang Mendunia
Warga Ramah dan Budaya Gotong Royong
Meski tinggal di wilayah ekstrem, warga Desa Parikesit dikenal ramah dan terbuka terhadap pendatang. Silaturahmi dengan warga sering terjadi secara spontan di jalan desa maupun di ladang. Interaksi sederhana tersebut menjadi gambaran kuatnya budaya gotong royong di pedesaan Dieng.
Sebagian dusun di Desa Parikesit, seperti Dusun Wadas Putih, masih mempertahankan kehidupan desa yang tenang. Aktivitas warga berjalan selaras dengan alam, mengikuti ritme cuaca dan musim tanam.
Desa di Atas Awan yang Menyimpan Cerita
Desa Parikesit Dieng bukan sekadar destinasi visual, melainkan potret ketangguhan masyarakat pegunungan. Hidup di tengah kabut, jurang, dan cuaca ekstrem membentuk karakter warga yang kuat dan adaptif. Keindahan alam berpadu dengan cerita kehidupan sederhana, menjadikan desa ini salah satu wajah autentik Pegunungan Dieng yang masih terjaga hingga kini.
Baca Juga: 10 Destinasi Wisata Di Bali Yang Wajib Anda Kunjungi, Dari Pantai Hingga Pura Ikonik
Editor : Natasha Eka Safrina