RADAR TRENGGALEK - Wisata religi Madura menjadi magnet kuat bagi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.
Pulau yang dijuluki Pulau Garam ini bukan hanya dikenal lewat kuliner dan Jembatan Suramadu, tetapi juga karena jejak para wali dan ulama besar yang berperan dalam penyebaran Islam di Jawa Timur.
Setiap tahun, ribuan orang datang untuk mengikuti jejak dakwah para tokoh agama melalui wisata religi Madura.
Selain berziarah dan memanjatkan doa, pengunjung juga belajar sejarah perjuangan Islam yang mengakar kuat di tanah Madura.
Tradisi ziarah ke makam wali dan ulama ini bahkan semakin ramai saat Ramadan, Maulid Nabi, hingga momen libur panjang. Berikut delapan destinasi wisata religi Madura yang paling sering dikunjungi peziarah.
Makam Syikhona Kholil Bangkalan
Salah satu ikon wisata religi Madura adalah makam Syikhona Kholil di Desa Mertajasah, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan.
Ulama kharismatik bernama asli Raden Kiai Haji Kholil ini dikenal sebagai guru dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari.
Kompleks makam yang berada di area masjid tersebut hampir tak pernah sepi. Peziarah datang dari berbagai kota untuk mendoakan sekaligus mengenang jasa Mbah Kholil dalam pengembangan pendidikan Islam di Jawa Timur.
Makam Sunan Cendana
Berada di Desa Ketang, Kecamatan Kwanyar, Bangkalan, makam Sunan Cendana juga menjadi tujuan utama wisata religi Madura.
Sosoknya dikenal sebagai Syekh Zainal Abidin yang masih memiliki garis keturunan Wali Songo.
Gelar “Cendana” disematkan karena beliau dikenal membawa tongkat kayu cendana saat berdakwah.
Hingga kini, makam ini rutin didatangi peziarah yang ingin menelusuri sejarah dakwah Islam di Madura.
Makam Sultan Abdul Kadirun
Di belakang Masjid Agung Bangkalan, terdapat makam Sultan Abdul Kadirun atau Cakra Adiningrat II.
Ia merupakan raja Bangkalan kedua yang berjasa menyebarkan Islam sekaligus memperkuat pemerintahan berbasis nilai-nilai islami pada awal abad ke-19.
Saat Ramadan, kawasan makam ini dipadati peziarah yang memadukan ibadah dengan napak tilas sejarah kerajaan Islam di ujung barat Madura.
Makam Raden Jakandar
Makam Raden Jakandar atau yang dikenal sebagai Sunan Bangkalan terletak di Desa Ujung Piring, Bangkalan.
Ia disebut-sebut sebagai keturunan kerajaan Pajajaran dan memiliki hubungan keluarga dengan Sunan Gunung Jati serta Sunan Bonang.
Letak makam yang berada di pesisir pantai menambah nuansa sakral sekaligus eksotis.
Banyak peziarah memanfaatkan kunjungan ini untuk berdoa sekaligus menikmati suasana laut.
Makam Bujuk Sara
Tak jauh dari makam Syikhona Kholil, terdapat Makam Bujuk Sara di Kelurahan Mertajasah.
Di kompleks ini terdapat tiga makam utama, yakni Sayid Abdullah, Sayidah Siti Maisarah, dan Syekh Syarifuddin.
Lokasinya yang berdekatan membuat peziarah biasanya mengunjungi kedua tempat ini dalam satu rangkaian perjalanan wisata religi Madura.
Makam Sayid Husein Tanjung Bumi
Berada di Desa Banyuangkah, Kecamatan Tanjung Bumi, makam Sayid Husein dikenal luas dengan sebutan Bujuk Zimat. Ia diyakini sebagai keturunan Sunan Bonang dan cucu Sunan Ampel.
Kisah wafatnya yang disebut akibat kesalahpahaman dengan raja setempat menjadi bagian dari cerita turun-temurun masyarakat Bangkalan. Hingga kini, makam ini tetap ramai dikunjungi.
Pesarean Batu Ampar Pamekasan
Berbeda dari lokasi sebelumnya, Pesarean Batu Ampar berada di Desa Pangbatok, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.
Kompleks ini menjadi salah satu pusat wisata religi Madura terbesar karena terdapat beberapa makam aulia atau bujuk.
Di antaranya Syekh Abdul Manan, Syekh Basyaniah, Syekh Abu Syamsudin, dan lainnya.
Suasana religius terasa kuat karena hampir 24 jam terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para peziarah.
Makam Sayid Yusuf Talango
Destinasi terakhir berada di Pulau Talango, Kabupaten Sumenep. Untuk mencapai makam Sayid Yusuf, pengunjung harus menyeberang laut sekitar 11 kilometer dari Kota Sumenep menggunakan perahu.
Menurut cerita, makam ini ditemukan pada 1791 oleh Sri Sultan Abdurrahman Pakunatan.
Sejak itu, Makam Sayid Yusuf menjadi salah satu tujuan penting wisata religi Madura di wilayah timur.
Spiritualitas dan Sejarah dalam Satu Perjalanan
Keberadaan makam para wali dan ulama tersebut menunjukkan kuatnya tradisi Islam di Madura.
Wisata religi Madura bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga sarana memahami sejarah dakwah dan peran tokoh-tokoh besar dalam membentuk identitas masyarakat setempat.
Bagi masyarakat Jawa Timur dan luar daerah, ziarah ke Madura menjadi pengalaman batin yang mendalam.
Pulau Garam pun terus meneguhkan diri sebagai salah satu pusat wisata religi yang tak pernah kehilangan pesonanya.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan