RADAR TRENGGALEK - Wisata Magelang kembali mencuri perhatian wisatawan pada 2026.
Kota kecil di Jawa Tengah ini tak hanya menawarkan panorama alam yang sejuk, tetapi juga deretan destinasi unik dan kuliner legendaris yang menggoda lidah.
Wisata Magelang identik dengan udara dingin dan lanskap pegunungan. Dikelilingi lima gunung besar seperti Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Telomoyo, dan Pegunungan Menoreh, kota ini terasa romantis sekaligus menenangkan.
Selain alamnya, wisata Magelang juga terkenal karena perpaduan spot ikonik dan kuliner legendaris yang tetap bertahan di tengah gempuran makanan kekinian.
Gereja Ayam Bukit Rema, Ikon Unik Dekat Borobudur
Salah satu destinasi paling unik dalam wisata Magelang adalah Gereja Ayam Bukit Rema.
Lokasinya tidak jauh dari Candi Borobudur dan berada di kawasan perbukitan yang hijau.
Meski dikenal sebagai Gereja Ayam, bangunan ini sebenarnya berbentuk burung merpati.
Tempat ini digagas Daniel Alamsyah pada 1990-an sebagai rumah doa lintas agama. Pengunjung dari berbagai latar belakang bisa beribadah sesuai keyakinan masing-masing.
Dari lantai atas bangunan, wisatawan dapat menikmati panorama perbukitan yang diselimuti kabut tipis.
Di area yang sama terdapat Kedai Bukit Rema, tempat ngopi santai sambil memandang kepala “ayam” raksasa yang ikonik.
Kombinasi arsitektur unik dan suasana mistis membuat spot ini ramai diburu konten kreator.
Sop Empal Bu Haryoko, Legenda Sejak 1945
Berburu kuliner adalah bagian tak terpisahkan dari wisata Magelang. Salah satu yang paling legendaris adalah Sop Empal Bu Haryoko.
Warung ini disebut sudah ada sejak 1945 dan kini dikelola generasi ketiga. Menu andalannya sop bening berisi bihun dan kol yang dipadukan dengan empal lembut, paru, serta koyor.
Empal yang disebut “daging gizi” memiliki tekstur empuk dengan cita rasa gurih manis yang khas.
Yang membuat berbeda adalah perpaduan sop ringan dengan empal berbumbu. Kuahnya tidak terlalu manis, namun semakin nikmat saat ditambah sambal dan kerupuk gendar. Tak heran jika tempat ini selalu ramai, terutama saat musim liburan.
Beberapa cabang sudah hadir di luar kota, namun banyak pelanggan menyebut rasa paling autentik tetap di pusatnya, Magelang.
Kupat Tahu Pojok, Kuliner Tradisional yang Bertahan
Rekomendasi berikutnya dalam wisata Magelang adalah Kupat Tahu Pojok. Warung ini menjadi ikon kuliner tradisional yang tetap eksis hingga kini.
Kupat tahu terdiri dari ketupat, tahu goreng, tauge, dan kol yang disiram bumbu kacang encer serta kecap.
Berbeda dari ketoprak atau gado-gado, kuah kacangnya lebih ringan dan cenderung seperti kuah sup.
Cita rasanya seimbang antara manis dan gurih. Saat ditambah sambal, sensasinya makin menggugah selera.
Tak sedikit tokoh publik pernah mampir ke warung ini, menambah daya tariknya sebagai destinasi kuliner wajib coba.
Es Murni, Segar Tanpa Pengawet Sejak 1962
Tak lengkap membahas wisata Magelang tanpa mencicipi yang segar-segar. Es Murni Magelang menjadi pilihan tepat.
Berdiri sejak 1962 dan kini dikelola generasi kedua, Es Murni terkenal karena menggunakan bahan alami tanpa pengawet atau sirup instan. Semua sirup diracik sendiri.
Menu andalannya es campur segar berbasis buah sirsak tanpa santan atau susu. Rasanya asam-manis alami dan terasa ringan.
Ada pula es burjo (bubur kacang hijau) dengan tambahan peleret, sajian klasik yang digemari pelanggan usia dewasa.
Meski udara Magelang sejuk, es tetap menjadi favorit. Terutama saat hujan turun, sensasi menyantap es dengan udara dingin justru terasa unik.
Kota Kecil dengan Daya Tarik Besar
Secara geografis, Magelang berada di jalur strategis penghubung Semarang dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Meski menyandang predikat kota terkecil di Jawa Tengah, pesonanya tak bisa dianggap remeh.
Perpaduan destinasi unik seperti Gereja Ayam, kuliner legendaris, serta udara sejuk pegunungan menjadikan wisata Magelang layak masuk daftar liburan berikutnya.
Bagi yang ingin suasana tenang, pemandangan indah, sekaligus wisata rasa yang autentik, Magelang menawarkan paket lengkap dalam satu kota kecil yang memikat.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan