RADAR TRENGGALEK - Keraton Sumenep menjadi bukti bahwa Madura bukan hanya soal Jembatan Suramadu, sate, atau bebek goreng.
Di balik citra kulinernya, Pulau Garam menyimpan jejak sejarah panjang yang masih berdiri kokoh hingga kini.
Salah satunya adalah Keraton Sumenep, satu-satunya keraton yang masih bertahan di Provinsi Jawa Timur.
Keraton Sumenep menjadi destinasi wajib saat berkunjung ke ujung timur Madura. Kompleks bersejarah ini dibangun pada 1762 oleh Panembahan Sumolo dan menjadi pusat pemerintahan kerajaan hingga 1929.
Tiket masuknya terjangkau, Rp10 ribu per orang, dan pengunjung disarankan menggunakan jasa pemandu untuk memahami setiap sudut sejarahnya.
Satu-Satunya Keraton di Jawa Timur
Berbeda dengan daerah lain di Jawa Timur, hanya Kabupaten Sumenep yang memiliki keraton aktif secara historis.
Di dalam museum keraton, pengunjung bisa melihat berbagai peninggalan abad ke-18, mulai dari kereta hadiah dari Gubernur Inggris pada 1812, koleksi keramik dari Tiongkok dan Thailand abad ke-16, hingga Alquran tulisan tangan Sultan Abdurrahman yang konon diselesaikan dalam semalam pada 1811.
Pintu utama keraton yang dikenal sebagai Labeng Mesem atau “pintu senyum” juga menyimpan filosofi unik.
Dahulu, setiap tamu kerajaan disambut prajurit dengan senyuman di pintu tersebut. Hingga kini, pintu kayu asli itu masih berdiri kokoh.
Tak hanya bangunan utama, terdapat pula Taman Sare, bekas pemandian permaisuri dan putri kerajaan.
Menurut kepercayaan setempat, tiga pintu di area ini memiliki makna berbeda, mulai dari kemudahan jodoh hingga kelancaran karier.
Hubungan Erat dengan Sumenep dan Etnis Tionghoa
Menariknya, sejarah Keraton Sumenep tak lepas dari peran etnis Tionghoa. Arsitektur Masjid Agung dan sebagian bangunan keraton dirancang oleh arsitek keturunan Tionghoa bernama Lao Piango.
Masjid Agung Sumenep sendiri dikenal unik karena memadukan unsur arsitektur Tiongkok, Persia, Eropa, dan Jawa.
Gerbang depannya yang tebal disebut menyerupai Tembok Besar Tiongkok. Ornamen rantai melambangkan persatuan, sementara dua lubang di bagian atas gerbang dipercaya sebagai simbol pengawasan spiritual.
Jejak Lao Piango diyakini berada di kompleks pemakaman Tionghoa dekat Pasar Pamolokan.
Meski masih menjadi perdebatan karena perbedaan penulisan nama di batu nisan, makam tersebut memiliki rentang waktu yang sejajar dengan pembangunan keraton dan masjid.
Sejarah mencatat, leluhur Lao Piango diduga berasal dari Batavia dan Lasem sebelum akhirnya menetap di Sumenep.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Sumenep sejak dulu menjadi wilayah perdagangan terbuka dengan pelabuhan besar di Kalianget.
Kota Tua Kalianget dan Jejak Kolonial
Selain Keraton Sumenep, kawasan Kalianget juga menyimpan bangunan kolonial Belanda yang masih berdiri.
Dahulu, Kalianget menjadi pusat kota dan pelabuhan utama sebelum pemerintahan dipindahkan ke lokasi sekarang.
Hingga kini, sisa bangunan dengan bata merah khas kolonial masih dapat ditemukan di sekitar pelabuhan.
Secara administratif, Sumenep memiliki 126 pulau, meski hanya sekitar 48 yang berpenghuni.
Rencana perjalanan menuju Pulau Kangean dan Sepangkur kerap bergantung pada cuaca karena gelombang laut yang tinggi.
Madura Lebih dari Sekadar Kuliner
Meski dikenal dengan soto dan sate, kuliner khas Madura di Sumenep ternyata tak sebanyak bayangan wisatawan.
Soto babat dan bebek goreng tetap menjadi favorit, namun suasana kota cenderung tenang, bahkan terkesan sepi dibanding kota besar lain di Jawa Timur.
Sumenep menawarkan pengalaman berbeda. Perpaduan sejarah kerajaan, akulturasi budaya Tionghoa-Islam, hingga jejak kolonial yang masih terasa kuat.
Keraton Sumenep menjadi simbol bahwa Madura memiliki warisan budaya yang layak dieksplorasi lebih dalam.
Bagi wisatawan yang ingin memahami sisi lain Madura, mengunjungi Keraton Sumenep adalah langkah awal yang tepat.
Bukan hanya melihat bangunan tua, tetapi juga menyelami kisah pertemuan budaya yang membentuk identitas kota di ujung timur Pulau Garam ini.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan