JAKARTA – Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kian mengukuhkan diri sebagai salah satu destinasi favorit wisatawan. Deretan tempat wisata Klaten terbaru yang kekinian dan instagramable menjadi magnet kuat, terutama bagi wisatawan muda yang gemar berburu spot foto unik. Lokasinya yang strategis, berada di antara Yogyakarta dan Solo, membuat Klaten mudah dijangkau dari berbagai arah.
Tak hanya dikenal sebagai daerah agraris, Klaten menyimpan kekayaan wisata alam, sejarah, hingga wisata modern yang terus berkembang. Mulai dari wisata air alami, candi bersejarah, hingga destinasi kekinian berbasis foto, semuanya tersedia dalam satu wilayah. Tak heran jika pencarian terkait tempat wisata Klaten terbaru terus meningkat di mesin pencari.
Berikut rangkuman 15 destinasi wisata Klaten yang tengah populer dan wajib masuk daftar kunjungan.
Wisata Air Ikonik dan Mata Air Alami
Nama Umbul Ponggok sudah lama menjadi ikon wisata Klaten. Destinasi ini menawarkan pengalaman snorkeling di kolam alami dengan air jernih dan ikan warna-warni. Keunikan lainnya, wisatawan bisa berfoto di dalam air dengan properti khusus yang disediakan pengelola.
Selain Umbul Ponggok, Klaten juga memiliki Umbul Kapilaler yang suasananya lebih tenang dan asri. Lokasinya cukup tersembunyi dari jalan utama, membuat tempat ini cocok bagi pencari ketenangan. Airnya dingin, jernih, dan bisa dinikmati tanpa tiket masuk, cukup dengan sumbangan sukarela.
Baca Juga: Kampung Bulak PP Ngawi, Kampung Kerbau di Tengah Hutan Jati yang Masih Bertahan di Era Modern
Tak kalah menarik, Umbul Jolotundo menawarkan tiga kolam alami dengan cerita legenda batu tapak kaki Bisma. Air di sini dikenal alami tanpa kaporit, sehingga aman dan menyegarkan.
Jejak Sejarah dan Candi Berkelas Dunia
Klaten juga kaya akan wisata sejarah. Candi Lumbung, peninggalan Kerajaan Mataram abad ke-9, menjadi saksi perkembangan peradaban Buddha. Arsitekturnya unik dan berada dalam satu kompleks dengan candi lainnya.
Nama besar Candi Sewu juga tak bisa dilewatkan. Sebagai salah satu candi Buddha terbesar di Indonesia, Candi Sewu bahkan diyakini lebih tua dari Borobudur. Jumlah bangunannya yang banyak membuat kawasan ini tampak seperti “seribu candi”.
Sementara itu, Candi Prambanan meski sering dikaitkan dengan Yogyakarta, secara administratif masuk wilayah Klaten. Legenda Roro Jonggrang dan kemegahan arsitektur Hindu menjadi daya tarik utama.
Tak jauh dari sana, Candi Plaosan menawarkan suasana lebih tenang dengan latar padang rumput hijau, cocok untuk wisata santai dan fotografi.
Wisata Kekinian dan Spot Foto Instagramable
Bagi pencinta foto malam, Taman Lampion Klaten menjadi destinasi wajib. Lampion warna-warni dengan berbagai bentuk menciptakan suasana estetik saat malam hari.
Ada pula Taman Kamboja Klaten, yang menyajikan deretan pohon kamboja dengan nuansa unik, antik, dan sedikit mistis. Tempat ini kerap dijadikan lokasi nongkrong dan hunting foto.
Untuk wisata air buatan, Lepen Kencono hadir dengan berbagai wahana bermain, mulai dari papan luncur hingga jembatan goyang, cocok untuk keluarga.
Wisata Alam dan Petualangan
Bagi pencinta adrenalin, river boarding Kali Pusur menjadi pilihan menarik. Aktivitas ini memanfaatkan aliran sungai deras dengan papan khusus, populer di kalangan anak muda.
Sementara itu, Wisata Kali Talang menawarkan panorama Gunung Merapi dari ketinggian 1.120 mdpl. Pemandangan awan yang menyelimuti puncak gunung menjadikan lokasi ini favorit untuk foto landscape.
Wisata Kuliner Unik
Tak lengkap rasanya berwisata tanpa kuliner. Warung Apung Rowo Jombor menghadirkan pengalaman makan di atas rawa dengan menu andalan ikan bakar air tawar dan seafood. Pengunjung harus menaiki rakit untuk mencapai warung, menambah kesan unik.
Melengkapi daftar, Mata Air Cokro Tulung menjadi destinasi favorit keluarga, terutama saat liburan. Selain berenang, tersedia wahana flying fox yang diminati pengunjung.
Dengan ragam destinasi tersebut, Klaten membuktikan diri sebagai daerah dengan potensi wisata lengkap. Dari alam, sejarah, hingga wisata modern, tempat wisata Klaten terbaru siap memanjakan wisatawan dari berbagai kalangan.
Editor : Dyah Wulandari