SUKABUMI – Perjalanan menuju Kasepuhan Gelar Alam bukanlah perjalanan biasa. Dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, rombongan harus menempuh jalur menantang dengan medan terjal dan licin, menyusuri kawasan Gunung Halimun hingga mencapai ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun, segala lelah terbayar ketika tiba di Desa Adat Gelar Alam, sebuah komunitas adat Sunda yang masih teguh menjaga warisan leluhur di tengah hutan.
Kasepuhan Gelar Alam, yang sebelumnya dikenal sebagai Kasepuhan Cipta Gelar, merupakan masyarakat adat yang hidup selaras dengan alam. Sistem pertanian mereka dijalankan tanpa bahan kimia, mengikuti kalender adat, serta memegang teguh filosofi keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.
Baca Juga: Jalur Trenggalek–Pacitan via Jalur Selatan, Rute Berkelok dengan View Hutan dan Pantai Genting
Imah Gede, Pusat Kehidupan Adat
Setibanya di desa saat menjelang magrib, para tamu disambut hangat di Imah Gede, rumah besar yang menjadi pusat kegiatan adat sekaligus kediaman pemimpin tertinggi, Abah Ugi. Di tempat inilah seluruh musyawarah adat, pengambilan keputusan penting, hingga ritual sakral seperti Seren Taun dilaksanakan.
Secara spiritual, Imah Gede dianggap sebagai bangunan paling sakral di Kasepuhan Gelar Alam. Bangunannya didominasi material alami seperti bambu, kayu, dan atap daun salak yang dipasang terbalik agar berfungsi sebagai pelindung dari hujan. Rumah ini dirancang berbentuk panggung, dengan kolong yang berfungsi sebagai perlindungan dari serangan binatang dan menjaga sirkulasi udara tetap sehat.
Di dalamnya, suasana terasa lapang dan hangat. Dinding bambu, jendela besar yang bisa dibuka ke segala arah, serta cahaya alami menciptakan sirkulasi udara yang baik. Imah Gede juga menjadi tempat menginap bagi tamu yang datang, mencerminkan keterbukaan masyarakat adat terhadap siapa pun yang ingin belajar dan bersilaturahmi.
Baca Juga: Panduan Lengkap Wisata Bali: Destinasi Ikonik, Tempat Tersembunyi, Dan Pengalaman Wajib Dicoba
Hidup Tanpa Konsep Jual-Beli
Menariknya, Kasepuhan Gelar Alam bukanlah destinasi wisata komersial. Setiap orang yang datang dianggap sebagai tamu atau saudara. Tidak ada tarif menginap, tidak ada harga makanan, dan tidak ada pungutan resmi. Makan bersama, minum kopi atau teh, hingga camilan tradisional seperti dodol disajikan tanpa transaksi jual beli.
Konsep “gratis” di sini bukan berarti tanpa makna, melainkan wujud nilai berterima kasih dan saling menghargai. Warga percaya bahwa rezeki memiliki ukuran dan takaran masing-masing, dan setiap tamu memahami sendiri bagaimana menghargai pemberian tersebut.
Dapur Besar dan Gotong Royong
Dapur Imah Gede menjadi pusat aktivitas harian. Sejak pukul tiga dini hari, para ibu sudah mulai memasak untuk warga dan tamu. Tungku-tungku besar menyala tanpa membuat ruangan dipenuhi asap, berkat sistem ventilasi alami dan posisi dapur yang dirancang mengikuti kondisi lingkungan.
Semua kebutuhan dapur berasal dari alam sekitar. Air mengalir langsung dari mata air pegunungan tanpa batas. Ayam, telur, dan hasil ladang tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan harian komunitas.
Baca Juga: 7 Pura Terindah Di Bali Yang Wajib Dikunjungi, Jejak Sakral Di Pulau Dewata
Lumbung Padi dan Ketahanan Pangan
Salah satu simbol terpenting Kasepuhan Gelar Alam adalah leuit atau lumbung padi. Padi dianggap sebagai makhluk hidup yang harus dihormati dan dijaga. Dari seluruh wilayah kasepuhan, tercatat terdapat sekitar 12.000 leuit yang menyimpan cadangan pangan hingga 95 tahun ke depan.
Leuit Si Jimat menjadi lumbung paling sakral. Selain sebagai simbol ketahanan pangan, leuit ini berfungsi sebagai tabungan komunal yang akan digunakan saat paceklik atau panen gagal. Bangunan ini juga menjadi pusat perhatian dalam upacara Seren Taun tahunan yang mampu menarik puluhan ribu orang, termasuk dari mancanegara.
Desa yang Pindah Bersama Nilai Leluhur
Dalam beberapa tahun terakhir, seluruh Kasepuhan Gelar Alam berpindah lokasi dari Cipta Gelar ke wilayah baru. Proses pemindahan dilakukan secara gotong royong tanpa alat berat, hanya mengandalkan cangkul, bambu, dan tenaga ribuan warga. Sekali kerja bakti, lebih dari 3.000 orang terlibat.
Kasepuhan Gelar Alam menjadi bukti bahwa kehidupan modern tidak selalu harus meninggalkan nilai leluhur. Di tengah krisis lingkungan dan pangan, masyarakat adat ini menunjukkan bahwa hidup dekat dengan alam justru menciptakan keseimbangan dan ketahanan jangka panjang.
Editor : Natasha Eka Safrina