PACITAN – Alun-Alun Pacitan kembali menjadi magnet warga menjelang malam hari. Suasana sore hingga usai magrib tampak hidup dengan aktivitas masyarakat yang datang untuk bersantai, beribadah, hingga berburu kuliner khas kaki lima.
Perjalanan menuju Alun-Alun Pacitan dari arah Kecamatan Arjosari menyuguhkan pemandangan pedesaan yang asri. Hamparan persawahan hijau dan langit senja kekuningan menjadi latar perjalanan yang menenangkan. Akses jalan menuju pusat kota juga relatif mulus, meski di beberapa titik masih ditemukan lubang yang perlu diwaspadai pengendara.
Memasuki wilayah kota, arus lalu lintas terpantau lancar. Di sejumlah persimpangan, pengendara diimbau tetap mematuhi rambu dan lampu lalu lintas demi keselamatan bersama. Kota Pacitan sendiri dikenal sebagai daerah dengan banyak destinasi wisata, mulai dari pantai hingga gua, sehingga pusat kotanya kerap menjadi titik kumpul wisatawan.
Singgah di Masjid Agung Pacitan
Sebelum menikmati suasana alun-alun, banyak warga memilih menunaikan ibadah di Masjid Agung Pacitan yang lokasinya tidak jauh dari pusat keramaian. Area parkir masjid terbilang luas dan mampu menampung banyak kendaraan, terutama saat waktu salat magrib tiba.
Keberadaan masjid di dekat alun-alun menjadi nilai tambah tersendiri. Pengunjung dapat beribadah dengan nyaman sebelum melanjutkan aktivitas bersantai atau kuliner malam.
Usai salat, keramaian di sekitar alun-alun mulai terlihat. Lampu-lampu taman menyala, pedagang kaki lima menyiapkan dagangan, dan warga mulai berdatangan bersama keluarga maupun teman.
Baca Juga: Warung The Palem Malang, Kuliner Masakan Rumahan Rasa Jawa dengan Konsep Makan Sekaligus Berenang
Surga Kuliner Kaki Lima
Malam hari di Alun-Alun Pacitan identik dengan deretan penjual makanan dan minuman. Dari ujung ke ujung kawasan, pengunjung bisa menemukan aneka jajanan seperti susu jahe hangat, jadah bakar, sate, tahu bakar, hingga es jeruk segar.
Susu jahe menjadi salah satu minuman favorit, terutama untuk menghangatkan tubuh di udara malam yang sejuk. Sementara jadah bakar dengan olesan bumbu manis gurih dan tambahan sate menjadi pilihan camilan yang mengenyangkan.
Harga yang ditawarkan relatif terjangkau. Dengan belasan ribu rupiah, pengunjung sudah bisa menikmati kombinasi susu jahe dan jadah bakar. Tak heran jika kawasan ini selalu ramai, terutama pada akhir pekan atau malam Minggu.
Selain kuliner, area alun-alun juga ramah anak. Di sisi tertentu, tersedia wahana permainan sederhana yang bisa dinikmati anak-anak. Orang tua pun dapat bersantai sambil mengawasi buah hati mereka bermain.
Ikon Kota dan Akses Strategis
Tak jauh dari alun-alun, terdapat ikon kota yang cukup dikenal masyarakat, yakni Tugu Penceng. Lokasi ini kerap menjadi penanda bahwa pengunjung telah memasuki pusat Kota Pacitan.
Secara geografis, Pacitan berada di kawasan selatan Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Kota ini juga dikenal dengan julukan “Kota 1001 Gua” karena banyaknya destinasi wisata gua yang tersebar di berbagai kecamatan.
Akses menuju pusat kota dari arah Ponorogo maupun wilayah Arjosari cukup mudah dijangkau. Jalur utama sudah beraspal dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat dengan nyaman.
Alternatif Wisata Malam yang Murah Meriah
Bagi warga lokal, Alun-Alun Pacitan menjadi pilihan rekreasi murah meriah. Tanpa tiket masuk, masyarakat sudah bisa menikmati suasana kota, mencicipi kuliner, hingga berkumpul bersama keluarga.
Keramaian biasanya memuncak saat malam Minggu dan momen libur panjang. Namun pada hari biasa, suasana cenderung lebih santai dan tidak terlalu padat.
Keberadaan pedagang kaki lima juga menjadi penggerak ekonomi mikro di pusat kota. Aktivitas jual beli yang berlangsung setiap malam memberi peluang penghasilan bagi warga sekitar.
Dengan kombinasi suasana religius, kuliner beragam, serta ruang terbuka untuk bersantai, Alun-Alun Pacitan tetap menjadi jantung aktivitas masyarakat di malam hari. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pacitan, mampir ke alun-alun saat senja hingga malam bisa menjadi pengalaman sederhana namun berkesan.
Editor : Divka Vance Yandriana