RADAR TRENGGALEK – Menjelajah Pulau Flores selalu menawarkan pengalaman yang tak biasa.
Pulau yang dijuluki sebagai Pulau Bunga ini bukan hanya memikat lewat panorama alamnya, tetapi juga melalui kekayaan budaya, tradisi, dan keanekaragaman hayati yang jarang ditemui di wilayah lain di Indonesia.
Dalam sebuah tayangan video perjalanan, Flores digambarkan sebagai destinasi yang menghadirkan keindahan sekaligus keunikan dalam satu paket lengkap.
Menjelajah Pulau Flores berarti menyusuri wilayah dengan beragam karakter, mulai dari pesisir, pegunungan, hingga kampung-kampung adat yang masih menjaga warisan leluhur.
Pulau ini menjadi rumah bagi delapan kabupaten di Nusa Tenggara Timur, seperti Manggarai Barat dengan ibu kota Labuan Bajo, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, serta Flores Timur.
Salah satu daya tarik awal dalam perjalanan adalah Pantai Koka di Kabupaten Sikka. Pantai ini dikenal dengan pasir putih dan air laut yang jernih, cocok untuk wisata santai.
Sambil menikmati panorama, wisatawan bisa mencicipi minuman khas Flores seperti moke, minuman tradisional hasil fermentasi yang menjadi simbol persaudaraan dalam pergaulan masyarakat setempat.
Bagi yang ingin pilihan lebih ringan, kopi arabika Flores menjadi andalan, dikenal memiliki cita rasa khas dan telah diakui kualitasnya secara nasional.
Kekayaan Budaya dan Kampung Adat
Menjelajah Pulau Flores tidak lengkap tanpa mengunjungi kampung adat dengan rumah-rumah kerucut ikonik. Salah satu yang paling terkenal adalah Desa Wae Rebo di Kabupaten Manggarai.
Desa ini berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut dan sering dijuluki sebagai “desa di atas awan”. Rumah adatnya menjadi simbol keharmonisan manusia dengan alam.
Selain itu, terdapat Kampung Todo di Kecamatan Satarmese Utara, yang dahulu menjadi pusat Kerajaan Manggarai. Kampung Bena di Kabupaten Ngada juga menyimpan puluhan rumah adat yang telah berusia ratusan tahun.
Atmosfer di kampung-kampung ini seolah membawa pengunjung kembali ke masa lalu, dengan tradisi dan kepercayaan yang masih dijalankan hingga kini.
Masyarakat Flores sendiri terdiri dari berbagai suku besar seperti Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, Lio, Sikka, Larantuka, dan Lembata. Setiap suku memiliki bahasa, dialek, serta kekhasan budaya masing-masing, menjadikan Flores sebagai salah satu wilayah dengan keragaman budaya tertinggi di Indonesia.
Tradisi Unik Pemburu Paus
Di Pulau Lembata, tepatnya di Desa Lamalera, terdapat tradisi berburu paus yang telah berlangsung ratusan tahun. Para lamafa atau juru tombak akan menunggu paus lewat untuk ditombak secara tradisional. Jumlah tangkapan dibatasi dan hanya paus tertentu yang boleh diburu. Dagingnya kemudian dibagikan kepada warga, terutama janda, lansia, dan yatim piatu, sebagai bentuk solidaritas sosial.
Menariknya, di Lembata juga masih terdapat pasar barter, di mana masyarakat menukar hasil bumi dan hasil laut tanpa menggunakan uang. Tradisi ini menjadi bukti kuatnya nilai gotong royong yang masih hidup di Flores.
Surga Flora, Fauna, dan Bentang Alam
Flores juga dikenal sebagai habitat berbagai satwa endemik, termasuk burung hantu Flores yang diyakini masyarakat Manggarai sebagai leluhur sehingga tidak boleh disakiti.
Selain itu, kadal purba komodo tidak hanya ditemukan di Taman Nasional Komodo, tetapi juga di wilayah lain seperti Riung dan beberapa pulau kecil di sekitarnya.
Untuk pecinta alam, Gunung Kelimutu menjadi destinasi wajib. Gunung berapi ini memiliki tiga danau dengan warna berbeda yang dapat berubah-ubah akibat reaksi kimia dan aktivitas mikroorganisme. Keunikan ini menjadikan Kelimutu sebagai salah satu ikon wisata Indonesia.
Kuliner Khas yang Menggoda
Menjelajah Pulau Flores juga berarti memanjakan lidah. Kuliner berbasis jagung seperti jagung bose, jagung catemak, hingga jagung titi menjadi makanan pokok di banyak daerah.
Ada pula sei, daging asap khas Flores, yang biasanya dimasak kembali bersama daun pepaya dan disantap dengan nasi bambu.
Dengan perpaduan alam, budaya, tradisi, serta kuliner yang autentik, Flores layak masuk dalam daftar destinasi rekomendasi tahun 2026 bagi wisatawan yang ingin merasakan Indonesia dari sisi yang berbeda.
Pulau ini bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, tetapi ruang untuk memahami keragaman Nusantara secara lebih mendalam.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula